Rusman Emba Menjadi Pemimpin Transformatif

Rusman Emba Menjadi Pemimpin Transformatif

Rusman Emba memang baru terpilih sebagai Bupati Muna periode 2016-2021. Umur pemerintahannya baru seumur jagung. Meski demikian, dalam 100 hari pemeritahannya terlihat adanya visi yang kuat dan keinginannya untuk memperbaiki kondisi Muna menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dalam memerintah, Rusman terlihat banyak memberikan contoh dan keteladanan dibandingkan sekedar memberikan perintah. Gaya kepemimpinannya mengingatkan kita pada sosok pemimpin daerah yang lain seperti Tri Rismaharini, sang walikota Surabaya. Risma dikenal sebagai pemimpin transformatif. Sebagaimana Risma, Rusman Emba juga menunjukkan karakter seorang pemimpin bergaya transformatif.

Secara konseptual, kepemimpinan transformatif didefinisikan (Bass, 1985 : 140), sebagai kemampuan pemimpin mengubah kerja, motivasi kerja dan nilai-nilai kerja yang dipersepsikan bawahan sehingga mereka lebih mampu mengoptimalkan kinerja untuk mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan transformasional dapat juga dikatakan sebagai kemampuan pemimpin untuk merubah dan menggantikan budaya yang lama dengan budaya yang baru dan lebih baik.

Salah satu dimensi dari kepemimpinan transformasional adalah individual influence. Dalam dimensi ini, pemimpin merupakan tokoh utama yang mempengaruhi dan mewarnai karakter utama dari pemerintahan yang ada. Pemimpin menunjukkan standar tinggi dan tingkah laku moral dan etika, serta menggunakan kemampuan untuk menggerakkan individu maupun kelompok terhadap pencapaian misi mereka dan bukan untuk nilai perorangan. Merunut pengertian di atas, sejalan dengan apa yang dilakukan Rusman Emba, ketika ia menerapkan berbagai aturan-aturan khusus bagi para birokrat di Kabupaten Muna tentang pelayanan yang harus dilakukan kepada masyarakat, reward dan sangsi yang diberikan. Standard pelayanan publik yang prima, akuntable dan cepat, menjadi tujuan dari bangunan birokrasi yang diinginkan oleh Rusman. Visi itu dapat dilihat pada langkah awalnya dalam menata para pedagang kaki lima dengan melakukan dialog terlebih dahulu. Pendekatan persuasif dan kemanusiaan ini menjadikan pedagang dengan sukarela membongkar lapaknya dan bersedia untuk mengikuti apa yang sudah direncanakan oleh Pemda Muna. Model pendekatan persuasif seperti ini menjadi penciri kuat dari sebuah kepemimpinan transformasional.

Dimensi kepemimpinan transformasional lainnya yakni, inspirational motivation. Pemimpin memberikan arti dan tantangan bagi pengikut dengan maksud menaikkan semangat dan harapan, menyebarkan visi, komitmen pada tujuan dan dukungan tim. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dilakukan oleh Rusman Emba di awal-awal pemerintahannya. Pada pergantian tahun baru 2017, Pemda Muna merayakan pergantian tahun baru dengan rangkaian kegiatan meliputi dzikir bersama, peresmian masjid, pagelaran musik tradisional, peragaan teatrical music Lakilaponto dan penataan lokasi pedagang yang kemudian dijadikan sebagai lokasi pergantian tahun baru. Acara pergantian tahun baru yang meriah dan dimeriahkan dengan berbagai acara yang mencirikan adanya kebangkitan agama, budaya, ekonomi, dan pelayanan publik yang sebelumnya belum pernah dilakukan semeriah saat ini. Hal ini mengindikasikan bahwa cara Rusman menggerakkan roda pemerintahannya dan mengawali pembangunan di Muna, memberikan harapan dan semangat baru bagi masyarakat Muna. Rusman dapat dikatakan sebagai pemimpin yang memberikan inspirasi dan memotivasi rakyatnya.

Dimensi kepemimpinan transformasional lainnya adalah intelectual stimulation, yakni pimpinan transformasional menciptakan rancangan dan berpikir inovatif bagi pengikut melalui asumsi-asumsi pertanyaan, merancang kembali masalah, menggunakan pendekatan pada situasi lampau melalui cara yang baru. Meski belum lama memerintah, tetapi beberapa rangkaian program yang sudah dilakukan oleh Rusman beserta birokrasi Pemda Muna. Beberapa contoh program menunjukkan ke arah tersebut, seperti adanya program kampung KB, upaya menyelesaikan proyek-proyek yang mangkrak seperti pembangunan masjid Al-Munajat yang sudah 7 (tujuh) tahun mangkrak dan baru diresmikan saat pergantian tahun 2016 kemaren, rencana pembangunan perguruan tinggi baru di Muna, rencana memanfaatkan kembali Rumah Sakit Umum Muna yang saat ini pembangunannya mangkrak, serta penguatan nilai-nilai budaya lokal melalui pelaksanaan acara-acara tari dan musik tradisional pada setiap peresmian kegiatan yang dilakukan oleh Bupati Muna. Progam-program ini mengindikasikan adanya intelectual stimulation yang dilakukan oleh Pemda Muna, tentu dengan Rusman Emba sebagai pemimpin barunya yang bersanding dengan Malik Ditu, Wakil Bupati yang sangat berpengalaman di birokrasi.

Melihat program-program awal yang sudah dilakukan oleh Rusman Emba dan Malik Ditu serta pemda Muna, sepertinya model kepemimpinan transformasional, cukup tepat disematkan padanya. Meskipun baru memimpin, setidaknya pola kepemimpinan transformasional menjadi orientasi dari gaya kepemimpinan Rusman ke depan. Gaya kepemimpinan transformasional merupakan ciri kepemimpinan yang mampu merubah kondisi lebih baik dari sebelumnya, mampu mentransformasikan kekuatan individual Bupati, birokrasi dan masyarakatnya bagi masa depan daerahnya ke arah yang lebih baik. Kepemimpinan transformasional mengindikasikan gerak dinamis seorang pemimpin dalam mendobrak stagnasi birokrasi dan budaya masyarakat, dari kultur yang statis menjadi dinamis, menjadi lebih kreatif dan inovatif. Gaya kepemimpian transformasional merupakan model kepemimpinan yang diharapkan rakyat. Jika model kepemimpinan transformasional ini semakin menguat dan terimplementasi dalam kebijakan dan program yang dijalankan oleh Rusman dan birokrasi Pemda Muna, maka visi menjadikan Muna kuat, mandiri dan bermartabat, bukan hanya sebatas isapan jempol belaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *