Misteri Batu Berbunga (Kontu kowuna) dan Perahu Sawerigading
Foto : Pulau Muna, Sulawesi Tenggara

Misteri Batu Berbunga (Kontu kowuna) dan Perahu Sawerigading

Setiap daerah di Indonesia ini memliki cerita-cerita legenda yang bersifat misteri dan hanya diungkapkan secara turun temurun dari mulut ke mulut oleh penuturnya. Cerita – cerita itu hingga kini belum diketahui kesahihan dan bukti historis maupun ilmiah yang membenarkannya. Tapi, cerita-cerita itu masih hidup dan terpelihara dalam memori masyarakat yang mengetahui secara turun-temurun. Di Pulau Muna setidaknya ada dua cerita misteri yang belum ada bukti literasinya yang kuat yaitu Batu Berbunga (Kontu Kowuna: Bahasa Muna) dan Perahu Sawerigading.

Batu berbunga atau kontu kowuna adalah tiga buah batu besar yang berada di sekitar Kota Muna lama (Kota bekas Kerajaan Muna masa silam) yang disinyalir dapat berbunga pada waktu-waktu tertentu. Nama bersumber  dari sebuah tempat yang terdapat gugusan batu karang yang sewaktu-waktu mengeluarkan tunas-tunas baru yang tumbuh seperti bunga karang. Masyarakat Muna menyebutnya sebagai Kontu Kowuna yang berarti batu berbunga  Gugusan batu berbunga tersebut terletak di dekat masjid tua bernama Bahutara (bahtera). Menurut legenda masyarakat.  Masyarakat setempat menyebut tempat tersebut sebagai terdamparnya perahu Sawerigading, Putra Raja Luwu dari Sulawesi Selatan.

Hasil penelitian yang tercatat di Museum Karts Indonesia di Wonogiri, Jawa Tengah, menyatakan bahwa nyaris seluruh daerah di Pulau Muna tersusun dari batu gamping berumur pleistosen (sekitar 1,8 juta tahun yang lalu). Batu gamping tersebut merupakan terumbu karang yang terangkat dari dasar laut akibat desakan dari bawah dan membentuk tebing-tebing batu gamping (karts) yang sangat luas. Hal inilah yang secara ilmiah menjawab fenomena batu berbunga yang terjadi di Bahutara.

Hal ini juga sejalan dengan Salnudin (2012) yang menggunakan model pergerakan tektonik lempeng yang dibuat Hall (2001).  Dalam teori ini Salnudin berpendapat bahwa Pulau Muna secara material (daratannya) diduga telah terbentuk lama (lingkaran merah) namun masih menjadi bagian lempeng dasar laut atau bagian dari lempeng samudera.    Dari uraian singkat ini dapat kita menduga bahwa pulau Muna bisa saja ratusan juta tahun yang silam adalah kawasan terumbu karang. Akibat pergerakan lempeng tektonik tadi, karang yang memiliki bungan karang itu naik dan membentuk pulau Muna sekarang ini. Artinya, batu berbunga itu bisa saja adalah bunga karang yang berasal dari terumbu karang masa silam. Namun, dugaan ini mesti dibuktikan secara ilmiah melalui riset yang serius. Meskipun teori tektonik lempeng bisa dijadikan dasar untuk melakukan riset geologi yang komprehensif.

Dibalik basis teori ilmiah terkait batu berbunga tersebut sekitar abad 14-an semasa Kerajaan Majapahit, konon tertulis cerita soal putri Raja yang jatuh sakit dan tidak bisa disembuhkan penyakitnya. Para tabib Kerajaan berpendapat bahwa penyakit putri Raja tersebut akan sembuh jika menggunakan Bunga Wijayakusuma. Singkat cerita, bunga Wijayakusuma tersebut hanya ditemukan di suatu tempat tertentu yang lokasinya berada di bagian wilayah timur kepulauan Nusantara pada masa itu. Berangkatlah para utusan Raja ke arah timur wilayah Nusantara dan berhasil menemukan bunga wijayakusuma dan putri raja sembuh. Pertanyaannya, apakah Kontu Kowuna itu adalah Bunga Wijayakusuma yang dimaksud? Inilah yang disebut sebagai “Misteri”. Jadi, kemisteriannya apakah bunga dari Kontu kowuna itu ialah bunga wijayakusuma? Sebuah misteri yang perlu diteliti dan dikaji secara ilmiah dan bernilai potensi wisata yang unik.

Perahu Sawerigading

Misteri kedua yang ada di pulau Muna adalah perahu Sawerigading yang berlokasi di sebuah daerah yang disebut Bahutara yang tempat ditemukannya batu berbunga tersebut. Dalam epik sejarah di Pulau Sulawesi, Sawerigading dilukiskan sebagai orang sakti yang turun dari langit dan mempunyai kesaktian sehingga hampir semua kerajaan-kerajaan di pulau Sulawesi mengklaim dirinya keturunan Sawerigading. Termasuk Kerajaan Muna masa silam yang ada di pulau Muna. Yang jadi misteri apakah Sawerigadig ini adalah seorang manusia sakti atau sebuah dinasti Kerajaan Tua di Sulawesi, Luwuk yang menggunakan nama trah Sawerigading, mirip dengan cerita Prabu Siliwangi dalam Kerajaan Sunda di Jawa Barat?  Cerita Sawerigading ini adalah terkait Perahu Pinisi yang merupakan satu-satunya perahu tiang tinggi yang dimiliki masyaralat Maritim di kepulauan Nusantara.

Dikisahkan dalam Lontarak I La Lagaligo ini bahwa  kapal Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, seorang Putra Mahkota Kerajaan Luwu untuk dipakai berlayar menuju negeri Tiongkok dan hendak meminang seorang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai. Menurut cerita, Saweregading membuat kapal ini dari bahan baku dari pohon Welengreng atau pohon Dewata yang terkenal sangat kokoh dan tidak gampang rapuh.  Pinisi yang di nahkodai oleh Saweregading diterjang badai gelombang besar. Kapal Pinisi itupun kemudian pecah terbelah menjadi tiga bagian. Dari tiga pecahan kapal inilah yang kemudian terseret arus dan kemudian terdampar di tiga tempat yakni Desa Ara, Tana’ Lemo dan Tana’ Beru. Itulah singkat cerita soal Sawerigading yang sekarang menjadi bahan kajian ilmiah yang sudah dilakukan oleh ilmuwan dari berbagai negara.

Namun, dalam artikel ini tidak akan membahas secara dalam soal Sawerigading, akan tetapi situs perahu berbentuk batu yang ada di pulau Muna yang masyarakat lokal menyebutnya sebagai perahu Sawerigading. Situs batu yang demikian tidak hanya ditemukan di pulau Muna, tapi juga di Pulau Selayar yang juga disebut perahu Sawerigading. Batu di Pulau Selayar yang disebut dalam legenda sebagai kapal Sawerigading terletak sekitar 2 kilometer dari Kampung Rallaiya, Desa Balang Butung, Kecamatan Buki. Meski keberadaannya membutuhkan penelitian ahli geolog yang mendalam agar dapat memastikan, apakah batu tersebut berasal dari fosil, atau memang  berasal dari perahu  yang membatu. Persis dalam kisah legenda perahu Maling Kundang di Pantai Padang Sumatera Barat. Sedangkan, di Pulau Muna hampir di tengah daratan.

Cerita turun-temurun pada masyarakat Muna dituturkan bahwa pada zaman dahulu ada sebuah perahu yang bernama Sawerigading (Sawerigadi) yang berasal dari Luwu Sulawesi Selatan. Perahu ini menabrak karang di Pulau Muna. Lama kelamaan perahu itu diliputi karang sehingga menjadi sebuah bukit yang kini dikenal sebagai Bahutara (bahutara mungkin berasal bahasa Melayu yakni kata bahtera yang berarti perahu). Bukit tersebut merupakan bukit batu yang sewaktu-waktu tumbuh dan menyerupai bunga. Bukit itu letaknya di Kota Kuno yang jauhnya sekitar 35 km dari Kota Raha, ibukota Kabupaten Muna.  Penduduk yang bermukim daerah menyebut batu berbunga tersebut sebagai kontu kowuna artinya batu berbunga sebagaimana diuraikan di atas. Kemungkinan dari sinilah asal muasal kata Wuna (Baca: La Niampe).

Masalahnya, dimanakah letak situs Sawerigading tersebut dan apakah sudah pernah dikaji secara ilmiah? Jika betul itu perahu, kira-kira tahun berapa peristiwa sejarah ia ke Pulau Muna yang bisa dianalisis lewat umur karbon, sehingga dapat diprediksi umurnya.  Problemnya situs batu yang menyerupai perahu di pulau Muna hingga sekarang belum pernah dilakukan riset dan kajian ilmiah apa betul itu perahu Sawerigading atau apa? Tentu hal ini menarik karena dapat mengungkap sejarah peradaban masa silam pulau Sulawesi, Muna dan Kepulauan Nusantara yang disebut Santos dan Oppenheimer sebagai “Benua Atlantis” yang tenggelam sebagaimana dikatakan Plato, filosof Yunani kuno. Inilah yang melatari mengapa penulis menyebut kontu kowuna dan perahu Sawerigading masih mengandung misteri yang mengundang para peneliti, wisatawan dan ilmuwan untuk datang ke pulau Muna.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *