Menghidupkan Cerita Rakyat Muna

Menghidupkan Cerita Rakyat Muna

Cerita rakyat nyaris dimiliki seluruh rakyat Indonesia yang mengandung nilai-nilai kebajikan (vistues) dan pesan moral yang bisa menjadi bahan pembelajaran dan refleksi dalam kehidupan sehari-hari.  Kita di  Indonesia mengenal cerita Maling Kundang dari etnik Minagkabau yang mengandung makna dan pesan moral bagi kehidupan bahwa sebagai seorang anak tidak boleh durhaka pada orang tuanya tatkala sudah punya harta melimpah apalagi malu kalau orangtuanya miskin. Namun, masih banyak cerita-cerita rakyat lain di Indonesia tak terkecuali di Pulau Muna. Rakyat Muna juga punya cerita-cerita rakyat yang bersifat legenda dan mengandung nilai-nilai kebajikan dan pesan moral seperti cerita Tula-Tulano Liwu Motonuno, Tula Tulano Ratono Fitu Ghulu Bidadari, La Moelu Si Anak Yatim, La Moelu, Burung Ntaapo-apo, dan Wa Ode Kaengufaari.

Cerita-cerita rakyat ini di masa lalu dijadikan bahan untuk mengantarkan anaknya tidur atau memberikan pesar-pesan moral kepada anak yang dilakukan di waktu senggang. Sayangnya di masa kini cerita-cerita rakyat ini sudah tidak ada yang melestarikannya. Barangkali hanya orang-orang tua dan bermukim di kampung yang menceritakan kisah-kisah legenda ini kepada anak-anaknya. Padahal semua cerita-cerita rakyat ini bisa dibukukan atau dijadikan pentas seni teatrikal atau dibuat sebagai karya sastera berbentuk  cerita pendek. Bisa dibuat dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing atau bahasa daerah Muna yang dapat dijadikan bahan pembejaran di sekolah-sekolah. Tentu di masyarakat dunia kita mengenal cerita Don quixote,  Robinson Cruse, Cinderella, Romeo dan Juliet serta Mark Twin. Kisah – kisah ini melegenda sehingga  menjadi para ilmuwan dunia, sastrawan dan filosof-filosof besar yang menginspirasi gerakan pencerahan (Aufklarung) pada masa renaisanse Eropa melalui aliran filsafat romantisme-nya Spinoza.

Bisakah certa-cerita rakyat Muna baik yang sudah tertulis atau masih dalam tradisi lisan atau bahkan sudah nyaris punah dikisahkan kembali dan ditulis untuk membangun tradisi membaca dan menulis bagi anak-anak muda sekaligus sebagai bentuk dari “Gerakan Kebudayaan” di Muna? Bahkan kita tidak pernah tahu bahwa cerita legenda Sawerigading yang tertulis dalam lembaran karya sastra terpanjang di dunia “Lagaligo” memiliki kaitan dengan kisah-kisah legenda di pulau Muna. Mungkin kita tidak pernah menyadari bahwa negara–negara Skandinavia yang memiliki tingkat kesejahteraan dan indeks kebahagiaan tertinggi di dunia memiliki cerita-cerita  rakyat yang melegenda yang mengandung pesan moral universal di dalamnya, seperti di Denmark yang terkenal dengan cerita-cerita dongeng karya  Hans Christian Andersen.  Mengapa kita di Muna tidak menghidupkan kembali cerita-cerita rakyat itu yang bisa menginspirasi dan memotivasi karena di dalamnya mengandung pesan moral, dan nilai-nilai universal seperti keadilan, keberanian, kejujuran dan  gotong royong yang sekarang sudah kian tergerus akibat hegemoni kapitalisme dan globalisasi yang kita ikut terbawa arus di dalamnya.

Barangkali akan lebih elok jika di pulau Muna menghidupkan kembali karya–karya seni dan  sastra,  serta media aktualisasi dan apresiasinya lewat pengembangan sebuah Bentara Budaya dan Kesenian Rakyat Muna. Tentu ini membutuhkan dana yang besar. Tapi, bila publik sudah familiar dan mengenalnya akan memberikan manfaat secara sosial maupun ekonomi.  Apalagi saat ini, jaringan teknologi informasi dan komunikasi dapat mempromosikan apapun yang memiliki nilai budaya yang unik dan khas. Jadi, kalau ingin membangkitkan Muna, maka marilah membangkitkan budayanya karena itu akan mereduksi dan mengurangi konflik sosial karena semua memahami arti dan makna yang terkandung dalam nilai-nilai kebudayaan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *