Membangun Kampung Adat Muna Berbasis Ghoera
Foto, Rumah Adat Kampung Pulo, Garut Jawa Barat Kampung Adat Kampung Pulo

Membangun Kampung Adat Muna Berbasis Ghoera

Barangkali ada yang bertanya memang ada kampung adat di Pulau Muna? Kayak apa bentuknya? Apakah masih ada masyarakat adat yang masih mempertahankan cara hidup yang berbasiskan adat? Pasti pertanyaan-pertanyaan ini akan muncul dalam memori orang Muna maupun masyarakat Muna di perantauan. Sebetulnya secara empirik, Muna secara geografi di masa silam terbagi hingga kini terbagi atas empat wilayah “kerapatan” adat yang dalam bahasa Muna-nya disebut “Ghoera”. Ghoera itu terdiri dari ghoera Tongkuno, Kabawo, Katobu dan Barangka (Lawa). Masing-masing ghoera tadi memiliki makna tersendiri terkait kerapatan adat tersebut.

Merujuk pada empat wilayah tersebut, perlu membangun kampung adat berdasarkan kerapatan adat tersebut. Di Sumatera Barat kerapatan semacam itu di sebut Nagari.  Ini tentu tidak mustahil bagi Muna bila akan membangun kampung adat berdasarkan kerapatan adat. Sebab, setiap kerapatan adat tersebut berbasiskan etno-kultural geografis  dan memiliki keunikan tersendiri. Sehingga perlu revitalisasi dan rekonstruksi nilai yang berlaku dalam setiap wilayahnya. Meskipun, Muna sekarang sudah terbagi dua Kabupaten yaitu Kabupaten Muna dan Muna Barat tetapi wilayah kerapatan adat Ghoera tersebut tidak berubah. Supaya generasi muda Muna dan pihak luar memahami Ghoera tersebut, maka pembangunan kampung adat berbasis Ghoera sebuah keniscayaan.

Apa aktivitas yang dilakukan dalam kampung adat tersebut? Setidaknya, pertama, di setiap kampung adat mesti dibangun pada suatu areal/lahan tertentu karena di situ akan ada semacam kesatuan kerapatan adat. Di wilayah itu dibangun suatu model perkampungan adat ghoera. Misalnya, bagaimana bangunan rumah penguasa Ghoera, aparat di bawahnya dan rakyat kebanyakan. Kedua, bagaimana pola dan cara hidup mereka keseharian (bertani, mengolah lahan, membuat kuliner, menyimpan bahan pangan).

Ketiga, bagaimana membangun hubungan sosial dan pola komunikasi antar masyaraat di kampung adat (komunikasi antar pemangku adat, penguasa ghoera, rakyat biasa). Kelima, bagaimana aktivitas seni yang dilakukan di kampung adat tersebut terkait hubungan muda- mudi, kesenian rakyat, cara membuat layang-layang dan permainan tradisional anak di siang dan malam hari. Keenam, bagaimana bentuk pakaian yang digunakan oleh pemimpin ghoera, bawahannya dan rakyat kebanyakan. Ketujuh, apa saja upacara-upacara adat yang dilakukan terkait perkawinan, pembukaan ladang baru, panen hasil pertanian, kelahiran anak, anak jelang dewasa dan anak jelang jalan saat balita dan sebagainya.

Memang gagasan ini tidak mudah karena mesti mengumpulkan tokoh-tokoh setiap ghoera untuk mendapatkan pengetahuan dan referensi yang komprehensif. Pembangunan kampung adat ini adalah merupakan bagian dari destinasi wisata yang menarik. Karena rumah atau cottage yang dibangun di kampung adat sekaligus menjadi tempat pengunjung untuk menikmati kehidupan orang Muna masa silam. Bahkan, mereka bisa menginap di rumah-rumah perkampungan adat tersebut dalam melakukan aktivitas apa yang bisa dilakukan. Misalnya, ikut belajar menanam, membuat kabuto, memasak, ikut bermain musik, dan lain-lain.

Memang untuk membangun ini membutuhkan modal yang tidak kecil, tetapi jika ada kalangan pelaku usaha wisata domestik dan manca negara tidak mustahil akan terealisasi. Mungkin pemerintah daerah mulai memikirkan hal ini secara serius, menyiapakan studi kelayakan atau business plan-nya.

Tentu banyak pakar yang bisa terlibat untuk merancangnya seperti tokoh adat, ahli sejarah, kuliner, arsitek dan disain bangunan eksterior dan sosiologi untuk menyiapkan “model kampung adat ghoera” yang benar-benar ada. Modifikasi dalam bentuk bangunan dan infrastruktur tentu bisa terjadi tetapi tidak menghilangkan filosofis dan nilai-nilai yang berlaku dalam kampung adat tersebut.

Berkembangnya kampung adat ini, tidak hanya memberikan manfaat bagi rakyat dan generasi muda Muna. Akan tetapi akan memberikan pengetahuan bagi pihak luar untuk mengetahui kebudayaan khas orang Muna. Semoga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *