Mengejar Ketertinggalan IPM Muna

Mengejar Ketertinggalan IPM Muna

Salah satu komponen pembentuk IPM adalah dari dimensi pengetahuan yang diukur melalui tingkat pendidikan. Dalam hal ini, indikator yang digunakan adalah rata-rata lama sekolah (RLS) dan harapan lama sekolah (HLS). Pada proses pembentukan IPM, rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah diberi bobot yang sama, kemudian penggabungan kedua indikator ini digunakan sebagai indeks pendidikan sebagai salah satu komponen pembentuk IPM.

Rata-rata lama sekolah menggambarkan jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk usia 25 tahun ke atas dalam menjalani pendidikan formal. Penghitungan rata-rata lama sekolah menggunakan dua batasan yang dipakai sesuai kesepakatan UNDP. Rata-rata lama sekolah memiliki batas maksimumnya 15 tahun dan batas minimum sebesar 0 tahun.

Harapan lama sekolah didefinisikan sebagai lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Harapan lama sekolah dihitung untuk penduduk berusia 7 tahun ke atas. Indikator ini dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang yang ditunjukkan dalam bentuk lamanya pendidikan (dalam tahun) yang diharapkan dapat dicapai oleh setiap anak. Seperti halnya rata-rata lama sekolah, harapan lama sekolah juga menggunakan batasan yang dipakai sesuai kesepakatan UNDP. Batas maksimum untuk harapan lama sekolah adalah 18 tahun, sedangkan batas minimumnya 0 (nol).

Berdasarkan data rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah Kabupaten Muna, terlihat bahwa sesungguhnya kesadaran masyarakat Muna untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya sangat besar, yaitu 12,89 tahun. Angka ini cukup tinggi untuk ukuran Sulawesi Tenggara dimana hanya kalah dari Kota Kendari, Kota Baubau dan Kabupaten Konawe. Tidak demikian halnya dengan rata-rata lama sekolah yang hanya 7,33 tahun, jauh lebih rendah dari Kota Kendari dan Kota Baubau, bahkan rata-rata lama sekolah di Kabupaten Muna berada pada peringkat ke-12 dari 17 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara.

Fakta di atas dapat menggambarkan bahwa penduduk yang ada di Kabupaten Muna yang berusia 25 tahun ke atas saat ini mengenyam pendidikan rata-rata hanya sampai SMP Kelas 2, yang sangat kontras dengan harapan lama sekolah dimana harpanannya melanjutkan pendidikan hingga jenjang Perguruan Tinggi. Data tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat Muna sebagian besar melanjutkan pendidikan tinggi di luar daerah Kabupaten Muna seperti Kota Kendari, Kota Baubau, Kota Makassar, dan kota lainnya, kemudian mencari pekerjaan di kota-kota besar dan menjadi penduduk di kota dimana mereka bekerja, sedangkan penduduk yang tidak melanjutkan pendidikan tinggi tetap berada di Muna dan bekerja pada sektor-sektor yang tidak membutuhkan pendidikan tinggi, seperti petani, nelayan dan buruh. Akibatnya rata-rata lama sekolah masyarakat Muna yang berusian 25 tahun ke atas saat ini sangat rendah. Lalu, strategi apa yang harus dilakukan agar rata-rata lama sekolah ini dapat meningkat yang pada akhirnya akan meningkatkan indeks pendidikan sebagai komponen pembentuk IPM? Salah satunya dan menjadi prioritas adalah mendirikan perguruan tinggi berkualitas berbentuk universitas.

Salah satu visi Bupati dan Wakil Bupati Muna 2016 – 2021 adalah “Adanya kebijakan pemerintah daerah guna terwujudnya perguruan tinggi yang representatif dan dikelola secara profesional”. Hal ini menunjukan bahwa Rusman Emba dan Malik Ditu menyadari sepenuhnya urgensi dari pendirian perguruan tinggi tersebut. Jika pendirian perguruan tinggi terealisasi maka akan berpengaruh secara langsung pada meningkatnya rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah. Kenapa demikian? Dengan berdirinya perguruan tinggi, maka masyarakat Muna yang berpendidikan tinggi (S2 atau S3) yang ada di luar daerah akan terpanggil untuk mengabdikan dirinya pada perguruan tinggi tersebut. Sehingga rata-rata lama sekolah akan naik signifikan. Demikian juga harapan lama sekolah akan meningkat dengan sendirinya, karena dengan adanya perguruan tinggi di Muna, maka biaya melanjutkan perguruan tinggi akan jauh lebih murah dibanding jika melanjutkan pendidikan di luar daerah. Ingat! Biaya terbesar yang dikeluarkan oleh mahasiswa adalah biaya hidup.

Jika pendirian perguruan tinggi ini cepat terealisasi, maka kualitas sumberdaya manusia Kabupaten Muna akan meningkat dan bukan tidak mungkin akan menarik minat industri yang membutuhkan pekerja terdidik akan berdatangan di Kabupaten Muna. Di samping itu, pendirian perguruan tinggi juga akan memiliki multiply effect terhadap perekonomian masyarakat, yang pada akhirnya akan menumbuhkan sektor-sektor usaha produktif yang tentu akan meningkatkan rata-rata pendapatan masyarakat. Dengan demikan indeks hidup layak pun akan meningkat.

Pendirian perguruan tinggi ini akan membuat IPM Kabupaten Muna meningkat pesat dan bukan tidak mungkin akan berada di atas rata-rata IPM Sulawesi Tenggara atau rata-rata IPM Nasional. Bahkan dalam 5 tahun mendatang, bukan hal yang mustahil IPM Kabupaten Muna akan mendekati IPM Kota Kendari.

Semoga.

One Comment

  • saya Salut dengan program pmbangunan IPM, tp alangkah baiknya pmbangunan tersebut diiringi dngn pola pikir serta strategi kecil untuk mengurangi pengangguran… semangat untuk msuk dan untuk keluar dari perguruan tinggi tidak berapi-api sperti dlu lgi… Krn mlihat kedepan, masuk kuliah selangkah lgi mnuju pengangguran, buru-buru mnyelesaikan kuliah “slmat bergbung dkomunitas nganggur” knpa dmikiAN????? ad kampus didaerah sndiri namun harus cari kerja dtmpt lain… Sia2 bljar teori dkmpung sndiri n harus praktek ddaerah orang……

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *