Komplek Rumah Adat, Museum dan Pusat Kebudayaan Muna – Bukan Hanya Sekedar “Kaumbela”
Foto : Desain Rumah Adat Muna, by @JelajahMuna

Komplek Rumah Adat, Museum dan Pusat Kebudayaan Muna – Bukan Hanya Sekedar “Kaumbela”

Dalam salah satu opini yang ditulis pada media ini sekira setahun yang lalu – tepatnya Februari 2017 – dituliskan pentingnya Muna memiliki museum dan pusat kebudayaan. Entah kebetulan atau tidak, opini tersebut diamini oleh Rusman Emba dan Malik Ditu dengan membangun Komplek Rumah Adat Muna yang saat ini dikenal dengan nama “Bharugano Wuna”. Kompleks Rumah Adat tersebut akhirnya diresmikan dengan penuh kebanggaan oleh Plt. Gubernur Sulawesi Tenggara, H. Saleh Lasata – yang juga orang Muna dan sekaligus mantan Bupati Muna. Berbagai pujian dialamatkan kepada Bupati Rusman Emba atas ide dan gagasan pembangunan rumah adat ini.

Baca juga : Pentingnya Museum dan Pusat Kebudayaan Muna

Dalam berbagai kesempatan, Rusman Emba mengungkapkan bahwa dalam komplek rumah adat ini akan disimpan benda-benda purbakala warisan sejarah Muna. Dengan kata lain komplek rumah adat ini berperan sebagai museum untuk generasi muda Muna saat ini dan yang akan datang. Bukan hanya generasi yang lahir di Muna tapi juga yang lahir di perantauan. Karena tidak sedikit orang Muna yang lahir di perantauan yang ingin tahu kejayaan dari leluhurnya.

Dalam komplek ini juga nantinya akan dijadikan pusat pembelajaran dan pelestarian berbagai warisan budaya Muna yang saat ini cenderung mulai dilupakan. Seperti tari-tarian Muna, lagu-lagu Muna, musik tradisional Muna, beladiri tradisional Muna, layang-layang tradisional Muna, kain tradisional Muna dan lain sebagainya. Artinya, komplek rumah adat ini berperan sebagai Pusat Kebudayaan Muna.

Bahkan, direncanakan pula dalam komplek rumah adat ini akan dibuat pusat penangkaran kuda, pusat penangkaran rusa dan bahkan pusat penangkaran anoa yang erat kaitannya dengan sejarah Muna maupun Sulawesi Tenggara. Dalam komplek rumah adat ini juga nantinya akan menjadi pusat festival kebudayaan Muna. Dalam festival tersebut generasi muda Muna dapat melihat berbagai jenis atraksi kebudayaan Muna. Seperti perkelahian kuda (pogiraha adhara), atraksi silat Muna (ewa wuna atau kontau), musik gambus Muna dengan lagu-lagu yang sangat menenteramkan dan penuh dengan pesan moral.

Sejatinya, keberadaan museum dan pusat kebudayaan suatu daerah tidak hanya bermanfaat bagi generasi muda Muna. Tetapi juga dapat menjadi obyek wisata bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin tahu sejarah Muna dengan segudang kekayaan budayanya.

Bukan Hanya Sekedar “Kaumbela”

Akhir-akhir ini segelintir elit politik Muna mulai nyinyir terhadap bangunan penting ini. Entah memang menganggap ide dan gagasan tersebut tidak penting atau hanya sekedar mencari-cari obyek kritikan. Memang, ide dan gagasan tersebut belum sepenuhnya terealisasi sesuai dengan rencana semula. Bangunan penting demikian memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit ditengah keterbatasan dana yang dimiliki oleh pemerintah daerah saat ini. Sehingga pembangunannya pun dilakukan secara bertahap. Namun tidak pantas rasanya meng-under estimate prestasi ini. Juga tidak pantas rasanya bangunan penting seperti ini hanya dianggap sebagai “kaumbela” dalam bahasa Muna, yang berarti pondok bukan rumah tinggal. “Kaumbela” bagi masyarakat Muna hanya sebagai tempat singgah atau berteduh manakala masyarakat petani beristirahat di kebun tatkala panas menyengat atau hujan deras. Pondok juga bangunan yang tidak layak huni yang beratapkan satu-dua lembar nipah atau anyaman alang-alang dan beralaskan satu-dua lembar kayu atau papan kasar. Sungguh kritikan yang tidak pada tempatnya.

Bangunan Penting Bernilai Tinggi

Bharugano Wuna sesungguhnya bukan hanya sekedar bangunan biasa. Dalam perencanaannya, desain bangunan ini dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan riset mendalam. Riset ini dilakukan agar sesuai dengan bangunan yang biasa digunakan oleh raja-raja Muna terdahulu. Bahannya pun diupayakan sesuai dengan bahan yang digunakan zaman dahulu. Bangunan ini hampir seluruhnya berbahan kayu jati kelas satu dan tanpa menggunakan paku. Bahkan setiap ruangnya pun memiliki fungsi masing-masing. Ada ruang rapat, kamar raja, kamar permaisuri, kamar putri raja dan sebagainya. Di sekitar bangunan utama juga dibangun beberapa bangunan yang konon katanya merupakan rumah untuk para pengawal dan para abdi dalem kerajaan. Dengan demikian, komplek rumah adat Muna merupakan bangunan bernilai tinggi dan sarat makna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *