Militer Rusia Mengejar Keunggulan Strategis

Militer Rusia Mengejar Keunggulan Strategis

MUNABANGKIT – Sejak Presiden Vladimir Putin mengambil alih kepemimpinan Rusia, pertumbuhan ekonomi selalu diselaraskan dengan modernisasi militer dan penguatan angkatan perang. Militer Rusia yang sempat mengalami kemunduran pasca keruntuhan Uni Soviet, direvitalisasi dan dimodernisasi dengan alokasi anggaran militer yang cukup fantastis. Presiden Putin menjanjikan kebangkitan Rusia ditengah perluasan NATO dan ancaman terorisme di wilayah kaukasus.

Pengalaman perang singkat dengan Republik Georgia, krisis Suriah, dan krisis Ukraina termasuk perang Chechnya I dan II memberi perhatian utama bagi Presiden Putin untuk melakukan re-organisasi struktur angkatan perang dan modernisasi peralatan tempur. Semua itu terjadi ditengah perubahan geopolitik global dan persaingan teknologi militer dari Negara-negara besar.

Seperti diulas oleh RBTH.com bahwa Pada 2016, Pasukan Distrik Militer Pusat dipasok lebih dari 700 unit model persenjataan teknologi tempur terbaru: sistem Iskander-M, sistem artileri antipesawat Pantsir-S1, delapan pesawat, tiga helikopter modern Mi-24, serta lebih dari 50 tank T-72B3. Lebih dari 650 unit teknologi tempur modern dikirim ke pasukan di Distrik Militer Timur, termasuk sistem misil Iskander-M, sistem misil pesisir Bastion, sistem antimisil Tor, serta peluncur roket Tornado-G. Di Timur Jauh, kelompok militer di Kepulauan Kuril mendapat sistem misil pesisir Bal dan Bastion, sementara militer di Kamchatka menerima sistem artileri antipesawat Pantsir-S1.

AL Rusia mendapatkan 24 kapal sepanjang 2016. Armada Laut Hitam merupakan armada yang paling banyak menerima kapal dan kapal selam. Di antara kapal-kapal yang dikirim ialah dua kapal selam disel-elektrik Veliky Novgorod dan Kolpino dari Proyek 636.3. Kapal-kapal tersebut dilengkapi dengan sistem serangan misil berpresisi tinggi Kalibr, yang digunakan untuk menyerang target darat dan laut, serta aviasi yang telah dimodernisasi. Kalibr telah membuktikan  keampuhannya di Suriah. Kapal selam Rusia dapat meluncrukan misil Kalibr-PL dengan torpedo mereka pada jarak 1.500 kilometer. Akurasi serangan misil mencapai beberapa meter dari target yang disasar. Selain itu, Angkatan Laut Rusia juga menerima lebih dari seratus misil antikapal Kalibr dan Onix.

Pasukan Kedirgantaraan Rusia mendapat 139 pesawat modern dan empat resimen misil antipesawat yang dilengkapi dengan sistem misil antipesawat S-400. Unit udara di Wilayah Primorsky dan Karelia menerima pesawat tempur Su-35S terbaru yang sudah membuktikan kemampuan tempurnya di Suriah. Pasukan Kedirgantaraan juga menerima pesawat pengebom strategis Tu-160M dan Tu-95MS yang telah dimodernisasi. Perusahaan Helikopter Rusia memasok pasukan dengan pengiriman helikopter Mi-28N, Ka-52, dan Mi-35M, serta helikopter angkut militer kelas berat Mi-26.

Angkatan Darat Rusia menerima 2.930 model senjata baru dan yang telah dimodernisasi. Sebanyak 22 ribu perangkat komunikasi dan 260 kendaraan udara tak berawak telah dikirim ke pasukan. Mereka juga membentuk 36 unit dan divisi militer drone. Secara keseluruhan, pasukan memiliki lebih dari 600 sistem dan dua ribu drone, termasuk sistem terbaru Orlan-10 dan Eleron-3.

Pada 2016, 23 misil bergerak dan stasioner Yars dikirim ke Pasukan Misil Strategis Rusia. Secara keseluruhanm mereka kini memiliki 400 misil balistik antarbenua berhulu ledak nuklir dengan beragam kapasitas. Lebih dari 60 persen senjata strategis pasukan nuklir dan hulu ledaknya terkonsentrasi di Pasukan Misil Strategis. (AHM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *