Sekali Lagi Tentang Desa Wisata (2) : Menggapai Berkah Alam, Mengejar Ketertinggalan
Foto : Goa Pindul, Gunungkidul Yogyakarta, by initempatwisata.com

Sekali Lagi Tentang Desa Wisata (2) : Menggapai Berkah Alam, Mengejar Ketertinggalan

Trend pariwisata saat ini lebih mengedepankan wisata alami atau kembali ke alam (back to nature).  Tourisme tidak lagi didominasi oleh mass tourism atau pariwisata yang sudah mapan.  Semangat tourisme saat ini sudah mulai mengalir ke pelosok desa.  Momentum melemahnya ekonomi global dan nasional, mendorong pemerintah menjadikan sektor pariwisata sebagai prioritas pembangunan.  Momentum kebangkitan pariwisata tersebut dimanfaatkan oleh warga desa yang terlihat jengah dengan industri wisata artificial atau wisata yang digerakkan oleh korporasi besar.  Karena banyak dari warga desa yang tidak mendapatkan manfaat kesejahteraan dari adanya wisata-wisata utama yang sudah establish ini.

Desa wisata menjadi pilihan strategi melawan hegemoni kekuatan ekonomi perkotaan yang cenderung bergerak dengan logika liberalisme dan pasar bebas.  Warga mulai berbenah membangun desanya menjadi elok dan layak dikunjungi. Perkembangan desa wisata ini mulai banyak berkembang di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan beberapa daerah lainnya. Era perkembangan sistem informasi dan media sosial (medsos) memungkinkan “permata-permata” desa tersebut dikenal luas keindahannya. Tinggal dipoles sedikit, maka permata-permata desa tersebut mengkilau dan indah dipandang.  Seraya bersahabat dengan alam pedesaan, berkah alam diharapkan mampu menjawab persoalan kemiskinan, ketimpangan dan ketertinggalan yang dialami desa. Berikut contoh beberapa pengalaman pengelolaan desa wisata di beberapa daerah untuk bisa menjadi pembelajaran dalam membangun desa wisata baru.

Desa Panusupan, Kabupaten Purbalingga ; Pesona Jembatan Cinta Pringwulung

Desa wisata ini menawarkan atraksi swafoto dalam bentuk jembatan cinta.  Hamparan sawah yang indah dan menghijau, titian bambu yang berdiri di atas sawah membawa wisatawan menyusuri terasiring ke jembatan berbentuk daun waru.  Lokasi “Jembatan Cinta Pringwulung” di Desa Panusupan ini mulai dikenal masyarakat ketika ada yang mengunggahnya ke media sosial.  Meski jaraknya sekitar 8 kilometer dari puat kota Purbalingga, tidak menyurutkan pengunjung untuk mendatanginya. Sedikitnya ada 8 (delapan) lokasi yang dikembagkan menjadi obyek wisata di desa wisata ini.

Destinasi wisata Jembatan cinta Pringwulung ini dilengkapi dengan fasilitas dasar seperti  toilet, areal parkir, musholla, kantin, gazebo, dan gardu pandang.  Lokasi wisata ini menurut pengelolanya (warga setempat) dibangun di atas tanah desa seluas 2 Ha melalui gotong-royong warga pada April 2016 lalu (kompas, 9/03/2017).  Warga bahu membahu membangun lokasi wisata ini dengan memberikan investasinya mulai dari Rp 500.000 sampai Rp 10 juta per keluarga.  Awal menghimpun dana, terkumpul sampai Rp 99 juta.

Kenapa jembatan Cinta ? warga memaknainya secara filosofis sebagai bentuk kecintaan warga desa terhadap alam dan Indonesia.  Atraksi wisata yang disajikan di desa ini adalah swafoto di jembatan cinta pringwulung.  Selain itu, pengelola juga memberikan paket wisata edukasi pertanian bagi anak-anak. Pengunjung diajak menanam padi dan jagung dan menangkap belut di kolam.  Pengunjung dapat juga memanfaatkan rumah penduduk yang sudah disulap sebagai home stay.  Sebanyak 21 rumah warga dijadikan sebagai home stay.  Warga dilatih menata kamar, menjaga kebersihan dan menyambut tamu.

Keindahan sawah dan keasrian pemandangan khas perdesaan mendorong desa ini dikunjungi banyak orang.  Pengunjung ke desa ini dapat mencapai 10.000 orang per bulan dengan perputaran uang sekitar Rp 300 juta.  Dari 2.600 keluarga di desa itu, 20 persen di antaranya ikut mengelola wisata.  Kini, ketika desa wisata ini berkembang, mulai ada secercah ruang kehidupan baru.  Ekonomi masyarakat lokal mulai tumbuh, optimisme semakin bangkit dan bahkan mereka berani mentargetkan tiap rumah ada satu orang lulus sarjana.  Sejak dibangun April 2016 lalu, desa wisata ini terasa betul dampak positifnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Desa Kalilunjar, Banjarmangu, Banjarnegara ; Pesona Bukit Asmara Situk

Meski berjarak jauh dari pusat kota Banjarnegara, tidak menyurutkan warga Desa Kalilunjur untuk mengembangkan desa wisata “Bukit Asmara Situk”. Kondisi alam pedesaan yang asri dan pegunungan yang sejuk, menjadi modal utama warga dalam mengemas obyek wisata. Masyarakat menyajikan atraksi wisata yang beragam dan unik.  Konsep treetop, yaitu jembatan antar pohon, ditawarkan sebagai lokasi eksotik untuk selfie dan swafoto di atas ketinggian.  Konsep treetop menggeser kebiasaan swafoto yang biasanya di atas batu, pantai atau taman.

Desa wisata ini dibangun secara gotong-royong sejak akhir tahun 2015.  Jumlah pengunjung sekitar 5.000 orang per bulan dengan putaran uang Rp 30 juta – Rp 50 juta.  Bahkan di tahun 2016, pemasukannya mencapai Rp 927 juta. Dengan jumlah putaran uang seperti ini, warga desa Kalilunjur semakin semangat mengembangkan desa wisata karena upaya yang mereka lakukan sejak 2015 yang lalu mulai berbuah manis bagi kesejahteraan warga dan desa.

Desa  Ketenger, Baturaden, Banyumas ; Mengandalkan Pesona Curug

Selama puluhan tahun rekreasi alam Baturaden berdiri, warga desa Ketenger merasa tidak mendapatkan banyak manfaat.  Berjarak tidak lebih dari 2 km dari rekreasi alam Baturaden, warga Desa Ketenger mulai membenahi desanya menjadi obyek wisata yang menarik.  Degan menggandeng Perum Perhutani, mereka mengembangkan wisata alam dengan obyek wisata primadonanya berupa Curug Jenggala.  Obyek wisata yang unik dari desa wisata yang satu ini adalah dek cinta –sebuah papan berbentuk cinta- yang bisa digunakan untuk swafoto dengan latar belakang empat curug (air terjun) yang mengalir deras.

Tidak kurang dari 10.000-13.000 pengunjung setiap bulannya mendatangi desa wisata ini.  Pemasukan per bulan yang masuk ke pengelola mencapai Rp 50 juta-67 juta.  Sebanyak 30 orang masyarakat terlibat sebagai pengelola dengan upah sekitar Rp 1 – 1,5 juta per bulan.

Geliat desa wisata di Desa Ketenger, bukan hanya berdampak pada warganya tetapi bahkan juga menginspirasi warga desa untuk mengembangkan obyek wisata yang sifatnya individu.  Di desa Ketenger ini, berkembang obyek wisata perorangan seperti Taman Miniatur Dunia (small World).  DI dalam taman ini, dibangun miniatur ikon negara-negara seperti menara Eiffel paris, Paramida suku Maya dan ikon imperium peradaban dunia lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *