Konektivitas dan Pembangunan Pariwisata Muna
Foto : Landasan Pacu Bandara Sugimanuru Siap Didarati Wisatawan

Konektivitas dan Pembangunan Pariwisata Muna

Konektivitas dan Capaian Kinerja Pariwisata Nasional

Konektivitas yang dibangun pemerintah bisa mubazir dan tidak otomatis mengembangkan pariwisata daerah.  Pengembangan pariwisata yang dibangun pemerintah dengan semangat Indonesia Incorporated bisa berakhir tidak berkelanjutan jika pemerintah daerah tidak menangkapnya dengan inovasi dan komitmen tinggi semua pihak.  Banyak contoh beberapa daerah yang diharapkan dapat berkembang seiring dengan pembangunan konektivitas (bandara, pelabuhan, jalan raya ataupun pembukaan jalur penerbangan baru dari beberapa negara) tetapi belum menampakkan adanya perubahan signifikan terhadap daerah dan masyarakat.  Kondisi seperti ini jika tidak diantisipasi justru akan menjadikan stagnasi pada sektor pariwisata.

BPS merilis data dari passenger exit strategy atau survey yang dilakukan terhadap wisatawan yang meninggalkan Indonesia yang dilakukan Kementerian Pariwisata pada tahun 2015.  Data menunjukkan, pengeluaran rata-rata wisatawan mancanegara di Indonesa sebesar 1.208 dollar AS (tahun 2015).  Rata-rata ini lebih tinggi dari tahun sebelumnya (2014) yang hanya sebesar 1.183 dollar AS dan tahun 2013 yang sebesar 1.142 dollar AS.  Kementerian pariwisata (2015) juga menyebutkan, rata-rata lama tinggal wisatawan asing di Indonesia 8,53 hari.  Kegiatan pariwisata menurut Kemenpar, menyerap tenaga kerja sebanyak 11,4 juta orang (2015) dan 11,8 juta orang (2016).  Pada tahun 2017 ditargetkan 12 juta tenaga kerja diserap oleh sektor pariwisata (Kompas, 14/03/2017).

Jumlah wisatawan Nusantara juga semakin meningkat setiap tahunnya.  Pada tahun 2015 ada 255 juta perjalanan wisatawan nusantara yang meningkat menajdi 260 juta perjalanan pada tahun 2016.  Tahun 2017 ditargetkan menjadi 265 juta perjalanan.  Perkembangan media sosial seperti facebook, instagram, tweeter dan lainnya menjadikan banyak wisatawan nusantara yang menjadi travellig sebagai hobby baru.  Hasil perjalanannnya biasanya banyak diabadikan di media sosial. Keberadaan seseorang di suatu tempat wisata menjadi semacam identitas baru yang menunjukkan eksistensi seseorang.  Medsos mempengaruhi keinginan seseorang untuk terus mengupdate foto dan informasi.  Keinginan seperti itu yang memicu potensi travelling.

Belajar dari Pengalaman Daerah

Jumlah wisatawan yang melonjak drastis sayangnya tidak diikuti oleh kesiapan pemerintah setempat.  Hanya beberapa daerah yang tercatat berhasil mengembangkan wisatanya dengan bekerja keras dan memanfaatkan semangat pemerintah pusat melalui pembangunan konektivitasnya.  Pemandangan seperti ini terjadi di beberapa daerah seperti di Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sumatera Utara dan Papua.

Sulawesi Utara. Destinasi wisata yang paling menarik wisatawan datang ke Sulawesi Utara adalah Taman Nasional Bunaken.  Daya tarik Taman Nasional Bunaken memanjakan wisatawan dengan panorama laut yang indah serta keindahan terumbu karang.  Wisatawan dapat melakukan snorkling dan diving di hamparan terumbu karang Bunaken yang mempesona.  Bahkan wisatawan dapat memperoleh sertifikat nyelam.

Sejak delapan bulan lalu, penerbangan langsung ke Bunaken sudah dibuka.  Sejak Juni 2016, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Manado bertambah.  Rute perjalanan Manado-China mencapai 12 kali dalam seminggu dan akan bertambah.  Dalam dua bulan pertama 2017, ada 13.000 wisatawan China yang mengunjungi Manado (Kompas, 13/03/2017).  Wisatawan China tertarik datang ke Manado rata-rata karena melihat gambar-gambar indah yang ditawarkan biro perjalanan wisata.  Mereka datang dengan mengambil paket rata-rata 4 hari 5 malam.  Bisa jadi dalam hari yang sama akan ada ratusan bahkan ribuan wisatawan yang akan tinggal bersamaan.

Namun sayangnya, melonjaknya jumlah wisawatan China tersebut tidak diiringi dengan kesiapan pengelola wisata.  Pengelola tidak siap dengan pemandu wisata khususnya yang bisa berbahasa Mandarin.  Tidak hanya itu, infrastruktur pendukung juga masih terbatas seperti kamar hotel, kapal, tempat makan dan informasi wisata masih minim. Untuk mengatasi keterbatasan pemandu wisata berbahasa manadarin, akhirnya pengelola mendatangkan dari Bali dan Batam.

Sulawesi Tenggara. Destinasi wisata utama di Sulawesi Tenggara adalah Taman Nasional Wakatobi.  Wakatobi merupakan 1 (satu) dari 10 (sepuluh) destiniasi pariwisata prioritas yang dikembangkan pemerintah selain beberapa destinasi lainnya seperti Danau Toba, Kep. Seribu dan Kota Tua, Borobudur, Labuan Bajo, Bromo Tengger Semeru, Tanjung Kelayang, Tanjung lesung, Mandalika dan Morotai.

Wakatobi memiliki bandara khusus yang melayani rute penerbangan dari Wakatobi-Kendari-Makassar dan sebaliknya.  Jumlah kunjungan wisatawan semakin melonjam tajam pasca adanya bandara di Wakatobi.  Namun demikian kenaikan wisatawan tidak diiringi dengan ketersediaan hotel, rumah makan, moda transportasi antar pulau terbatas, penjual suvenir masih terbatas dan bahkan pantai kadang kotor akibat sampah.

Sumatera Utara. Sejak dibukanya bandara Silangit di Siborong-borong, Tarutung Tapanuli Utara, lonjakan wisatawan ke Danau Toba semakin meningkat.  Dalam sehari, ada 4 (empat) penerbangan di Bandara Silangit.  Namun, pemerintah setempat dan masyarakat merasa belum mendapatkan manfaat dari keberadaan bandara tersebut.

Kunjungan orang dan wisatawan meningkat, namun kesiapan pemerintah setempat dan otoritas pengelola masih minim.  Ketersediaan hotel, restoran, atraksi wisata kurang variatif, dan pemandu wisata serta penyedia suvenir masih kurang.  Respon kurang cepat tersebut, menjadikan pariwisata jalan di tempat.  Kenaikan kunjungan tamu akhirnya tidak banyak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Banyuwangi. Banyuwangi, mungkin salah satu dari sekian daerah yang sukses dan berhasil memanfaatkan dukungan konektivitas yang dibangun pemerintah.  Sejak tahun 2010, destinasi wisata di Kabupaten Banyuwangi kurang dari 10 (sepuluh) destinasi wisata.  Pada tahun 2016, setidaknya ada 50 destinasi wisata baru yang tumbuh di Banyuwangi.  Beberapa contoh destinasi yang banyak dikunjungi seperti Kawah Ijen, cagar alam Baluran, Panai Watu Dodol, Bangsring underwater, Wisata Mangrove di Bedul, Teluk Hijau, Pantai Plengkung, Agrowisata Kalibendo dan banyak yang lainnya.  Kunjungan wisatawan melonjak tajam setiap tahunnya.  Dari 7.000 orang Wisatawan Mancanegara di tahun 2010 melonjak tajam menjadi 77.000 orang pada tahun 2016. Demikian halnya wisatawan Nusantara, naik dari 600.000 orag di tahun 2010 menjadi 3,2 juta orang pad atahun 2016. Gaya kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas yang responsif dan inovatif menjadi kunci utama geliat birokrasi Pemda Banyuwangi serta masyarakatnya dalam merespon adanya pembangunan konektivitas yang ada.

Banyuwangi semakin diminati wisatawan.  Dari Banyuwangi, wisatawan bisa langsung menyebrang ke Bali.  Di Banyuwangi sendiri sering diadakan kegiatan festival tahunan yang berskala dunia yaitu Banyuwangi Ethno Carnival.  Kegiatan ini sebelumnya sudah dilakukan oleh Pemda Jember, daerah tetangga Banyuwangi dengan Jember Fashion Carnaval (JFC) nya.  Banyuwangi akan semakin ramai dengan pengunjung seiring dengan dibukanya jalur penerbangan langsung Jakarta-Banyuwangi pada April 2017 nanti.

Konektivitas dan Pengembangan Kawasan Pariwisata di Kabupaten Muna

Kabupaten Muna perlu belajar dari pengalaman daerah-daerah lain dalam mengantisipasi adanya pembangunan infrastruktur baru seperti rencana beroperasinya Bandara Sugimanuru.  Pembangunan bandara Sugimanuru menjadi jawaban bagi permasalahan ketimpangan pembangunan selama ini sekaligus bentuk keseriusan pemerintah dalam janji nawa-citanya yaitu membangun konektivitas antar daerah.  Pembangunan Bandara Sugimanuru harus disambut dan direspon dengan keseriusan, kesigapan dan komitmen bersama stakeholder Muna, mulai dari Pemerintah daerah khususnya, pihak swasta, perguruan tinggi dan masyarakat umumnya.  Ketika rute dibuka, maka tamu yang akan datang ke Muna pastinya akan semakin meningkat, termasuk didalamnya wisatawan, baik mancanegara maupun Nusantara.

Belajar dari pengalaman daerah-daerah lain, pembangunan konektivitas akan berdampak kepada perekonomian daerah.  Pemerintah setempat perlu mempersiapkan sarana publik seperti infrastruktur jalan, penerangan, telekomunikasi, sarana transportasi publik dan pusat informasi pariwisata.  Pihak swasta dan masyarakat dapat menyiapkan hotel/guest house, transportasi, suvenir, pemandu wisata serta yang paling penting adalah sambutan hangat atas kedatangan tamu baik dari mancanegara maupun nusantara.  Kemampuan SDM khususnya dalam penguasaan bahasa asingpun harus segera dipenuhi.  Pada titik ini, kebutuhan akan hadirnya perguruan tinggi yang menjadi produsen SDM unggul perlu diperbanyak di Kabupaten Muna.

Konektivitas yang ditandai dengan adanya pembangunan bandara merupakan bentuk transformasi ekonomi dan budaya.  Bandara akan membuka peluang masuknya orang-orang baru baik dari Nusantara lainnya maupun mancanegara dengan segenap budaya dan kepentingannya.  Proses akulturasi budaya akan terjadi dan inilah pertanda dimulainya era industrialisasi di suatu daerah.  Bandara akan membuka arus barang dan jasa menuju dan dari Muna ke daerah lain.  Pembangunan sarana konektivitas seperti bandara harus dapat dinikmati manfaatnya oleh pemerintah dan masyarakat.  Masyarakat Muna tidak hanya berhasil dan dikenal ramah sebagai “tuan rumah” yang baik tetapi harus benar-benar berhasil menjadi “tuan rumah” di negeri sendiri dan jangan sampai hanya menjadi “penonton”.  Masyarakat Muna yang harusnya mendapatkan cipratan kue pembangunan sebagai efek dari konektivitas tersebut.  Sudah saatnya semua energi dan kekuatan masyarakat Muna yang banyak berdiaspora untuk sedikit balik kanan, menoleh tanah kelahiran, menyambut era baru pembangunan Muna.  Semoga berhasil, memanfaatkan peluang pembangunan yang mulai bergerak kencang di Muna mewujud menjadi kemakmuran dan kesejahteraan bagi warga Muna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *