Teknik Guludan, Keberlanjutan Potensi Ekowisata Mangrove di Muna
Foto : Dirjen PKP, Kementrian Desa mengunjungi Muna, PPID Humas Muna

Teknik Guludan, Keberlanjutan Potensi Ekowisata Mangrove di Muna

Hutan mangrove yang terbentang sepanjang pesisir pantai Pulau Muna memiliki keragaman jenis yang sangat unik. Hutan mangrove juga memiliki nilai estetika tinggi sehingga sangat potensial dikembangkan menjadi destinasi ekowisata. Meski mangrove di daerah ini setiap tahun luasannya semakin berkurang, namun kondisi ini bisa ditanami ulang dengan menggunakan teknik guludan.

Potensi alami hutan mangrove di Pulau Muna dapat menjadi wisata alternatif bagi pengunjung yang menginginkan nuansa lain dalam berwisata pesisir. Lokasi mangrove yang memiliki lanskap dan nilai estetika tinggi berpotensi sebagai destinasi ekowisata selain wisata alam lain yang sudah dikenal.

Ekosistem mangrove yang terdapat di kawasan tersebut terdiri dari Aegiceras corniculatum, Aegiceras floridum, Avicennia marina, Avicennia alba, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguirea sexangula, Ceriops tagal, Ceriops decandra, Rhizophora apiculata, Rhizopora mucronata, Rhizophora stylosa dan Sonneratia alba dan jenis lainnya. Berbagai jenis mangrove tersebut dapat dijadikan sebagai sarana peningkatan pengetahuan dan konservasi mangrove melalui kegiatan ekowisata.

Menurut Weaver 2001, ekowisata sebagai suatu bentuk wisata yang menekankan tanggung jawab terhadap kelestarian alam, memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat setempat. Bahkan dalam berbagai aspek, ekowisata pesisir dan laut merupakan bentuk wisata yang mengarah ke metatourism. Artinya, ekowisata pesisir dan laut tidak menjual tujuan atau objek, tetapi menjual filosofi dan rasa. Dari aspek inilah ekowisata tidak akan mengalami kejenuhan pasar.

Teknik Guludan

Lalu apa kaitanya ekowisata dengan teknik guludan? Pengembangan destinasi ekowisata dapat menjaga keberlanjutan di areal mangrove yang masih tumbuh secara alami, sementara teknik guludan dapat digunakan untuk merehabilitasi areal mangrove yang rusak maupun yang sudah punah.

Pusat Informasi DKP Muna melaporkan bahwa saat ini luas hutan mangrove adalah sebesar 8643.768 Ha dan terjadi kerusakan mangrove setiap tahun sekitar 134.68 Ha. Sementara Dinas Kehutanan Kabupaten Muna meperkirakan telah terjadi penurunan luas mangrove di Kabupaten Muna kurang lebih 200-400 ha setiap tahun. Penyebab kritisnya hutan mangrove ini adalah akibat pembuatan tambak secara illegal dan penebangan untuk keperluan lainnya.

Foto : Mangrove di Pesisir Jakarta

Padahal ekosistem mangrove berfungsi penting sebagai jasa lingkungan yakni pengendali abrasi, intrusi, barrier terhadap gelombang laut/badai dan angin topan, penyerap CO2 dan penghasil oksigen. Bahkan mangrove juga berperan sebagai habitat berbagai jenis fauna, seperti feeding ground, nursery ground, spawning ground untuk berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting.

Oleh karena itu, ekosistem mangrove yang rusak harus direhabilitasi. Salah satu kendala dalam melakukan rehabilitasi lahan di kawasan mangrove adalah dalamnya genangan air karena bibit mangrove yang ditanam tidak akan dapat hidup kalau secara permanen terendam air tanpa adanya proses bebas dari genangan pada saat surut. Sehubungan dengan hal tersebut, Profesor Cecep Kusmana dalam penelitiannya secara empirik menunjukkan bahwa teknik guludan sudah terbukti secara efektif dapat mengatasi kendala penanaman mangrove pada lahan-lahan yang tergenang air yang kedalamannya bahkan melebihi dari 1 meter. Hal ini sudah dilakukan di kawasan pesisir Angke Kapuk, Jakarta Utara dan daerah lainnya.

Keberhasilan penerapan teknik guludan di Angke Kapuk, Jakarta Utara dan sejumlah daerah lain diharapkan dapat menjadi referensi untuk diterapkan di lokasi lain. Sudah banyak program rehabilitasi mangrove telah dilakukan di berbagai daerah, namun banyak menuai kegagalan. Hal ini diduga karena pemilihan jenis bibit mangrove yang kurang tepat, karena jenis bibit dan kondisi tanah merupakan faktor yang sangat menentukan di dalam keberhasilan penanaman mangrove.

Oleh karena itu, agar rehabilitasi lahan mangrove dapat berhasil, perlu dilakukan sosialisasi penggunaan Teknik Guludan bagi masyarakat pesisir maupun instansi terkait. Dengan demikian, cita-cita merehabilitasi lahan mangrove untuk kelestarian lingkungan dan sebagai salah satu destinasi wisata dapat segera tercapai.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *