Petani Keren, Menjawab Isu Degenerasi Petani
Foto by blog.muchlas.web.id

Petani Keren, Menjawab Isu Degenerasi Petani

Pertanian di Kabupaten Muna sedang mengalami tantangan yang serius. Tidak hanya  menurunnya kualitas kesuburan lahan dan stagnasi produksi, namun jumlah petani juga ikut menurun. Hal tersebut juga dirasakan di Pulau Jawa dan daerah lainnya. Menurunnya jumlah petani terutama generasi muda disebabkan sektor pertanian tak kunjung memberikan jaminan kesejahteraan.

Selain alasan utama ekonomi, juga sejumlah alasan lain yang tertanam di generasi muda saat ini adalah pertanian identik dengan kumuh, kotor, miskin dan jika menjadi petani tidak akan mendapatkan pacar alias jodoh. Dengan stigma demikian, generasi muda menjadikan sektor pertanian bukan sebagai pilihan untuk bekerja. Mereka lebih suka bekerja sebagai buruh pabrik, kantoran atau memilih bekerja di kota.

Dalam kerangka konsep pembangunan, penurunan jumah petani dipandang sebagai sebuah kemajuan. Semakin sedikit jumlah petani, semakin efisien proses budidaya. Para ahli berpendapat bahwa semakin sedikit jumlah tenaga kerja disektor pertanian merupakan keberhasilan pembangunan. Tenaga kerja beralih ke sektor industri dan jasa, dalam kacamata pembangunan semacam ini hanya industri yang bisa memajukan suatu bangsa. Persoalannya tak hanya soal efisiensi dan kemajuan industri semata. Namun berkurangnya jumlah petani akan berimplikasi pada menurunnya ketersediaan pangan produk dalam negeri sebagai dampak dari penurunan jumlah petani dan cita-cita pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan akan menjadi sebuah keniscayaan.

Data BPS Kabupaten Muna dalam angka mencatat bahwa dalam kurun waktu 5 tahun (2010-2015), jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian berkurang sebanyak 7% dari total  42.251 penduduk yang bekerja di sektor pertanian. Hal yang sama juga terjadi di wilayah lain, secara nasional data BPS mencatat bahwa dalam kurun 10 tahun (2003-2013), jumlah rumah tangga petani berkurang sebanyak 5 juta. Angka ini cukup besar dan memberikan implikasi bagi keberlanjutan sektor pertanian serta menunjukkan fakta terjadinya proses degenerasi petani muda.

Dari sekian rumah tangga petani yang bekerja di sektor pertanian tersebut, rata-rata berumur sudah tua yaitu sebanyak 60,8 persen berusia diatas 50 tahun dengan pendidikan hanya tingkat SD. Sementara proses regenerasi berjalan sangat lambat terutama pada sektor tanaman pangan. Hal ini dikarenakan sebagian besar orang tua usaha tani tidak menginginkan anaknya menjadi petani. Keinginan akan regenerasi dikalangan orang tua ini berkaitan dengan tingkat kesejahteraan yang ditunjukan oleh keuntungan atau pendapatan.

Untuk mendorong regenerasi petani perlu kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang menyasar pada orang tua dan  generasi muda. Hal yang paling penting dilakukan adalah merubah wajah pertanian dan membuat keluarga petani lebih sejahtera. Peningkatan akses dan kepemilikan lahan keluarga petani, peningkatan sarana dan prasarana termasuk sarana transportasi, serta kepastian penghasilan dengan kebijakan harga yang baik.

Selain itu, pendekatan subsidi output berupa harga jual juga perlu dipertimbangkan untuk menjamin peningkatan minat orang tua menjadikan anaknya sebagai petani. Pada sisi lain perlu juga dilakukan kebijakan yang khusus kepada generasi muda terkait dengan upaya peningkatan pengetahuan tentang berbagai hal di bidang pertanian. Pembenahan pendidikan vokasi sampai pada tingkat pendidikan tinggi perlu didorong untuk menciptakan tenaga kerja berpendidikan masuk di sektor pertanian.

Dalam sebuah kesempatan, Rusman Emba telah merespon persoalan peningkatan kapasitas SDM Muna melalui pembenahan pendidikan vokasi. Alangkah baiknya jika pendidikan vokasi dbangun berdasarkan keunggulan komparatif daerah. Pertanian adalah salah satu keunggulan komparatif Muna. Sehingga salah satu bentuk pendidikan vokasi yang perlu dibangun adalah berbasis pertanian.

Persoalan degenerasi petani perlu menyesuaikan dengan perkembangan teknologi saat ini dengan berkembangnya teknologi informasi yang massif.  Pembangunan pertanian di Muna perlu diintegrasikan dengan memanfaatkan Information Communication Technology (ICT). Pemanfaatan ICT dapat dimanfaatkan oleh generasi muda untuk mencari bibit unggul, memasarkan produk pertanian, akses permodalan dan akses terhadap teknologi. Pada tingkat komunitas, dapat dibangun semacam pusat informasi pertanian berbasis pemanfaatan IT yang digerakkan oleh generasi muda Muna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *