Mengembangkan Poros Ekonomi Muna-Buton-Wakatobi

Mengembangkan Poros Ekonomi Muna-Buton-Wakatobi

Pendekatan pembangunan ekonomi di era otonomi daerah tengah tren dengan konsep pembangunan kewilayahan berbasis kawasan. Dalam pendekatan ini, sekat-sekat administratif-geografis mulai dikesampingkan agar membuka ruang yang luas bagi pertumbuhan kawasan secara holisitik. Data statistika provinsi Sulawesi Tenggara memperlihatkan realitas pertumbuhan ekonomi dan sosial pada kawasan-kawasan kontinental seperti Kendari, Bombana, atau Konawe dengan pertumbuhan yang tinggi, sementara wilayah-wilayah dengan karakteristik kawasan kepulauan seperti Muna, Buton, dan Wakatobi cukup tertinggal. Indikator-indikator sederhana dapat dilihat dari PDRB, IPM, atau Pendapatan Perkapita.

Permasalahan utama yang dihadapi oleh wilayah dengan karakteristik kawasan berupa gugus pulau (terpisah dari dataran utama) adalah lemahnya aksesibilitas serta dukungan sarana dan prasarana untuk mendorong investasi, kehadiran industri, serta perkembangan sektor jasa. Kendala lainnya adalah keterbatasan anggaran daerah untuk melakukan pembangunan fisik untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur yang mampu menjawab kesenjangan dimaksud. Pengembangan dan pembangunan wilayah dengan pendekatan kawasan diharapkan mampu menjawab tantangan dan masalah-masalah di atas, sehingga semua wilayah yang terisolasi dari akses pembangunan dapat tumbuh dan berkembang bersama.

Dalam konteks pembangunan wilayah-wilayah kepulauan di Provinsi Sulawesi Tenggara seperti Muna, Buton, dan Wakatobi, target pertumbuhannya dapat dicapai dengan pendekatan kawasan, dimana aksi afirmatifnya dapat dilakukan dengan membangun sebuah poros ekonomi kawasan kepulauan tersebut. Gagasan pembangunan ini dapat disebut dengan Poros Ekonomi Muna, Buton, Wakatobi atau disingkat Poros Ekonomi Munatonbi.

Bupati Muna yang baru terpilih Laode Muhammad Rusman Emba, menyadari potensi pengembangan tiga wilayah kepulauan ini, dan berkomitmen untuk membangun komunikasi bersama lintas kawasan dalam mempercepat investasi dan industrialisasi di dalam kawasan. Misalnya, destinasi wisata bahari dan wisata sejarah antar tiga wilayah ini dapat dihubungkan dalam suatu rute destinasi yang mudah dan pasti, sehingga para wisatawan dapat menikmati paket perjalanan wisata di segitiga kawasan dengan aman, nyaman, dan murah.

Tentu gagasan ini memerlukan kerjasama multi level dan multi pihak melibatkan berbagai pemangku kepentingan, pemerintah, swasta, serta masyarakat. Beberapa gagasan awal yang sedang diinisiasi adalah revitalisasi pelabuhan laut di Kota Raha, serta revitalisasi Bandar Udara Sugimanuru. Langkah berikutnya adalah menggagas kerjasama dengan pihak swasta dalam menyediakan jalur trasportasi laut dan udara dari dan ke daratan utama (Kendari dan Makasar), juga jalur transportasi antar kawasan (Muna-Buton-Wakatobi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *