Potret IPM Muna

Potret IPM Muna

Dalam Visi-Misi Bupati dan Wakil Bupati Muna Tahun 2016-2021 (Infografis 1), setidaknya ada 5 (lima) poin dari 9 (sembilan) poin dalam Visi-Misi yang berkaitan langsung dengan visi pembangunan manusia di Kabupaten Muna yaitu “(1) Terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat dibidang pendidikan, kesehatan, air bersih, listrik, infrastruktur jalan dan jembatan”, “(2) Adanya kebijakan pemerintah daerah yang dapat menopang peningkatan ekonomi masyarakat pada sektor-sektor usaha produktif”, “(3) Adanya kebijakan pemerintah daerah yang dapat memastikan kemandirian ekonomi masyarakat”, “ (4)Tersedianya sektor-sektor usaha produktif yang berbasis ekonomi kerakyatan”, dan “(5) Adanya kebijakan pemerintah daerah guna terwujudnya perguruan tinggi yang representatif dan dikelola secara profesional”. Visi-misi yang luar biasa ini jika dapat terealisasi dalam 5 (lima) tahun kepemimpinan Rusman Emba-Malik Ditu, maka dengan model kepemimpinan yang merakyat dan didukung oleh birokrasi yang produktif, maka harapan akan terbangunnya cahaya baru perubahan Muna, akan menjadi kenyataan. Tentunya dengan dukungan penuh masyarakat yang saat ini menaruh harapan besar kepada kepemimpinan baru, Rusman Emba dan Malik Ditu.

Bupati dan Wakil Bupati Muna menyadari sepenuhnya bahwa kondisi pembangunan manusia di Kabupaten Muna masih jauh dari harapan dan menjadikan pembangunan manusia sebagai prioritas pembangunan dalam lima tahun ke depan. Belajar dari kepemimpinan kaum muda di beberapa daerah, terbukti energi positif dan progresif akan mampu membangkitkan semangat perubahan ke arah yang lebih baik. Sebut saja beberapa contoh seperti Banyuwangi, Kota Bandung, Kota Surabaya, Kulonprogo dan Trenggalek, adalah sedikit dari contoh kemajuan suatu daerah yang dibangun atas spirit kepemimpinan kaum muda yang merakyat, profesional dan egaliter. Untuk mewujudkan mimpi besar tersebut, Rusman Emba menyampaikan bahwa kunci kesuksesan harus diawali dari perbaikan sumberdaya manusianya. Dalam satu kesempatan penulis pernah berdiskusi langsung dengan L.M. Rusman Emba beberapa saat setelah dilantik menjadi Bupati Muna mengenai visi besarnya dalam upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Muna. Salah satunya, untuk segera mendirikan perguruan tinggi berkualitas yang dikelola secara profesional di Kabupaten Muna. Sebagaimana diketahui, level pendidikan pada jenjang perguruan tinggi sangat minim ketersediaannya di Kabupaten Muna. Sehingga banyak manusia Muna yang harus keluar daerah untuk menempuh pendidikan pada jenjang perguruan tinggi. Diaspora SDM Muna yang menyebar di wilayah Indonesia bahkan luar negeri, jumlahnya cukup banyak dan sudah banyak memegang peranan penting di bidangnya masing-masing. Potensi besar ini, suatu saat harus dimanfaatkan dan dipanggil untuk kembali membangun Muna.

Salah satu indikator keberhasilan pembangunan di suatu daerah adalah kemampuan pemerintah daerah dalam membangun masyarakatnya. Capaian pembangunan manusia menurut UNDP (United Nation Development Program) diukur melalui 3 (tiga) komponen dasar, yaitu : (1) umur panjang dan sehat, (2) pengetahuan dan (3) kehidupan yang layak. Ketiga komponen tersebut selanjutnya disusun 3 (tiga) buah indeks, yaitu Indeks Kesehatan, Indeks Pendidikan dan Indeks Hidup Layak, untuk selanjutnya dari ketiga indeks tersebut dibentuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang merupakan rataan geometrik dari ketiga indeks di atas. Metode penghitungan IPM ini diadopsi oleh semua negara termasuk Indonesia, sehingga nilai IPM dapat diperbandingkan antar negara, antar provinsi, bahkan antar kabupaten/kota. Oleh karena itu, kondisi pembangunan manusia di suatu daerah dapat diperbandingkan dengan daerah lain. Bahkan, suatu daerah dapat menjadikan daerah lain yang memiliki IPM tinggi sebagai rujukan (benchmark) dalam menyusun arah dan kebijakan pembangunan manusia di daerahnya.

Dalam publikasi Badan Pusat Statistik Tahun 2016, IPM Kabupaten Muna Tahun 2015 tercatat sebesar 65,99. Angka ini masih berada di bawah IPM Sulawesi Tenggara 68,75 dan IPM Nasional 69,55. IPM Kabupaten Muna ini bahkan berada pada peringkat ke-9 dari 17 Kabupaten/Kota di Sulawesi Tenggara. IPM Kabupaten Muna hanya unggul dari Kabupaten Buton dan 7 Kabupaten yang baru dimekarkan. Bahkan pada level nasional, IPM Kabupaten Muna ini berada pada peringkat ke-294 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia. Sebagai kabupaten yang sudah cukup “tua”, kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Kenapa bisa tertinggal, apa penyebabnya? Pertanyaan sulit yang membutuhkan keberanian untuk mengulasnya. Tulisan berikut mencoba memotret permasalahan ketertinggalan IPM Muna, dari perspektif penulis yang dilihat dari beberapa sudut pandang.

Jika ditelusuri lebih jauh, maka indikator bidang pendidikan dan ekonomi merupakan 2 indikator pembentuk IPM Kabupaten Muna yang jauh lebih rendah dibanding kota lainnya (misalnya Kota Kendari sebagai benchmark). Angka rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah penduduk Kabupaten Muna hanya 7,33 tahun dan 12,89 tahun. Angka ini jauh lebih rendah dibanding Kota Kendari yang mencapai masing-masing 11,65 tahun dan 16,04 tahun. Demikian juga dengan indikator bidang ekonomi dimana pengeluaran per kapita Kabupaten Muna hanya 7,7 juta rupiah per tahun, sedangkan Kota Kendari 13,5 juta rupiah.

Berdasarkan data tersebut, maka untuk meningkatkan IPM secara signifikan maka bidang pendidikan dan ekonomi merupakan bidang-bidang yang perlu diperhatikan secara serius. Bagaimana strategi meningkatkan IPM bidang pendidikan akan diuraikan pada artikel berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *