Rehabilitasi Bio-Infrastruktur Pesisir Pulau Muna

Rehabilitasi Bio-Infrastruktur Pesisir Pulau Muna

Kawasan pulau Muna terdiri dari pantai berpasir, berlumpur dan berbatu. Tipologi pantai yang demikian, mempengaruhi habitat flora dan fauna yang mendiaminya. Pantai berpasir sangat banyak didiami kerang-kerangan, bivalva, tenaman kelapa dan di depannya biasanya terdapat ekosistem terumbu karang. Sementara, pantai berlumpur banyak ditumbuhi mangrove yang berperan sebagai habitat kepiting, udang dan ikan. Karena, memanfaatkan serasah yang bersumber dari hutan mangrove. Sayangnya, ekosistem mengrove maupun terumbu karang di pesisir pantai pulau Muna sudah terdegradasi.  Terakhir, pantai berbatu tidak hanya ditumbuhi tanaman-tanaman rumput dan lebih dominan batu barang maupun cadas yang kemiringan 45 – 60 derajat.  Kerusakan ekosistem pesisir pulau Muna ini sudah berangsung sejak tahun 1980-an terutama pengambilan pasir pantai, dan terumbu karang untuk bahan bangunan, penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan sehingga menghancurkan karang  dan penebangan mangrove sebagai kayu bakar dan  arang.  Kerusakan ekosistem yang sudah berlangsung tidak dekade terakhir baru terasa dampaknya. Rakyat Muna kian sulit mendapatkan kepiting, udang laut dan juga ikan secara mudah jika hendak melakukan penangkapan di laut. Inilah yang penting dilakukan agar rehabilitasi bio-infrastruktur pesisir Muna bisa dilakukan untuk memulihkan kondisi ekosistem dan ekologi pesisir pantai Pulau Muna. Akibatnya, metabolisme alam di pesisir Pulau Muna akan pulih disertai makin meningkatnya kelimpahan flora dan fauna.

Bio-Infrastruktur

Bila pemerintahan Jokowi getol membangun infrastruktur fisik berupa jalan, pelabuhan, jembatan, bandara dan sarana trasportasi laut, maka bio infrastruktur terkesan terabaikan. Apa itu bio-infrastruktur? Yaitu, infrastruktur hayati untuk merehabilitasi dan memulihkan ekosistem pesisir yang khas. Jenis bio infrastruktur yang dimaksud antara lain: rehabilitasi mangrove, transpalansi karang dan karang buatan (artificial reef). Sayang, lahan di pesisir pantai pulau Muna telah dikapling oleh oknum-oknum tertentu hingga hutan mangrove-nya dibabat demi kepentingan ekonomi semata misalnya sebagai usaha pertambakan udang. Padahal, hasil riset di Delta Mahakam, Kalimantan Timur menyebutkan bahwa umur tambak produktif yang dilakukan dengan cara membabat mangrove   paling lama 3 tahun dengan tingkat produktivitas di atas 2 ton. Setelah itu lahan tambak dengan pola tradisional maupun semi intensif paling tinggi 400 gram. Artinya, lahanya menjadi tidak subur lagi yang kerapkali disebut lahan bera.

Untuk membangun bio infrastruktur di pulau Muna yang paling pokok ialah merehabilitasi lahan pesisir dengan mangrove. Bila dalam 2 sampai 3 tahun ke depan mangrove tumbuh bagus, makan secara perlahan-lahan ekosistem mangrove akan pulih dan habitat ikan, udang dan kerang-kerangan akan semakin tersedia. Dengan perkataan lain biodiversitas pesisir meningkat. Selain itu, meningkatnya tegakan mangrove akan membuat pesisir pantai Pulau akan aman dari ancaman topan, rob, dan kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *