Tradisi Haroa, Tradisi Religius Masyarakat Muna
Foto : Menu makanan dalam Acara Haroa, by Laode Arman Latif/MUNABANGKIT.COM

Tradisi Haroa, Tradisi Religius Masyarakat Muna

Tradisi haroa atau dalam masyarakat Muna sering menyebutnya “baca-baca” merupakan tradisi religius masyarakat Muna yang telah dipraktekkan sejak lama. Konon katanya, tradisi ini diperkenalkan pertama kali saat Kerajaan Wuna dipimpin oleh Raja Muna yang bernama La Ode Abdul Rahman (Sangia Latugho). Sangia Latugho mendapatkan ajaran Islam dari Saidi Rabba seorang Arab yang menyebarkan Islam di Muna.

Tradisi Haroa biasanya dilaksanakan dalam rangka peringatan hari-hari besar agama Islam, acara syukuran, acara selamatan, bahkan juga pada acara peringatan wafatnya anggota keluarga. Dalam tradisi ini, semua anggota keluarga berkumpul bersama di rumah shohibul hajat. Haroa atau “baca-baca” dalam memperingati hari besar agama Islam antara lain berupa peringatan bulan Sa’ban (Nisfu Sa’ban atau basaisifu dalam bahasa Muna) yang dilaksanakan pada pertengahan bulan Sa’ban, Peringatan Isra’ Mi’raj (Radhabu, 27 Rajab), Awal Puasa (Tembaha Wula, 1 Ramadhan), Peringatan Nuzul Qur’an (Qunu, pertengahan Ramadhan, Peringatan Lailatul Qadar (Qadhiri, 27 Ramadhan), Lebaran (Roraeaha, 1 Syawal dan 10 Zulhijah) dan peringatan keagamaan lainnya.

Acara “baca-baca” dilaksanakan di samping dalam rangka peringatan hari-hari besar Islam, juga dilaksanakan ketika panen, aqiqah (kampua), pengislaman anak (kangkilo/katoba), selamatan rumah baru, pernikahan, ketika seorang anggota keluarga akan pergi di luar kampung halaman untuk pertama kalinya. Juga tradisi haroa dilaksanakan dalam rangka peringatan kematian anggota keluarga (hari ke tiga (itolu) ketujuh(ifitu), ke-40, ke-100 dan ke-1000).

Haroa ini dipimpin oleh seorang pemimpin agama yang ada di desa, seperti modin (modhi), khatib (hatibi) atau imam (imamu). Pada acara ini seorang pemuka agama  mengawalinya dengan membaca syahadat dan istighfar, kemudian membaca beberapa ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir masing-masing sebanyak 100 kali. Setelah itu dilanjutkan  membaca doa selamat, doa tolak bala, doa kemudahan rezeki, dan doa pengampunan dosa untuk anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Prosesi “baca-baca” ini diakhiri dengan menjabat tangan pemuka agama, lalu saling berjabat tangan dengan semua anggota keluarga yang hadir. Setelah itu dilanjutkan dengan makan bersama. Pada menu makanan, ada makanan yang wajib dan selalu tersedia yang merupakan makanan khas Muna seperti lapa-lapa, ayam, wajik, cucur dan sirkaya ditambah dengan jenis makanan lainnya.

Sebelum acara “baca-baca” dimulai, pemuka agama akan bertanya kepada shohibul hajat mengenai maksud diadakannya acara “baca-baca” ini. Selanjutnya sang pemuka agama memulai acara dengan terlebih dahulu meminta izin untuk memulainya kepada hadirin, yang dimulai dari shohibul hajat yang dilanjutkan kepada yang hadir. Biasanya dimulai dari yang lebih tua atau dituakan dalam keluarga.

Acara-acara haroa yang sering dilaksanakan dalam masyarakat Muna bermanfaat dalam rangka untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, mempererat tali persaudaraan dan tradisi berbagi kebahagiaan. Tradisi haroa merupakan tradisi yang selalu dikenang oleh masyarakat Muna di perantauan, karena dengan tradisi ini seluruh anggota keluarga dapat berkumpul dan bercengkerama. Hal ini dirasakan penting untuk dilestarikan mengingat saat ini kesempatan untuk berkumpul bersama anggota keluarga lain sangat sulit di tengah kesibukan masing-masing anggota keluarga.

Tradisi Haroa hanyalah satu dari sekian banyak kearifan lokal yang terdapat dalam masyarakat Muna. Jika Anda berkunjung ke kabupaten Muna, masih banyak tradisi-tradisi bernuansa Islami yang dapat Anda jumpai, seperti Kampua, Kangkilo, Katoba, Karia, Kasambu, dan tradisi bernuansa Islam lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *