Jejak Peradaban Atlantis di Pulau Muna (1)
Foto : Atlantis-Today.com

Jejak Peradaban Atlantis di Pulau Muna (1)

Plato (427 – 347 SM),  seorang filosof Yunani Kuno pernah mencetuskan  tentang Peradaban Atlantis dalam buku Critias dan Timaeus yang hilang, yang hingga kini tidak pernah ketahuan di mana letaknya. Dalam buku Timaeus, Plato menceritakan bahwa “dihadapan selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar. Dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah Kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena. Namun di luar dugaan Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam”.

Para ahli arkeolologis dan ilmuwan dari berbagai negara telah melakukan riset tentang peradaban itu, tetapi belum bisa memastikan lokasi Atlantis. Profesor Arysio Santos (geolog dan fisikawan nuklir dari Brazil), telah menulis buku berjudul: “Atlantis, The Lost Continent Finally Found”. Prof. Santos menyatakan bahwa Benua Atlantis yang menjadi perdebatan dunia semenjak diungkapkan oleh Plato, ternyata terletak di Indonesia (dan region sekitarnya). Hal ini berdasarkan risetnya selama 30 tahun dengan cara membuat peta bawah laut, mengkaji mitologi, arkeologi, dan sebagainya.

Kemudian, pakar berikutnya, Stephen Oppenheimer, seorang ahli genetika juga menulis sebuah buku yang berjudul “Eden In The East. Dalam penelitiannya, Oppenheimer menggunakan metode ilmiah yaitu dengan metode genetika, antropologi, linguistik dan arkeologi. Hasilnya, ia menyimpulkan bahwa peradaban Atlantis adalah kepulauan Nusantara. Tentu kesimpulan para ahli ini menimbulkan perdebatan dan kontroversi. Namun ia juga mendapatkan dukungan dari beberapa ahli lain seperti Koenraad dari Belanda.

Dan kesimpulan Oppenheimer yang mengkaji penyeberan genetik (DNA) manusia di kawasan Sundaland ini juga dibuktikan lagi dengan hasil riset ilmuwan Indonesia yaitu Prof. Sangkot Marzuki, Guru Besar Genetika Universitas Indonesia bersama 90 ilmuwan dari konsorsium Pan-Asian SNP (Single-Nucleotide Polymorphisms) dinaungi Human Genome Organization (Hugo). Mereka meneliti 73 populasi etnik Asia di 10 negara (Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, India, China, Korea, Jepang, dan Taiwan.

Hasil penelitian (selama 3 tahun) ini menurut Prof. Sangkot dan telah dirilis di Jurnal Science (10 Desember 2009) berjudul “Mapping Human Genetic Diversity in Asia”  jauh lebih akurat dibanding riset-riset sebelumnya yang hanya menggunakan DNA mitokondria atau kromosom Y karena menganalisis seluruh kromosom. Studi ini berhasil  menjelaskan bahwa di masa lalu terdapat satu jalur utama migrasi manusia ke Asia, yaitu melalui Asia Tenggara, bukan jalur migrasi majemuk melalui jalur utara dan selatan, sebagaimana banyak dikemukakan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa nenek moyangnya orang China adalah orang Asia Tenggara, bukan sebaliknya. Sungguh menakjubkan riset-riset ilmiah ini.

Lukisan Gua

Apa kaitan peradaban Atlantis dengan pulau Muna? Ini sebuah pertanyaan besar yang perlu membutuhkan analisis yang ilmiah dan logis. Di Pulau Muna ada sebuah situs arkeologi berupa lukisan gua yang jumlahnya ribuan di Gua Mentanduro, Liangkobori, Gua Sugipatani, Kolumbo, Toko dan Wa Bose. Semua peninggalan ini berada di sekitar kawasan perladangan di sekitar Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna saat ini. Situs-situs arkeologis ini  menggambarkan bahwa di daerah ini pernah ada peradaban yang pernah hidup yang diperkirakan lebih tua dari lahirnya kerajaan pertama di Pulau Muna sekitar abad 14.

Riset para ahli memperkirakan bahwa lukisan gua-gua di pulau Muna tersebut telah berumur 4000-10.000 tahun atau sekitar 2000 tahun sebelum Masehi (SM) hingg 8000 tahun SM. Temuan situs arkeologi terkait lukisan gua di Maros, Sulawesi Selatan berdasarkan hasil uji Isotop uranium diperkirakan berumur 40.000 tahun yang lebih tua dari lukisan gua di Spanyol yang diklaim berusia 39.000 tahun atau 37.000 tahun SM.  Dari lukisan goa di pulau Muna dan Maros, Sulawesi Selatan, meskipun mempunyai usia lukisan yang berbeda, namun ada kesamaan-kesamaan gambar yang ditampilkan.

Pertama, dalam lukisan di gua-gua di pulau Muna ditemukan gambar tentang jenis hewan-hewan yang perlu jadi bahan analisis yang menarik antara lain kuda, babi rusa, anoa, kadal, dan gajah. Lukisan ini memiliki kesamaan dengan beberapa gambar pada lukisan gua di Maros tersebut antara lain: ada babirusa, anoa, burung, perahu, dan garis-garis abstrak,  Tapi di gua Maros tidak dtemukan kuda dan gajah. Ada hal menarik dari lukisan hewan-hewan ini. Kuda adalah jenis hewan yang digunakan untuk transportasi dan berperang di masa silam. Dalam sejarah perang Troya dan Romawi Kuno, kuda adalah alat transportasi sekaligus kendaraan perang pada masa itu.

Gajah adalah hewan yang secara ekologi maupun geografis tidak ditemukan di daratan pulau Sulawesi.Gajah di Indonesia hanya ditemukan di pulau Sumatera karena ada garis imajiner yaitu garis Wallacea dan Weber yang memisahkan flora dan fauna wilayah timur dan barat Indonesia. Gajah adalah hewan yang dalam sejarah peradaban India dan Persia menggunakan hewan tersebut sebagai kendaraan transportasi dan juga perang. Bahkan dalam cerita Perang Bharatayudha (Pandawa versus Kurawa) hewan Gajah dan Kuda juga digunakan sebagai kendaraan berperang yang efektif. Begitu pentingnya Gajah sehingga dalam Al Quran disebutkan satu surat yaitu surat Al Fiil tentang sejarah Raja Namruz yang hendak menyerang dan mau menghancurkan Ka’bah, namun gagal. Alexander yang Agung dari Macedonia pun yang hampir dalam sejarah kekuasaannya menaklukan separuh dunia menggunakan kuda sebagai kendaraan perangnya.

Apa yang bisa disimpulkan dari hal ini bahwa kuda dan gajah adalah media transportasi masyarakat Muna kuno pada masa itu, baik sebagai kendaraan perang maupun alat transportasi. Sedangkan anoa dan babi rusa sesungguhnya adalah hewan endemik yang memang habitatnya di Pulau Sulawesi yang juga ditemukan dalam lukisan Gua di Maros. Artinya, masyarakat yang menghuni pulau Muna kuno ini telah menjadikan hewan tersebut setidaknya sebagai buruan untuk memenuhi kebutuhan pangannya.

Kedua, dalam lukisan gua di pulau Muna, ditemukan lukisan tentang layang-layang, perahu, aktivitas berburu, bercocok tanam, menari dan berperang dengan menggunakan kuda. Jika dianalisis, lukisan-lukisan ini memberikan interpretasi yang menarik untuk diteliti secara mendalam. Layang-layang di pulau Muna sudah dikemukakan seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman, bernama Wolfgang Bieck dan menulisnya dalam sebuah buku berjudul “Island of The First Kiteman” dan dalam sebuah Majalah Jerman tahun 2003. Bieck meyakini bahwa layang-layang pertama di dunia berasal dari Muna, bukan dari China. Jika lukisan itu berusia 4.000 tahun berarti layang-layang di Muna lebih tua 1.600 tahun dari China yang selama ini diklaim sebagai yang pertama membuat layang-layang dan tertua di dunia yang berusia 2.400 tahun.

Perahu adalah sebuah alat transportasi dan menangkap ikan. Sebagai daerah berbasis kepulauan, wajar orang Muna kuno berkebudayaan “maritim”. Tetapi di sisi lain, dalam lukisan di goa-goa tersebut juga menampilkan lukisan aktivitas bercocok tanam dan berburu. Hal ini menunjukkan bahwa  selain berkebudayaan maritim, orang Muna Kuno  juga berkebudayaan “agraris”.

Lukisan lain yang menarik adalah orang yang menari yang mengandung interpretasi bahwa orang Muna kuno adalah manusia yang memiliki budaya seni yang tinggi. Terakhir, adalah lukisan orang menunggang kuda dengan menggambarkan sedang berperang. Ini mengandung arti bahwa di pulau Muna pada masa ribuan tahun silam telah berkembang suatu peradaban tinggi sehingga mereka memiliki tradisi untuk mempertahankan diri dari serangan pihak luar atau bisa saja melakukan ekspansi ke wilayah lain.

Dalam cerita Plato, bahwa peradaban Atlantis yang hancur dalam satu malam akibat bencana gempa bumi dan bencana alam (banjir besar) telah memiliki peradaban yang tinggi. Plato juga menyebutkan bahwa peradaban Atlantis memiliki lahan yang subur, rakyat makmur, dan juga berkebudayaan maritim karena wilayahnya diapit oleh dua samudera yang luas. Plato menyatakan juga bahwa peradaban Atlantis terhampar “di seberang pilar-pilar Hercules”, dan memiliki angkatan laut yang menaklukkan Eropa Barat dan Afrika 9.000 tahun sebelum waktu Solon (sekitar tahun 9.500 SM). Setelah gagal menyerang Yunani, Atlantis tenggelam ke dalam samudra “hanya dalam waktu satu hari satu malam“.

Jika benar (perlu penelitian yang mendalam), lukisan gua-gua di pulau Muna berumur 4.000 -10.000 tahun, berarti memiliki kedekatan dengan peradaban Atlantis yang hilang itu. Bisa diduga bahwa ada indikasi manusia Muna kuno adalah generasi terakhir dari peradaban Atlatntis yang selamat dari bencana besar tersebut. Akan tetapi, jika dikaitkan dengan lukisan di Maros yang berumur 40.000 tahun, atau (38.000 SM), maka lebih tua lagi dari peradaban Atlantis tersebut. Bisa saja orang-orang Maros kuno juga bagian dari peradaban Atlantis atau Lemuria (yang juga lebih tua dari Atlantis) yang memiliki peradaban tinggi merujuk lukisan guanya, melakukan migrasi dan berdiaspora yang kemudian salah satunya ke Pulau Muna. Bagaimana membuktikan hal ini? Diperlukan penelitian yang serius dan uji isotop uranium untuk membuktikan secara ilmiah umur lukisan gua-gua di pulau Muna sebagaimana di Maros.

Lukisan layang-layang di Gua Sugipatani

Mengapa penulis mengatakan demikian? Pertama, Orang yang membuat lukisan-lukisan itu tidak mungkin mampu membuatnya tanpa melihat semua “obyek” yang dia lukis atau dia bukan pelaku. Kedua, Orang yang membuat lukisan itu tentu mereka yang sudah berperadaban tinggi dan ada kebudayaan yang sudah maju. Penulis ingin mengatakan bahwa para pelukis gua itu adalah mereka menghuni gua-gua itu dan membuat lukisan pada masa itu. Bukan berarti mereka manusia yang belum maju, melainkan bisa saja mereka adalah orang-orang menghindar dari ancaman bencana alam dan mempunyai pengetahuan untuk menghindar dari binatang buas. Tapi, jika mereka merupakan generasi terakhir yang selamat akibat bencana besar yang menimpa peradaban Atlantis, maka bisa diduga mereka yang membuat lukisan di gua-gua pulau Muna adalah orang-orang Altlantis.

Apakah orang Muna kuno dan Muna yang sekarang merupakan generasi Atlantis? Tentu membutuhkan riset para ahli arkeologi, genetika, geologi dan sosiologi yang bisa mengungkap benang merah dari riset-riset genetik Oppenheimer maupun Prof. Sangkot hingga Prof. Santos untuk membuktikan bahwa jejak Atlantis ada di pulau Muna. Ini tentu menjadi misteri juga, sebagaimana situs Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat yang menghebohkan dunia hingga kini yang diklaim oleh para ahli sebagai piramida tertua di dunia dibandingkan di  Mesir. Namun demikian, situs gua di pulau Muna ini dalam pandangan penulis baru sebuah dugaan (hipotetsis) yang perlu diteliti lagi.

Baca Juga :

Liangkobori, Bukti Peradaban Muna Masa Prasejarah

“Kaghati Kolope” – Layang-layang Tertua, Warisan Budaya Muna untuk Dunia

Pulau Muna, Ribuan Lukisan Purba Penuhi Gua Karst vs. Wisata Berkelanjutan

 

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *