Kesejajaran Science Modern dan Kearifan Lokal Muna
Foto : mentalfloss.com

Kesejajaran Science Modern dan Kearifan Lokal Muna

Selama ini pengetahuan mistik dianggap tidak ilmiah sehingga kalangan ilmuwan tidak menganggapnya sebagai “pengetahuan” karena tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Namun, cara pandang ini telah dikoreksi oleh seorang fisikawan dan filosofis, Fritjof Capra, yang menulis buku legendaris yang berjudul “The Tao of Physics: Menyingkap Kesejajaran Fisika Modern dan Mistitisme Timur ” yang dipublikasikan tahun 2002 (edisi ke-4 terjemahan). Dalam kesimpulan bukunya yang menghebohkan ini Capra menyatakan bahwa dunia dapat dilihat dari dua sudut pandang  yang organistik dan mekanistik. Capra menyatakan bahwa pandangan organistik diajukan para mistikus Timur sedangkan pandangan mekanistik diajukan ilmuwan barat yang sangat dipengaruhi mekanika klasik Newton.

Kedua pandangan ini nampaknya bertolak belakang, akan tetapi Capra dalam buku tersebut menyatakan keduanya sama-sama dibutuhkan manusia dalam kehidupan sehari-hari dan saling melengkapi. Capra dalam bukunya ini berusaha meyakinkan bahwa ada kesejajaran antara pandangan kuantum dan pandangan mistikus tentang realitas. Ia mengatakan bahwa ada sejumlah karakteristik realitas yang sama-sama diidentifikasi oleh keduanya baik fisika baru maupun mistitisme lama (baca: ulasan Mahzar).

  1. Mengenai kesatuan semua benda.
  2. Ketidakduaan realitas
  3. Kesetaraan antara ruang dan waktu
  4. Fundamentalnya perubahan di dalam alam dunia
  5. Kehampaan yang penuh
  6. Adanya tarian semesta antara hidup dan mati
  7. Meluasnya simetri sebagai misteri jagad raya
  8. Adanya pola pada semua perubahan
  9. Interpretasi

 

Dalam buku ini Capra menyimpulkan bahwa pandangan fisika kuantum relativistik  tentang “realitas” pada dasarnya bersifat “organis” sejajar dengan pandangan mistik non teistik timur yang juga memandang realitas terdasar bersifat organis. Makanya Capra mengajukan pertanyaan apakah fisikawan harus meninggalkan metode ilmiah dan mulai bermeditasi? Atau ada saling pengaruh antara keduanya? Atau akan terjadi sintesis antara keduanya? Dalam buku ini Capra memberikan jawaban yang bersifat negatif yaitu antara sains dan mistitisme tidaklah bertentangan satu sama lainnya. Keduanya kata Capra merupakan manifestasi pikiran manusia yang saling melengkapi: yaitu yang rasional dan intuitif. Ia melanjutkan bahwa sains tak butuh mistitisme dan mistitistime tak butuh sains, akan tetapi manusia membutuhkan keduanya. Itulah kesimpualn menarik dari apa yang diuraikan Capra dalam bukunya tersebut.

Selain kesimpulan di atas, ia juga punya kesimpulan yang bersifat praktis bahwa sains dan mistitisme mempunyai pandangan fundamental yang sama tentang “realitas” yaitu bersifat organis. Makanya ia mengusulkan agar struktur sosial dan ekonomi masyarakat modern yang berdasarkan pandangan mekanistik harus diubah secara radikal melalui sebuah “revolusi budaya”.  Caranya melakukan revolusi budaya ini adalah  dengan mengambil sebagian sikap-sikap Yin dari mistitisme timur untuk melengkapi sikap-sikap Yang  dari sains barat.   Bagi kalangan ilmuwan ini mengejutkan tapi bagi agamawan ini menyejukkan.  Inilah pertama kalinya seorang fisikawan partikel elementer yang menyelidiki bagian terkecil materi berbicara tentang mistitisme. Namun, Capra terlalu membatasi kajian dan bahasannya pada agama-agama ketimuran (Budha, Hindu, Konfusianisme dan bahkan Islam) yang dia sebut nonteistik.

Pandangan Capra yang termasuk Post Modernisme dengan pendekatan “eclectic” maupun “hetedoks” ini  telah menjungkirbalikkan pemikiran science modern yang selalu mengagungkan metode ilmiah yang mengedepankan “rasionalisme” dalam melihat realitas ketimbang pandangan mistitisme yang mengedepankan intuisi yang dalam bahasa lain dalam islam disebut “Ijtihad”.  Namun Ia berhasil mendamaikan hal ini sebagaimana telah diuraikan di atas.

Pandangan Capra ini telah dibuktikan oleh Dr. Salnuddin (2016), dosen Universitas Sultan Khairun Ternate dan orang Muna serta sekaligus sahabat saya semasa di SMA negeri 1 Raha tahun 1987-1990 yang menulis desertasi yang berjudul “Penentuan Awal Bulan Baru Penanggalan Hijriah Berdasarkan Pendekatan Ethnooceanography dan Ethnoastronomy”. Ia menfokuskan basis risetnya ini di beberapa daerah antara lain: Ternate, Tidore, Muna dan Buton. Ia membangun basis pengetahuan risetnya ini adalah dengan menggunakan basis science modern (Fisika Oseanografi) berbasis ‘rasionalisme” dengan mistitisme Timur yaitu intuisi (ijtihat). Hasil riset Salnuddin ini membuktikan bahwa kesejajaran pengetahuan science modern (Fisika Oseanografi) dengan pengetahuan lokal tentang astronomi masyarakat Ternate, Tidore, Muna dan Buton dalam memprediksikan bulan baru dalam penanggalan Hijriah terbukti menghasilkan nilai yang sama dan bermanfaat dalam kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Ia mencontohkan tentang  pergerakan rasi bintang kerapkali digunakan oleh suku-suku tersebut di atas dalam beragam aktivitas. Suku Sama menerapkannya pada konstruksi rumah dan bagan tancap, orang Muna/Buton dalam manajemen pelayaran dan masyarakat Tidore dalam penentuan awal bulan Ramadhan dan 1 Syawal (Salnuddin, 2016).

Dalam ilmu fisika oseanografi metode penentuan yang digunakan Salnuddin ialah perhitungan konstituen harmonik pasang surut sedangkan penentuan dengan pengetahuan lokal (kearifan lokal) menggunakan metode Manzillah yang digunakan suku pelaut dalam mengidentifikasi waktu dalam penanggalan hijriah dan metode Joguru merupakan hasil “Ijtihad” akibat bulan sabit tipis awal Ramadhan dan bulan Syawal. Hasilnya membuktikan bahwa dalam menentuan bulan baru Hijriah dengan metode fisika oseanografi yang menggunakan persamaan diferensial berbasis matematika tidak berbeda dengan pengetahuan astronomi masyarakat lokal di daerah yang dijadikan lokasi. Sangat luar biasa dan menakjubkan.

Orang Muna sejak dahulu kala hingga kini dalam menentukan awal bulan baru Hijriah, waktu musim tanam, dan arah haluan perahu/kapal dalam pelayaran hanya mengandalkan kemampuan pengetahuan lokal mereka tentang pergerakan dan letak bintang di langit (Astronomi) yang oleh Capra disebut intuisi. Namun, pengetahuan perbintangan Orang Muna berdasarkan penelitian Salnudidin (2016) yang menggunakan science modern dan pengetahuan lokal nyatanya menghasilkan data yang sama dalam memprediksikan bulan baru hijriah dan awal penentuan musim tanam dalam kegiatan pertanian hingga musim ikan dalam kegiatan penangkapan ikan. Darinmana pengetahuan lokal orang Muna tentang astronomi ini hingga kini penulis masih tanda tanya? Karena, secara historis pengetahuan ini sudah ditemukan sejak jaman pra sejarah dan peradaban-peradaban besar Lemuria, Atlantis, Mesopotamia, Babylonia, Persia, Bizantium hingga era modern sekarang masih banyak masyarakat yang menggunakannnya, termasuk suku Muna sampai hari ini.

Tentu hasil penelitian Salnuddin ini dapat membuktikan hipotesis Capra sejak tahun 1970-an. Jika sekiranya Capra bertemu Salnuddin, penulis yakin keduanya akan membuat buku bersama dan Capra akan berterima kasih pada Salnuddin karena apa yang ditulisnya dapat dibuktikan dan bermanfaat bagi umat manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *