Sekali Lagi tentang Desa Wisata (3) – Wisatapolitan?
Foto : Wisata Kebun Kopi, Banyuwangi

Sekali Lagi tentang Desa Wisata (3) – Wisatapolitan?

Perkembanga Desa Wisata tidak bisa lepas dari destinasi wisata utama yang berkembang lebih dahulu.  Tumbuhnya desa wisata di banyak tempat biasanya tidak jauh-jauh dari destinasi utama yang sudah ada dan berkembang lebih maju sebelumnya.  Seperti terlihat di Desa Gombengsari, Kabupaten Banyuwangi dan beberapa desa di Kabupaten Magelang yang berada di sekeliling Candi Borobudur. Konsep integrasi Desa Wisata dengan Destinasi Wisata Utama menjadi relevan dibangun dalam upaya mendistribusikan nilai ekonomi yang terbentuk dari kunjungan wisatawan.

 Wisatapolitan

Pertumbuhan sebuah kawasan wisata utama dan kemunculan desa wisata di sekelilingnya akan menjadikan kawasan tumbuh sebagai pusat aktivitas wisata terintegrasi.  Aktivitas pariwisata akan menjadi penggerak moda transportasi, tumbuhnya kuliner, penginapan, bisnis cinderamata dan sektor ekonomi informal.  Setiap destinasi wisata didukung oleh obyek wisata yang khas dan berbeda satu dengan lainnya tetapi saling melengkapi.  Konsep terintegrasi dalam pembangunan wisata seperti ini dapat memicu tumbuhnya pusat-pusat aktivitas baru di sekitar destinasi wisata utama.  Bahkan desa bisa jadi akan berubah menjadi “kota” jika dilihat dari akivitas ekonomi yang berkembang di dalamnya.  Masing-masing desa dalam satu kecamatan yang sama atau berbeda kecamatan akan tumbuh menjadi kawasan wisata yang saling terpadu dan saling mengisi.

Kita pernah mengenal konsep Agropolitan, Minapolitan maupun Metropolitan. Konsep-konsep itu merupakan model-model pembangunan ekonomi yang menitikberatkan pada aktivitas sektor tertentu seperti pertanian, peternakan, perikanan dan perkotaan, yang dibangun dengan menggunakan prinsip-prinsip integrasi satu kawasan dengan kawasan lain, efektif, efisien, ada percepatan dan kesinambungan satu bisnis dengan bisnis di kawasan lainnya.  Dalam konsep seperti ini biasanya terdapat daerah inti (core) dan daerah satelit (hinterland).  Hal yang sama, bisa saja kita sebut “Wisatapolitan” untuk menandai adanya model pembangunan ekonomi dengan titik berat pada sektor pariwisata berbasis kawasan yang dilaksanakan dengan prinsip-prinsip terintegrasi, efektif, berkualitas dan berkesinambungan.  Perkembangan desa wisata yang berada di sekeliling destinasi utama wisata dapat menggambarkan secara sederhana konsep wisatapolitan ini.  Meski tentu saja, membutuhkan kajian lebih lanjut, untuk mendefinisikan sebuah kawasan tersebut berkembang dan saling mendukung dengan kawasan lainnya.  Mari kita lihat beberapa contoh desa wisata yang berkembang di sekitar destinasi wisata utama.

Desa Gombengsari, Banyuwangi ; Wisata Kebun Kopi dan Peternakan Etawa

Masyarakat Desa Gombengsari menawarkan paket wisata kebun kopi dan peternakan kambing etawa.  Wisata kebun kopi dibandrol Rp 70.000 dengan atraksi wisata berupa jalan-jalan ke kebun kopi, memproses kopi hingga siap diminum dan makan siang dengan menu khusus nasi jagung atau nasi putih dengan sayur kelor.  Setiap wisatawan akan mendapatkan hidangan kopi yang sudah diprosesnya sendiri bahkan bisa juga dibawa pulang.  Sejak dibuka 8 bulan yang lalu, kebun kopi ini sudah dibanjiri ratusan pengunjung setiap bulannya.

Selain kebun kopi, pengelola desa wisata juga menawarkan paket wisata peternakan kambing etawa.  Tarif masuk ke peternakan Rp 50.000 dan pengunjung bisa melihat bagaimana proses pemeliharaan dan memeras susu.  Paket wisata ini menarik untuk edukasi anak-anak atau bagi yang berminat mengembangkan bisnis peternakan etawa.

Geliat desa wisata di Banyuwangi tumbuh bak cendawan di musim hujan.  Selain di Gombengsari, desa wisata yang tidak kalah indahnya dapat juga dilihat di Desa Bangsiring.  Desa wisata di Desa Bangsiring dikelola oleh Kelompok masyarakat yang menyajikan panorama pantai Bangsiring dan wisata bawah air.  Tarifnya relatif murah, hanya dengan Rp 30.000, kita bisa menyewa alat snorkling dan menikmati taman bawah laut yang indah di pantai Bangsiring.

Berkembangnya Desa Wisata di Banyuwangi tidak terlepas dari adanya destinasi wisata utama yang sebelumnya sudah berjalan dan mapan. Destinasi wisata Gunung Ijen, Raung, Selat Bali dan beberapa festival yang digelar Pemda Banyuwangi, selama ini sudah dikenal luas sampai ke mancanegara.  Kebangkita desa wisata bisa dijadikan satu paket perjalanan dengan destinasi wisata utama yang sudah lebih lama berkembang.  Konsep integrasi wisata seperti inilah yang memungkinkan desa-desa wisata dapat tumbuh berkembang.

Desa Wisata Daerah Lain

Perkembangan desa wisata di daerah lain juga terlihat seperti di Bantul, Klaten dan Magelang.  Di Bantul, kita bisa menikmati wisata alam “Watu Lawang dan Bukit Punguk Kediwung” di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo.  Di Kulon Progo, kita bisa menikmati “wisata alam kalibaru” di Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap.  Di Gunung Kidul, kita bisa menikmati “Gunung Ngelanggeran dan Waduk”.  Dan di Klaten, kita bisa menikmati ” di Kecamatan Polanharjo.  Bahkan di Magelang, di sekitar Candi Borobudur, terdapat 11 desa di sekelilingnya yang menawarkan obyek wisata dengan beragam aktivitas yang berbeda.

Obyek wisata alam Watu Lawang dan Bukit Punguk Kediwung, Kalibaru dan Umbul Pongok, menawarkan keindahan alam untuk “Swafoto”. Di Watu Lawang dan Bukit Panguk Kediwung contohnya, pengunjung cukup membayar tarif parkir sepeda motor Rp 3.000 atau mobil Rp 7.000, pengunjung sudah bisa menikmati lokasi wisata dan memilih area berfoto.  Demikian halnya di Kalibaru, untuk memasuki wilayah wisata alam tersebut, pengunjung cukup mengeluarkan Rp 5.000 di hari biasa dan Rp 10.000 pada akhir pekan/hari libur.  Pengunjung dapat membayar Rp 10.000-15.000 untuk berfoto.  Jika menggunakan jasa fotografer, pengelola sudah menyediakan dengan cukup membayar Rp 5.500 untuk satu file foto.  Dengan kondisi seperti ini, Kalibaru berhasil menyedot pengunjung tidak kurang 500-800 orang per hari.  Pada hari libur bisa mencapai 1000-2500 pengunjung per hari.  Bayangkan, ekonomi kreatif yang tumbuh di Desa dengan putaran uang ratusan juta per bulan bisa warga desa nikmati untuk pengelola, warga desa dan pembangunan desa.  Harusnya dengan jumlah seperti ini, warga desa tidak perlu dihantui oleh kemiskinan dan kesenjangan ekonomi.  Desa wisata harus mampu dikelola dengan baik dan mengalir bukan hanya untuk segelintir orang pengelola, tetapi juga berdampak luas pada warga desa lainnya dan khususnya pembangunan desa itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *