Tunuha, Tradisi Orang Muna Mensyukuri Hasil Panen

Tunuha, Tradisi Orang Muna Mensyukuri Hasil Panen

Kalian pasti pernah dengar kata Tunuha kan. Tunuha (bahasa Muna) artinya “bakar-bakar” merupakan salah satu tradisi yang ada di kabupaten Muna. Tunuha ialah tradisi persembahan tradisional petani Muna sebagai wujud ungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta, yang telah memberikan hasil tanam yang melimpah dan memohon rezeki agar usaha taninya diberi hasil yang melimpah serta dijauhkan dari malapetaka.

Nah, ritual Tunuha sendiri dimulai dengan menyiapkan berbagai bahan. Bahan utama yang digunakan adalah singkong yang baru saja dipanen. Saat pagi hari, kaum laki-laki sibuk menyiapkan bahan seperti bambu, daun jati sebagai penutup bambu, kayu untuk membakar batu. Selain itu juga menyiapkan lubang di tanah berukuran sekitar lima meter persegi untuk kebutuhan tradisi Tunuha ini.

Sementara kaum perempuan berkumpul dan memarut singkong hingga halus. Singkong yang sudah diparut dicampur dengan gula merah kemudian dimasukkan ke dalam setiap potongan bambu. Tak hanya itu, daun-daun dari pepohonan disekitar perkampungan juga dikumpulkan dan dibersihkan untuk digunakan sebagai penutup bambu setelah diisi dengan singkong yang sudah diparut. Bambu singkong inipun siap dimasukan dalam lubang panas yang sudah disiapkan.

Saat malam hari semua warga berdatangan beramai-ramai sambil membawa bambu singkong berkumpul di lapangan dekat  lubang  panas yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tradisi tunuha pun dimulai. Bambu singkong satu persatu diturunkan ke dalam lubang panas dan kemudian ditimbun dengan bara batu dan tanah yang sudah dibakar terdahulu. Agar panas bara api tidak cepat hilang, bara batu ditutup lagi dengan dedaunan dan ditimbun dengan tanah.

Prosesi tunuha dilanjutkan melakukan tarian modero, dimana  kaum laki-laki dan perempuan membentuk lingkaran mengelilingi lubang tunuha sambil melakukan balas pantun yang diiringi irama dan gerakan badan yang saling berpegangan antara satu sama lain. Balas pantun ini juga dimaknai sebagai ajang untuk saling memperlihatkan tingkah laku yang beretika dan saling menghargai, utamanya antara kaum laki- laki dan perempuan. Menarik ya!

Keesokan harinya, lubang yang berisi singkong bambu digali beramai-ramai oleh warga. Seluruh singkong bambu dikeluarkan masih dalam kedaan utuh. Singkong bambu ini kemudian disantap bersama. Dan yang paling unik dari singkong bambu ini adalah aroma dan cita rasa yang khas memberikan kenikmatan tersendiri.

Selain sebagai wujud rasa syukur kepada sang Khalik, tradisi tunuha ini digelar sebagai bentuk untuk melestarikan ritual budaya yang hampir punah di kalangan petani Muna. Wah menarik sekali ya selain melestarikan budaya, tradisi ini juga bisa dijadikan sebagai penarik wisatawan loh. Keren ya, semoga tradisi tunuha ini terus dilestarikan dan tak tergerus oleh zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *