Membangkitkan Muna sebagai Sentra Jagung Nasional

Membangkitkan Muna sebagai Sentra Jagung Nasional

Langkah cepat Bupati Muna Rusman Emba membangun Muna, semakin terlihat jelas. Baru-baru ini Rusman Emba berhasil meyakinkan Kementerian Pertanian untuk menjadikan Muna sebagai salah satu sentra jagung hibrida di Indonesia. Untuk tujuan tersebut pemerintah daerah Kabupaten Muna bersedia menyiapkan lahan sebesar 30.000 hektar untuk dijadikan lahan pertanian jagung hibrida. Sedangkan pemerintah pusat menyediakan alat pengolahan tanah (traktor dan traktor tangan), pupuk, bibit dan alat pasca panen jagung. Lahan pertanian jagung akan dikelola melalui cara pertanian modern.

Selama ini, Kabupaten Muna memang dikenal sebagai sentra komoditi jagung di Sulawesi Tenggara. Data BPS tahun 2015 menunjukkan bahwa luas lahan jagung di Kabupaten Muna sekitar 13 ribu hektar dengan produksi sekitar 32 ribu ton. Produksi jagung tersebut hampir separuh dari keseluruhan produksi jagung di Sulawesi Tenggara. Namun demikian, produktivitas pertanian jagung di Kabupaten Muna hanya sekitar 2,4 ton per hektar. Mengapa produktivitas petani jagung begitu rendah? Salah satunya bisa jadi karena pengelolaannya yang masih bersifat tradisional dan minimnya teknologi pengolahan.

Dalam logika umum pembangunan pertanian, pemicu rendahnya produktivitas antara lain : (1) Penyiapan lahan dilakukan secara tradisional yang berakibat lahan menjadi tidak sepenuhnya dioptimalkan, (2) tidak menggunakan bibit unggul, (3) tidak menggunakan pupuk yang berkualitas, (3) ketidakmampuan menangkal serangan hama babi dan monyet karena keterbatasan dana untuk membuat pagar (4) panen dilakukan secara manual, akibatnya seringkali jagung rusak sebelum sempat dipanen (5) pemipilan masih dilakukan secara tradisional yang memakan waktu dan sumberdaya yang banyak, sehingga hasil panen seringkali rusak oleh bubuk sebelum sempat dipipil.

Di samping produktivitas yang rendah, permasalahan petani jagung di Muna juga berkaitan dengan pemasaran hasil panen jagung. Pada saat musim panen, harga jagung anjlok pada titik terendah yang sangat merugikan petani. Harga jagung lebih banyak ditentukan oleh pedagang perantara (tengkulak).

Oleh karena hal-hal tersebut di atas, maka Bupati Muna melakukan terobosan dengan menyiapkan lahan untuk pertanian jagung hibrida. Pola pertanian modern untuk jagung hibrida dilakukan melalui prinsip-prinsip intensifikasi pertanian, berupa : (1) Pengolahan tanah yang baik. Pengolahan tanah tidak lagi dilakukan secara manual, tetapi dilakukan dengan bantuan traktor atau hand tractor, sehingga proses penyiapan lahan berlangsung cepat dengan sumberdaya yang tidak terlalu banyak. Traktor-traktor ini disediakan oleh pemerintah pusat melalui pemerintah provinsi. (2) Pemilihan bibit unggul. Bibit unggul jagung hibrida disediakan oleh pemerintah pusat secara cuma-cuma alias gratis. Bibit unggul yang digunakan, tentu yang memiliki produktivitas tinggi dan tahan terhadap penyakit. (3) Pemupukan. Pupuk juga disediakan oleh pemerintah pusat secara gratis, yang tentu disesuaikan dengan kebutuhan lahan di Kabupaten Muna.

Bantuan pemerintah pusat dan pemerintah daerah pun tidak hanya sebatas bantuan alat, bibit dan pupuk, tetapi juga akses permodalan dan akses pasar. Jika upaya ini berjalan sebagaimana mestinya, produktivitas petani jagung akan meningkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi jagung hibrida mencapai rata-rata 10 ton per hektar. Artinya dengan luas lahan sebesar 30.000 hektar akan dapat memproduksi jagung hibrida sebesar 300.000 ton.

Pengembangan jagung hibrida melalui skema bantuan pemerintah perlu memperhatikan beberapa hal; 1) bantuan sejalan dengan kebutuhan masyarakat petani.  Karena dalam banyak kasus banyak ditemukan bantuan tidak tepat sasaran karena tidak sesuai dengan karakter pertanian lokal dan kebutuhan masyarakat; 2) pentingnya pendampingan bagi petani khususnya yang baru mendapatkan program sehingga lebih terarah dan sesuai tujuan; 3) Pemerintah daerah perlu juga memastikan bahwa hasil produksi petani dapat terserap oleh pasar. Persoalan yang ada selama ini biasanya, menggenjot produksi tapi abai dengan pemasarannya. Dalam kasus pemasaran jagung, Propinsi Gorontalo mungkin dapat menjadi model sukses sampai akhirnya terbangun BUMD di bidang pertanian jagung; 4) Dalam pengembangan pertanian jagung yang dikelola secara modern, unsur keterlibatan petani bukan berarti harus dinegasikan.  Bahkan yang perlu diperhatikan adalah keuntungan terbesar harus diperoleh oleh petani itu sendiri. Pertanian modern bukan harus meminggirkan petani, yang perlu diupayakan justru cara-cara kontruktif agar petani dapat memanfaatkan teknologi dengan baik dan produktivitasnya meningkat; 5) Kepastian terbangunnya sarana pertanian yang memadai. Pembangunan infrastruktur jalan, moda transportasi dan prasarana pendukung lainnya, perlu dioptimalkan.

Lalu, apa manfaatnya bagi masyarakat Muna? Pertama, pendapatan petani akan meningkat. Akibatnya pendapatan daerah dari sektor pertanian pun meningkat . Kedua, terjadi perubahan paradigma dari pertanian tradisional ke pertanian modern. Akibatnya petani makin produktif yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap petani di luar komoditi jagung untuk berubah ke pertanian modern. Ketiga, menambah lapangan kerja baru dan mengurangi pengangguran. Jika setiap hektar menyerap 3 orang tenaga kerja, maka tenaga kerja yang terserap sekitar 90.000 orang. Keempat, animo generasi muda untuk bertani akan meningkat. Akibatnya, kekhawatiran akan kekurangan petani di masa depan menjadi tidak beralasan. Keterlibatan generasi muda dalam pertanian jagung ini akan dapat menumbuhkan sektor-sektor ekonomi kreatif yang diinisiasi oleh para pemuda. Kelima, menarik minat investor untuk investasi pada industri pengolahan jagung, misalnya industri pakan ternak, yang tentu akan menuju pada industrialisasi pertanian. Nantinya, produk-produk olahan jagung, baik untuk manusia maupun ternak dapat dibuat di Kabupaten Muna untuk kemudian dikirimkan ke daerah tujuan penjualan dengan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi dibanding menjual jagung pipilan.

Terkait pemasaran hasil produksi jagung, pemerintah Kabupaten Muna sudah membuat nota kesepahaman dengan Bulog dan Gabungan Pengusaha Pakan Ternak untuk membeli hasil panen jagung dengan harga yang kompetitif yang telah ditetapkan. Sedangkan untuk pembiayaan permodalan, petani dapat memanfaatkan Bank BPD Sultra.

Dengan demikian, visi Bupati dan Wakil Bupati Muna untuk menciptakan kawasan-kawasan ekonomi produktif dapat terlaksana, untuk selanjutnya dapat dibentuk kawasan agropolitan komoditi jagung. Kawasan ini juga dapat berperan sebagai kawasan wisata agro. Baca juga http://munabangkit.com/muna-bangkit-melalui-pariwisata/

Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *