Upaya Mencerdaskan Generasi Muda Muna

Upaya Mencerdaskan Generasi Muda Muna

Salah satu tujuan negara yang tercantum alinea keempat dalam Pembukaan UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dilakukan melalui pendidikan. Kemajuan  kualitas  pendidikan yang mumpuni mampu meningkatkan daya saing sebuah bangsa. Singapura adalah contohnya. Sebelum Singapura menjadi negara maju, dulu hanyalah sebuah daerah tempat persinggahan dan berupa rawa-rawa. Setelah menjadi negara merdeka, Singapura mulai melakukan proses pembangunan. Langkah awal pembangunan yang dilakukan ialah memajukan sumber daya manusia (SDM). SDM-lah yang membuat Singapura kini jadi negara maju dan mendapat predikat keajaiban Asia.

Awal kebangkitan Singapura, dimulai ketika Lew Kuan Yew (LKY), memimpin Singapura. Dialah yang mengarsiteki pembangunan Singapura melalui pengembangan SDM. Padahal, Singapura tidak mempunyai Sumber Daya Alam (SDA). Tapi, apa yang dilakukan LKY membuat Singapura menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita penduduknya lebih dari US$ 40.000. Pengalaman Singapura ini sempat ditiru Indonesia di masa Orde Lama maupun Orde Baru. Di masa Orde Lama, sekitar  tahun 60-an, para pemuda Indonesia dikirim le luar negeri untuk mengeyam pendidikan sarjana maupun pascasarjana. Tapi, sebagian tidak berhasil pulang ke tanah air karena peristiwa G30S/PKI tahun 1965, terutama mereka yang kuliah di negara-negara Eropa Timur yang berhaluan komunis. Meskipun belum tentu mereka terlibat peristiwa politik itu. Salah satu orang yang balik ke Indonesia dan hasil produk pendidikan era Orde Lama yaitu Prof. Dr. BJ Habibie yang kemampuannya diakui secara nasional maupun internasional terkait soal pesawat terbang. Karena temuannya soal kemampuan menghitung tingkat keretakan sayap pesawat terbang, sehingga Habibie digelari Mr. Crack.  Bahkan, konon kabarnya ada orang Muna pada masa Orde Lama itu yang juga mengenyam pendidikan di Jerman tapi tidak pulang ke Indonesia tanpa sebab yang jelas yang namanya kalau tidak salah Abdul Kadir. Konon kabarnya berasal dari Watuputih atau Bangkali, terlepas dari benar atau tidak yang mesti diklarifikasi lagi keotentikannya. Ini hanya contoh kecil. Saat ini sejak Orba hingga kini sudah banyak generasi Muna yang mengenyam pendidikan di negara-negara maju seperti Jepang, Eropa, Australia, Amerika Serikat dan negara-negara ASEAN.

Lalu, pada masa Orde Baru pengalaman ini dilakukan oleh BJ. Habibie yang saat itu menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) merangkap Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan mengirim putra putri terbaik bangsa melalui bea siswa ke universitas-universitas  terbaik di negara maju. Tapi, sayangnya pasca kebijakan itu tidak dilanjutkan di era reformasi dan tidak adanya bidang kerja mereka di Indonesia, sebagian mereka bekerja di pabrik pesawat Boeing, Silicon Valley hingga perusahaan perkapalan di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Tentu, cerita ini bisa menjadi inspirasi untuk membangun SDM Muna yang berkualitas di masa datang. Apalagi SDA pulau Muna kian menipis akibat eksploitasi yang berlebihan. Melalui pembangunan SDM yang berkualitas, tidak menutup kemungkinan Muna akan menjadi sebuah daerah yang mampu melaksanakan pembangunannya tanpa harus sepenuhnya mengandalkan SDA, tetapi berbasiskan dua  hal pokok yaitu, sumber daya alam (SDA) dan sumberdaya manusia dengan basis pengetahuan (knowledge).  Dengan berkembangnya SDM yang berkualitas akan berkembang pada aktivitas ekonomi kreatif yaitu kewirausahaan berbasis teknologi (technopreneurship).

Bagaimana untuk dapat mewujudkan hal itu? Pertama, memperbaiki kualitas pendidikan dasar dan menengah. Hal pokok yang menentukan kualitas pendidikan dasar dan menengah ialah bagaimana meningkatkan kualitas guru terutama guru–guru eksakta seperti Matematikan, IPA (Fisikia, Kimia) dan Teknologi Informasi. Mengapa guru-guru eksakta didahulukan? Sebab, mata pelajaran ini adalah ilmu-ilmu dasar yang bisa membangun peradaban yang kuat. Kemajuan peradaban Islam selama 500 tahun harus diakui karena berkembang pesatnya ilmu-ilmu dasar eksakta (matematika, kimia, fisika), astronomi, dan filsafat. Begitu pula berkembangnya Eropa yang melahirkan era pencerahan (renaissance) karena berkembang pesatnya ilmu-ilmu dasar, filsafat, sastera dan ilmu sosial kritis (sosiologi) dan ilmu ekonomi.

Selama ini sudah menjadi rahasia umum bahwa mata pelajaran eksakta seolah-olah telah menjadi “hantu” bagi anak didik. Masalahnya, bukannya anak-anak didik yang “bodoh”, tetapi karena metode pengajarannya  yang kurang tepat. Bisa saja yang diajarkan benar tapi metodenya tidak tepat. Patut kita belajar dari metode pangajaran yang dilakukan Prof. Yohanes Surya yang mengambil anak-anak Papua, kemudian dibina di lembaganya yang pengajarnya sebagian alumnus pemenang olimpiade matematika, fisika, kimia, dan sains. Apa yang terjadi, anak-anak didikannya tadi akhinya banyak memenangkan medali emas, perak dan perunggu olimpiade matematika, fisika, kimia dan sains di level internasional maupun regional. Masalahnya, apakah mungkin Pemda Muna mengalokasikan anggaran buat para guru SD dan sekolah menengah untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas guru agar menguasai beragam metode pengajaran ilmu-ilmu dasar tersebut. Misalnya, guru belajar selama tiga bulan di pusat pembelajarannya Prof. Surya. Sebab, dewasa ini sudah banyak metode pengajaran yang menarik dan mudah bagi anak didik untuk memahami ilmu-ilmu dasar tadi. Sehingga ilmu-ilmu dasar tersebut tidak lagi menghantui siswa. Apalagi sekarang kemajuan teknologi informasi (internet) telah menampilkan metode-metode pengajaran ilmu eksakta hingga penguasaan bahasa asing secara online. Jangan lagi kemajuan teknologi informasi hanya dijadikan ajang menyebar informasi palsu (hoax) hingga berpolemik mengenai hal-hal yang tidak produktif.

Kedua, membangun sekolah unggulan menengah buat anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Hal ini bisa saja dilakukan para orang-orang Muna di perantauan yang telah memiliki kemampuan dan jaringan bisnis yang kuat. Beberapa tokoh di Indonesia telah melakukan hal serupa, seperti Wiranto dan Pak Habibie yang membangun sekolah unggulan di Gorontalo, Luhut Binsar Panjaitan yang membangun hal serupa di Tapanuli Utara, dan Akbar Tanjung juga di kampung halamannya Tapanuli Selatan dan tokoh-tokoh lain di Indonesia. Apa hasilnya, alumni sekolah-sekolah tadi umumnya membanjiri perguruan tinggi elit di Jawa seperti UI, ITB, IPB, Univ Airlangga, UGM, ITS dan lain-lain. Bahkan, tidak jarang dari mereka mengenyam pendidikan sarjana langsung ke Eropa, Amerika Serikat dan Asia Tenggara dengan memanfaatkan bea siswa. Tentu ditunjang kemampuan akademis dan bahasa asing yang memadai. Model-model semacam ini bukan hal yang mengawang-awang tapi sudah banyak fakta empiris yang membuktikannya.

Pertanyaannya, apakah para tokoh dan seluruh komponan masayarakat Muna tidak bisa melakukan hal serupa?  Lalu pertanyaan berikut, apakah mereka itu kalau sudah berhasil haruskah kembali ke pulau Muna? Pertanyaan ini klasik dan tidak relevan. Sebab, memajukan Muna tidak harus pulang kampung. Mereka  yang sukses dalam bidang pendidikan ini, dapat saja bekerja di berbagai bidang di seluruh Indonesia, ASEAN maupun negara-negara maju. Apa yang bisa didapatkan pemerintah dan rakyat Muna? Pertama, mereka bisa memfasilitasi jaringan nasional maupun internasional untuk mentrasformasikan pengetahuan, teknologi dan keterampilan. Kedua, memperkuat dan memperluas jaringan bisnis, pemasaran dan akses ekonomi yang mampu mendayagunakan SDA maupun sumber daya pengetahuan (SDP), misalnya ekonomi kreatif di pulau Muna. Ketiga, secara tidak langsung dapat menjadi “duta” bagi pulau Muna di mana dia berada dengan beragam profesi baik sebagai aparat keamanan negara, profesional, pelaku usaha di sektor swasta nasional, BUMN, perusahaan multinasional, pendidik (dosen dan guru), birokrat pemerintahan pusat, aktivis LSM, pegiat media massa, politisi hingga pegiat budaya.

Lalu, apa prasyarat yang mesti dipenuhi untuk mewujudkan gagasan besar ini? Terdapat beberapa hal yang mesti dilakukan, pertama, menggeser cara pandang (paradigm shift) bahwa apa yang dilakukan komponen masyarakat yang ada di luar daerah Muna demi kampung halaman, tanpa ada tendensi hendak berkuasa di daerah.

Kedua, adanya keterbukaan dan keikhlasan untuk menerima hal-hal baru dari luar tanpa mempersoalkan status sosial dan strereotype yang membelenggu diri masing-masing.

Sebaiknya, hal semacam ini diubah menjadi kekuatan karena itu menjadi nilai kebajikan dan modal sosial yang bisa diinternalisasikan dalam sistem birokrasi, aktivitas bisnis, dan perilaku politik. Perilaku disiplin, kerja keras dan jiwa ketataan pada Kaisar ditransformasikan dalam dunia bisnis sehingga lahirlah model majamenen modern yang khas yaitu “Total Quality Manajement (TQM).

Ketiga, adanya kemauan dan kesadaran kolektif semua komponen masyarakat Muna untuk berubah dengan mengabaikan dan mengakhiri konflik yang bersumber dari masalah politik. Jika kita mau maju atau kita tidak mau tertinggal terus tanpa akhir, maka kita sendiri harus mau merubahnya. Bukan orang lain yang bertindak sebagai “dewa” penyelamat.

Apa yang penulis uraiakan dalam gagasan ini hanya sekelumit ide untuk mewujudkan kemajuan kampung halaman khususnya mencerdaskan generasi mudanya tanpa pretensi apapun secara ekonomi maupun politik. Penulis yakin, masih banyak generasi Muna yang bertebaran di seantero negeri hingga di luar negeri yang mempunyai gagasan lebih bernas ketimbang yang penulis ungkapkan. Masalahnya, bagaimana sekarang melakukan “mobilisasi intelektual” tersebut sehingga menjadi bursa pemikiran yang bisa diaplikasikan di daerah.  Baca juga http://munabangkit.com/mengejar-ketertinggalan-ipm-muna/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *