Pembangunan Muna Berbasis Budaya

Pembangunan Muna Berbasis Budaya

K abupaten Muna merupakan salah satu daerah di Provinsi Sulawesi Tenggara. Secara geografi daerah ini merupakan wilayah kepulauan yang terpisah dari daratan pulau Sulawesi.  Daerah ini juga merepresentasikan sebuah etnik yaitu suku Muna. Suku Muna adalah salah satu etnik besar yang mendiami pulau Muna dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Dari sisi historisnya, Muna merupakan bekas sebuah kerajaan di jazirah Sulawesi Tenggara yang memiliki jejak rekam kesejarahan yang masih dapat disaksikan hingga kini.

Kini, Muna baru saja memiliki pucuk pimpinan baru, yang dipilih rakyat Muna secara demokratis. Meskipun, sempat melalui proses pemilihan ulang hingga dua kali, namun pada akhirnya, daerah ini juga memiliki pemimpin.

Basis Budaya

Muna berdasarkan kesejarahannya memiliki geografi kebudayaan yang unik dan berbeda dibanding daerah-daerah lainnya di Sulawesi Tenggara maupun Indonesia. Jika di beberapa daerah lain di Indonesia geografi kebudayaan berdasarkan marga, etnik, maupun suku, maka di pulau Muna berdasarkan entitas tersendiri yang disebut “Ghoera”.  Entitas ini melahirkan suatu geografi kebudayaan yang khas dan jika ditelusuri secara geneologis semua geografis kebudayaan tersebut bermuara pada sumber yang sama.  Di masa kini geografi kebudayaan tersebut tidak lagi utuh, melainkan terpisah secara teritorial akibat pemekaran daerah ini. Namun sejatinya, geografi kebudayaan itu tidak bisa terpisahkan oleh batas teritorial karena sudah berlangsung turun temurun. Sayangnya, imbas pemekaran menimbulkan bibit konflik yang disebabkan hasrat untuk menunjukkan eksistensi masing-masing.

Menjadikan basis budaya sebagai kekuatan dalam pembangunan termasuk ekonomi berbasis lokal karena dipengaruhi empat aspek yaitu: Pertama, kuatnya solidaritas intergenerasi (intergenerational solidarity) (Cruz Saco, 2010). Kedua, kuatnya jiwa kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) (Ziegler, 2009). Ketiga, kekuatan ekonomi pengaruh informasi nilai-nilai budaya dalam menopang aktivitas ekonomi (cultural informed economics) (Jackson, 2009). Keempat, adanya hubungan patron-client egaliter, khususnya yang berkembang dalam masyarakat Buton di wilayah Indonesia bagian timur. Suatu pola hubungan patron-client yang dilandasi lima modal yaitu spiritual, agama, budaya, finansial, dan sosial (Lutfi, 2010). Pertanyaannya adalah apakah keempat aspek tersebut secara sosio-kultural dan ekonomi masih bisa ditemukan dan konstruksi sosial masyarakat Muna saat ini?  Jika aspek-aspek  itu masih hidup dan diyakini dalam kehidupan rakyat Muna, maka amat tepat untuk rekonstruksi dan ditransformasikan dalam kebijakan pembangunan daerah.  Bila benar masih ada dan diteliti secara serius, pasti sudah jarang yang memahaminya apalagi kaum mudanya. Pasalnya, rakyat dan petinggi kerajaan Muna masa silam nyaris tidak  memiliki tradisi  menulis  seperti dalam kerajaan-kerajaan besar di Jawa yang mewariskan naskah-naskah kuno hasil karya para empu dan resi. Rakyat Muna hanya mewariskan tradisi nilai – nilai dan pengetahuan lokal hingga tradisi kebajikan melalui tradisi lisan. Sehingga, makin lama orang yang menguasai tradisi lisan makin sedikit yang paham budaya Muna secara utuh.

Makanya, amat sulit kita melacak, bagaimana basis-basis kekuatan ekonomi berbasis etnik Muna di pulau Muna saat ini akibat problem struktural dalam paradigma pembangunan yang eksploitatif. Ini dapat kita lihat dalam dua dekade terakhir di Pulau Muna terutama saat otonomi daerah, sumber daya alam berupa hutan jari nyaris habis. Padahal hutan jati itu menjadi identitas Orang Muna. Artinya, Jati bisa menjadi ekonomi etnik Orang Muna, jika merujuk pandangan Ivan H Light (2011) tentang ekonomi etnik. Ia melanjutkan bahwa ekonomi etnik yakni basis-basis ekonomi yang dimiliki kelompok etnik, sekaligus sumber daya ekonomi yang ditafsirkan sebagai berada di bawah kendali etnik (Ivan H Light, 2011). Ada sebuah cerita yang patut dikaji secara mendalam tentang legenda perahu Nabi Nuh AS. Dalam kitab suci Al Quran maupun Kitab Perjanjian lama, disebutkan bahwa kapal Nabi Nuh dibuat dari kayu terbaik yang ada di dunia. Beberapa pakar kehutanan, menyebutkan  bahwa “kayu jati” adalah jenis kayu terbaik di dunia. Di dunia ini kayu jati terbaik ditemukan di tiga daerah yaitu Malabar di India, Kediri, Jawa Timur dan Muna, Sulawesi Tenggara. Jika diasumsikan perahu Nabi Nuh AS dibuat dari kayu terbaik, apakah ketiga wilayah itu menjadi sumber kayu untuk membangun perahunya? Ini perlu penelitian mendalam, karena di pulau Muna di daerah yang namanya Bahutara yang kini masuk Kabupaten Muna Barat, terdapat sebuah bekas jejak perahu yang sudah membatu. Legenda cerita rakyat di pulau Muna menyebutkan bahwa itu perahunya Sawerigading, yang konon dari legendanya adalah orang sakti yang turun dari langit yang kemudian  akar geneologis kerajaan-kerajaan hampir di seluruh daratan pulau Sulawesi. Cerita – cerita legenda semacam ini patut dilestarikan dan juga diteliti agar menjadi bukti  arkeologis yang benar adanya seperti gunung Padang di Cianjur dan kota tua Troy yang ditemukan di Turki yang sebelumnya hanya sebuah legenda. Uraian bukan ingin membesar-besarkan jati dan sejarah arkeologis pulau Muna, tapi jangan sampai ada bukti-bukti arkeologis yang bisa dijadikan penanda awal. Tentu ini menjadi tugas para ahli dan kalangan intelektual Muna yang bertebaran di seluruh wilayah Indonesia.

Pendekatan Budaya

Dalam pembangunan ekonomi, penulis mengusung pendekatan budaya karena ada konsep yang sekarang berkembang yang disebut ekonomi berbasis etnik. Ekonomi berbasis etnik itu mencakup (Light, 2011): pertama, kegiatan ekonomi suku-suku penghuni awal (asli) dari suatu daerah, yang secara turun-temurun dimiliki dan/atau diwariskan dari generasi ke generasi.  Kegiatan usaha di bidang pertanian dan perikanan yang dilakukan subsistem, termasuk di dalamnya kebiasaan berburu binatang untuk keperluan konsumsi secara terbatas, atau kemudian diperjualbelikan sebagai sumber pendapatan keluarga. Dalam bidang perikanan tangkap ada teknologi tradisional dalam menangkap ikan yang disebut “bala” yaitu jenis alat tangkap ikan yang bersifat tetap untuk menjebak ikan di laut yang terbuat bambu. Sayangnya, metode ini nyaris sudah tidak dikenal lagi oleh masyarakat Muna. Kedua,  produk (kreasi) budaya. Orang Muna memiliki produk kerajinan tangan berupa sarung dan peralatan rumah tangga yang bisa menjadi sumber untuk memberdayakan ekonomi keluarga. Sayangnya produk kreasi budaya Muna, kini semakin terbatas akibat kian berkurangnya orang yang menguasai produk kreasi tersebut.  Ketiga, Sumber daya alam yang ada di alam lingkup wilayah komunitas etnik Muna. Masyarakat etnik Muna, yang memang menghuni Muna secara turun-temurun telah memiliki sumber daya hutan jati. Sayangnya, jati Muna yang melambangkan jati diri orang Muna nyaris punah akibat keserakan para penguasanya yang berkonspirasi dengan kaum kapitalis. Anehnya, tidak ada satu pun pihak yang tersentuh hukum padahal hutan jati nyaris gundul dan telah berubah jadi kebun.

Oleh karena itu, untuk membangkitkan pembangunan Muna di masa datang, sudah saatnya mengembangkan pendekatan pembangunan daerah berbasis budaya dengan merevitalisasi dan merekonstruksi sistem nilai kebajikan, kearifan lokal dan budaya pemerintahan yang pernah hidup di masa silam dan adaptif di masa kini. Hal ini dapat disinergikan dengan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang efektif dan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan yang menyandingkan ekologi dan tujuan pencapaian kemakmuran seluruh rakyat. Pendekatan semacam inilah yang menyebabkan kemajuan Korea Selatan, dan Tiongkok dengan nilai—nilai konfusianismenya dan Jepang dengan nilai-nilai busido-nya disandingkan dengan nilai-nilai modern/barat hingga membuat negara-negara tersebut jadi macan Asia dan sebagai keajaiban Asia. Pendekatan ini dalam  teori pembangunan alternatif atau jalan ketiga sebagai pendekatan heterodoks yang belum menjadi sebuah teori besar. Apakah pendekatan pembangunan  yang bersifat heterodoks (berbasis budaya) cocok buat kebangkitan Muna di masa datang? Sejarahlah yang akan membuktikannya karena beberapa daerah di Indonesia sudah mempraktekannya seperti Solo, Sawalunto, Bantaeng, Gianyar dan Kulonprog serta masih banyak daerah lainnya di Indonesia. Apakah Muna mau tampil beda untuk mensejahterakan rakyatnya? Kita tunggu gebrakan sang nakhoda baru.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *