Bangkit dengan Desa Wisata (4) “Paradigma Membangun Desa Wisata”
Foto : Desa Wisata Kembang Arum, by www.liburanjogja.co.id

Bangkit dengan Desa Wisata (4) “Paradigma Membangun Desa Wisata”

Konsep lama pengembangan pariwisata adalah mass tourism (pariwisata massal).  Model seperti ini menampilkan bentuk pariwisata yang bermotif mengejar keuntungan finansial dan ekonomi semata atau lazim disebut greedy tourism. Pendekatan konvensional dalam pariwisata ini biasanya berujung dengan kehancuran lokasi wisata serta kerusakan sumber daya alam daerah tersebut.  Terlebih lagi hanya menguntungkan pemilik lokasi wisata dan mengabaikan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan pariwisata.

Perubahan paradigma pariwisata saat ini, mulai bergeser ke arah pembangunan pariwisata berkelanjutan dan green tourism. Pembangunan pariwisata berkelanjutan didefinisikan sebagai “Tourism that takes full account of its current and future economic, social and environmental impacts, addressing the needs of visitors, the industry, the environment and host communities”, yaitu pariwisata yang memperhitungkan secara penuh dampak ekonomi, sosial dan lingkungan saat ini dan masa depan, memenuhi kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan dan masyarakat setempat (UNEP and UNWTO (2005) Making Tourism More Sustainable – A Guide for Policy Makers).

Konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan ini, juga ditekankan pada pengembangan desa wisata sebagai salah satu konsep pengembangan pariwisata berbasis komunitas masyarakat desa dan penuh dengan kearifan lokal.  Dalam mass tourism, besarnya peranan pihak luar sering mengarah bukan pada kebutuhan masyarakat desa. Pembangunan pariwisata perdesaan diarahkan pada konsep keserakahan (greedy tourism) dengan tujuan untuk mendatangkan jumlah wisatawan sebanyak-banyaknya. Pembangunan Desa Wisata perlu melibatkan masyarakat sebagai komponen utama penggerak.  Pembangunan bersama masyarakat akan menyebabkan pariwisata mengarah pada bentuk pariwisata hijau (green tourism) karena berkaitan dengan kepentingan jangka panjang masyarakat itu sendiri.

“Desa Wisata” dan “Wisata Desa”

Membangun “desa wisata” berbeda dengan “wisata desa”. Desa wisata adalah desa yang menunjukkan tema produk pariwisata yang diutamakannya. Pilihan tema ini, setara dengan pilihan tema lain seperti desa industri, desa kerajinan, desa kreatif, dan desa gerabah. Sedangkan wisata desa adalah kegiatan wisata yang mengambil pilihan lokasi di desa, dan jenis kegiatannya tidak harus berbasis pada sumber daya perdesaan (Sumberdaya perdesaan adalah berupa keaslian bentang alam, serta budaya dan kearifan lokal.) (Buku Panduan Pengembangan Desa Wisata Hijau, diterbitkan atas kerjasama Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian BAPPENAS, Kementerian Pariwisata, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan).

Membangun desa wisata artinya menjadikan desa sebagai subjek penggerak pembangunan pariwisata.  Dengan skala mikro desa, pendekatan green tourism lebih tepat diterapkan dibandingkan greedy tourism.  Perubahan paradigma ini menuntut komitmen seluruh pelaku usaha dan pemerintah (pemerintah pusat, daerah dan desa) serta masyarakat untuk menjaga prinsip-prinsip keberlanjutan dan partisipasi masyarakat dalam membangun desa wisata.

Konsep Desa Wisata pada hakekatnya merupakan upaya pembangunan yang dilakukan sepenuhnya oleh orang Desa.  Pembangunan desa selama ini menganut konsep “membangun desa” dan bukan “desa membangun”. Pada konsep membangun desa, pengaruh faktor eksternal (pihak luar) lebih berperan menentukan arah pembangunan desa dan ini menyebabkan desa semakin tergantung pada bantuan luar. Pendekatan lama pola pembngunan desa seperti ini dikenal dengan top down (atas ke bawah).  Sebaliknya, pada konsep “desa membangun”, peran masyarakat justru menjadi faktor utama guna membangun desa yang mandiri.  Dalam konteks pendekatan seperti inilah, desa wisata dikembangkan, merubah dari pola “membangun desa” menjadi “desa membangun”.  Pengambilan keputusan terkait destinasi wisata, manajemen dan pengelolaan kawasan wisata, sudah saatnya diberikan sepenuhnya kepada warga desa. Dengan demikian, manfaat terbesar dari aktivitas tersebut akan mengalir ke desa dan warga desa.

Banyak daerah yang sudah berhasil mengembangkan konsep desa wisata berbasis masyarakat ini sebagai daerah wista alternatif.  Sebut saja beberapa contohnya seperti di Kabupaten Banyuwangi (Jatim) yang menawarkan paket wisata kebun kopi danpeternakan kambing di Desa Gombengsari dan wisata bawah air di pantai Bangsiring. Di Bantul, terdapat wisata alam watu lawang dan bukit Panguk Kediwung di mangunan, Kecamatan Dlingo.  Di Kulon Progo warga menawarkan wisata alam Kalibaru di Desa Hargowilis.  Di Kalibaru dan Umbul Pongok ini objek wisata yang ditawarkan adalah keindahan alam untuk swafoto.  Sementara Desa wisata Nglanggeran menjadi alternatif wisata baru yang ditawarkan warga di Gunung Kidul.  Di Desa wisata Nglanggeran wisatawan dimanjakan dengan paket wisata berkemah di sekitar gunung dan di puncak gunung, paket panjat tebing, embung, kebun buah, dan paket wisata yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi, sosial budaya masyarakat setempat.  Wisatawan diajak belajr bertani di sawah, mengolah kakao, kesenian, permainan tradisional, agrowisata dan pendidikan bersama masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *