Muna dalam Setetes Tinta Couvreur (Bag. 5) “Konflik-Konflik Politik di Kerajaan Muna”
Foto : Rekonstruksi Pasukan Kerajaan Muna, by for-wuna.wordpress.com

Muna dalam Setetes Tinta Couvreur (Bag. 5) “Konflik-Konflik Politik di Kerajaan Muna”

Konflik sudah lumrah menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa, tidak terkecuali Muna. Couvreur merekam konflik-konflik  politik dalam sejarah Muna pada akhir bab 2 dari buku yang ditulisnya. Konflik-konflik  itu terkait dengan perebutan kekuasaan dan persaingan pengaruh antara berbagai kekuatan internal dan eksternal. Konflik yang digambarkan oleh Couvreur nampaknya bukan konflik internal yang sederhana, namun melibatkan banyak kepentingan dan kekuatan politik. Di pihak internal, terjadi persaingan antar para La Ode (bangsawan) yang juga melibatkan lembaga Sara Muna. Demikian juga, kepentingan entitas luar Muna seperti kerajaan tetangganya, Buton serta Pemerintah Hindia Belanda. Konflik kepentingan antar kekuatan politik internal dan eksternal ini menyebabkan jatuh bangunnya berbagai pemerintahan di Kerajaan Muna, bahkan mengancam keberlangsungan kepemimpinan kerajaan (masa lowong pemerintahan seorang raja).

Konflik Politik di Kerajaan Muna

Pada tahun 1861 La Ode Ngkada denga dukungan para La Ode di kota Muna melawan kekuasaan Raja Muna La Ode Bulai dan berhasil merebut kekuasaan darinya. Untuk mengukuhkan kekuasaannya, La Ode Ngkada mengejar La Ode Bulai ke Tanah Buton karena diduga melarikan diri kersana. La Ode Ngkada mencoba melakukan diplomasi dengan Sultan Buton agar tidak ikut campur dalam konflik internal Muna dan menyerahkan La Ode Bulai kepadanya. Sultan Buton mengirim surat kepada La Ode Ngkada, yang isinya: “waktu Murhum menjadi lakina Wolio, dibuat perjanjian antara Murhum dengan penggantinya, yaitu adiknya La Pusaso, bahwa mereka dan pengganti-penggantinya kelak akan saling menolong dalam waktu kesusahan”. Perjanjian ini menjadi dasar bagi intervensi Sultan dalam konflik ini.

Sultan Buton berupaya  menjadi mediator konflik, dengan konsekuensi logis siapa yang menolak mediasi Sultan akan dianggap sebagai musuh Buton. La Ode Ngkada akhirnya mundur dari konflik tersebut karena menolak mediasi sultan, tetapi tidak mau berperang dengan Buton. Sebagai kapitalao Lohia ia digantikan oleh La Ode Tau.

La Ode Bulai, yang telah lari dari negerinya dianggap tidak pantas lagi menjadi lakina Muna dan diturunkan dari jabatannya oleh Sara Muna. Karena tidak ada pengganti yang pantas menggantinya, Sara Muna meminta restu dan persetujuan Sultan Buton untuk mengangkat seorang kapitalao Buton, yaitu La Ode Ali sebagai lakina Muna. Pemerintahannya tidak lama, ia kembali ke Buton dan meninggalkan pemerintahan kepada Bhonto Balano La Aka selama dua tahun, sampai Sara Muna mengangkat lakina Muna baru yang bernama La Ode Kaili (putera La Ode Arabu, seorang kapitalao Lohia).

Pengangkatan La Ode Kaili memantik konflik politik baru dengan La Ode Tau yang menggunakan isu ketidakadilan pembagian hasil perdagangan antara pihak ‘keraton’ dengan Sara Muna. Beberapa bangsawan Muna bahkan Sara Muna kemudian balik mendukung La Ode Tau untuk menggulingkan La Ode Kaili. Konflik ini berujung pada pengangkatan La Ode Ahmad yang diusulkan La Ode Tau sebagai Lakina Muna yang baru dan disetujui oleh Sara Muna.

Konflik politik terakhir yang direkam oleh Couvreu adalah konflik antara La Ode Rere dengan Sultan  Buton. La Ode Rere merupakan cucu La Ode Bulai. Ia diangkat menjadi Lakina Muna oleh Sara Buton dengan Keputusan Sara Buton tanggal 29 September 1926 No. 67). Segera setelah pengangkatannya, La Ode Rere melakukan insub-ordinasi dan provokasi terhadap Sultan Buton. Salah satunya, dia menolak perhiasan kerajaan Muna diserahkan kepadanya oleh Pemerintah otonom Buton karena dianggap simbol sub ordinasi kekuasaan Muna terhadap Buton. Dia akhirnya dipecat oleh pemerintah otonom Buton. Pengganti La Ode Rere adalah La Ode Dika yang dikukuhkan dengan keputusan pemerintah otonom tanggal 9 Agustus 1930 No.15, maka La Ode Dika diangkat menjadi lakina Muna. Pemerintahan La Ode Dika sebagai lakina Muna, sama dengan masa pemerintahan Jules Couvreu sebagai pejabat setingkat Bupati Pemerintah Hindia Belanda di Muna (1933-1935).

Demikian sekelumit catatan Couvreu tentang konflik politik yang muncul dalam decade perjalanan sejarah Kerajaan Muna. Catatan ini bisa jadi masih lemah dan kurang, jika ditelaah ulang dari kaca mata sejarah orang Muna. Itulah fungsi ulasan ini, menggelitik nalar intelektual anak muda Muda agar menulis sendiri sejarahnya dengan pendekatan Auto-Etnografi yang pasti lebih kaya informan dan referensi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *