Memahami Nilai Kepemimpinan dalam Jejak La Kilaponto
Foto: Pejabat Daerah di Makam Sultan Murhum, by www.kompas.com

Memahami Nilai Kepemimpinan dalam Jejak La Kilaponto

Sejarah memberi banyak jejak untuk ditafsirkan sebagai proyeksi membangun masa depan. Bahkan kitab-kitab suci banyak mengandung ayat-ayat sosiologis yang menceritakan kehidupan umat/peradaban terdahulu agar umat manusia dapat memperoleh pelajaran dari cerita tersebut. Nusantara juga kaya akan khazanah sejarah yang disimpan dalam tradisi-tradisi lisan (tutur) maupun tulisan. Salah satunya adalah Kerajaan Buton dan sekitarnya yang menyimpan jejak-jejak cerita masa lampau yang mengandung nilai sebagai spirit membangun daerah.

La Kilaponto atau Sultan Murhum adalah salah satu legenda sejarah yang tidak habis dikupas melalui berbagai riset ilmiah sampai sekedar kajian sederhana. Tulisan ini adalah salah satu riset sederhana dari berbagai sumber tulisan untuk mengungkap perspektif sosiologi kepemimpinan dari nilai-nilai kepemimpinan personal yang membuat sang pemimpin melegenda di masyarakat Buton, Muna, Konawe, bahkan Selayar. Beberapa simpulan atas referensi yang dibedah memperlihatkan bahwa nilai dan seni kepemimpinan La Kilaponto dalam membangun Kesultanan Buton, diantaranya adalah:

Pertama, Semangat Belajar untuk menuntut ilmu agar memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas sebagai bekal membangun peradaban. Konon, ketika masih remaja, Lakilaponto dikirim oleh ayahnya Raja Muna merantau ke Kerajaan Buton untuk menuntut ilmu. Kerajaan Buton saat itu merupakan salah satu ‘suar’ peradaban di kawasan sulawesi.

Kedua, Suka Berpetualang untuk membuka cakrawala pengalaman baru melalui “diaspora” ke berbagai daerah baru dengan berbagai seting, mulai dari misi pertahanan (diutus Kerajaan Buton) ke daratan Sulawesi untuk membendung ekspansi kerajaan tetangga yakni Mekongga yang mengancam perbatasan Buton, juga memanfaatkan masa pengasingan untuk berpetualang di Selayar.

Ketiga, Sifat Pemberani dan Menantang Resiko. La Kilaponto dengan berani dan tegas langsung menerima tantangan Raja Buton (Raja Mulae) untuk membebaskan perairan kedaulatan Kerajaan Buton dari gangguan bajak laut La Bolontio dari Tobelo yang mengganggu jalur niaga laut antar pulau di perairan Buton. Sikap ini yang mengantar ia menikahi putri raja dan menjadi legitimasi pelanjut estafet kepemimpinan Buton.

Keempat, Luwes dan Adaptif terhadap adat, budaya, sistem, dan nilai baru. Sikap ini yang membuat La Kilaponto dapat diterima dengan baik di Kerajaan Buton, meskipun harus diakui bahwa hubungan kekerabatan yang dengan dengan Raja Buton juga menjadi salah satu sebab penerimaan elit dan masyarakat Buton terhadap La Kilaponto selama menetap disana.

Kelima, Visioner dan transformatif. Di era pemerintahan La Kilaponto, Islam masuk ke nusantara dan langsung diadopsi sebagai agama resmi kerajaan, sekaligus menjadi inspirasi utama penata-kelolaan pemerintahan baru yang berbentuk kesultanan. Transformasi radikal ini dipandang dari sisi geopolitik dan geostrategis, merupakan visi futuristik mengingat hampir seluruh kerajaan di nusantara dari ujung sumatera, pulau jawa sampai sulawesi telah menerima Islam. Demikian, jalur niaga dan bandar-bandar perniagaan nusantara didominasi oleh pedagang arab, india, dan tiongkok yang sebagian besar penganut Islam.

Kita tidak perlu belajar jauh ke Surabaya untuk meniru gaya kepemimpinan Risma, atau ke Bandung untuk mencontoh gaya kepemimpinan Kang Emil. Cukup bercermin dari khazanah nilai kepemimpinan La Kilaponto alias Sultan Murhum di atas, sekiranya dapat diterapkan oleh para pemimpin daerah modern di kawasan (Pulau Muna, Buton, Wakatobi, dan sekitarnya) dalam membangun daerah-daerah otonomi baru ditengah dinamika perubahan global dan lokal serta menjawab tantangan keamanan dan kesejahteraan di daerah.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *