Kain Tenun Muna, Warisan Kebudayaan Bangsa
Foto : Koleksi Kain Tenun Muna, by Arman/MUNABANGKIT.COM

Kain Tenun Muna, Warisan Kebudayaan Bangsa

Kerajinan Tenun adalah produk kebudayaan.  Kebudayaan menurut Koentjaraningrat (1990) merupakan keseluruhan gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kebudayaan bertenun merupakan bukti adanya peradaban yang tinggi pada sebuah tatanan masyarakat, termasuk kerajinan tenun Muna. Tenun sudah dikenal sejak zaman prasejarah yang biasa digunakan sebagai penutup badan setelah rumput-rumput dan kulit kayu (Kartiwa dalam Difinibun, 2001).

Tercatat beberapa daerah yang mempunyai kebudayaan tenun.  Sebut saja, tenun ikat lungsin di Toraja, tenun ikat di Sumba, desain sarung berkepala (sawa ulu) pada masyarakat Tolaki dan berbagai bentuk tenunan yang banyak menyebar di nusantara merupakan khas Indonesia.

Pengetahuan tenun telah lama dikenal di Muna dan diwariskan secara turun temurun.  Para orang tua biasanya mewariskan keterampilan bertenun khususnya kepada anak wanitanya.  Namun sekarang, keterampilan bertenun ini mulai memudar seiring dengan berkembangnya kemajuan kebudayaan kain yang banyak menggunakan teknologi modern serta menawarkan banyak model dan motif. Kebiasaan bertenun pada masyarakat Muna mungkin masih bisa dilihat di beberapa desa saja termasuk yang masih kuat di Desa Masalili, Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna.

Sarung tenun Muna dulunya merupakan sarung adat yang banyak dipakai oleh masyarakat Muna.  Ratusan tahun kebudayaan tenun ini mengakar di masyarakat Muna karena keberadaannya menunjukkan stratifikasi sosial yang ada di masyarakat Muna.  Jenis pemakaian sarung menunjukkan identitas sosial masyarakat. Sarung Muna yang dikenal juga dengan sebutan Kamooru ini sudah dikenal sejak masa pemerintahan Raja Muna pertama, La Eli alias Baidhuldhamani yang bergelar Bheteno Ne Tombula.  Bahkan menurut beberapa sumber, Kamooru ini sudah ada sejak tahun 1371. Informasi yang memerlukan penelitian lebih lanjut ini, menunjukkan betapa tingginya peradaban masyarakat Muna zaman itu yang sudah mengenal teknologi tenun.

Keterampilan bertenun hampir bisa dilakukan oleh semua orang Muna.  Bertenun, rata-rata biasa dikerjakan oleh orang berusia lanjut.  Tetapi saat ini, meski sudah mulai menurun, anak-anak muda sudah mulai tertarik untuk belajar menenun.

 Bahan dan Motif Kain

Sarung tenun Muna dikenal memiliki jalur corak dan warna dasar yang khas, unik dan berbeda-beda. Dalam pembuatan sarung atau baju tenun khas Muna ini, dibutuhkan benang ekstra yang panjang. Untuk ukuran baju dengan ukuran lebar kurang lebih 70 cm, dibutuhkan benang ekstra sepanjang 4 meter.  Jika untuk sarung tenun, tentu dibutuhkan benang yang lebih panjang. Alat tenun yang digunakan masih tradisional.  Untuk membuat baju atau sarung, bahan dan peralatan yang dibutuhkan pada dasarnya sama saja karena semua harus dimulai dari pembuatan kain dasar. Perbedaannya biasanya pada ukuran dan motif.

Foto : Ibu Yanti Setiawaty Rusman Emba sedang menunjukkan proses pembuatan kain tenun Muna, by Arman/MUNABANGKIT.COM

Proses pembuatan sarung tenun adat Muna, pada dasarnya terdiri dari dua bagian :

  • Proses meng-hani/Kasoro ; suatu proses awal yang dilakukan dengan cara menyusun setiap helai lembaran benang pada alat yang telah disiapkan sebelumnya dan cara-cara tertentu pula. Bahan dasar utama yang digunakan dalam pembuatan sarung Muna yaitu benang biasa dan benang mamilon/nilon dengan warna yang berbeda sesuai dengan warna sarung yang akan dibuat. Beberapa peralatan yang dipakai pada tahap ini seperti Lhangku, Jangka, Kae, Ati, Kaju, Parambhibhita, Bhibhita, Kaghua dan Kangkai. Pada proses ini dikenal istilah Palida yaitu memukul atau memberikan tekanan terhadap benang yang abru saja dimasukkan agar rapat.  Jika tidak rapat, maka hasilnya akan cacat.
  • Proses menenun ; Proses lanjutan setelah meng-hani/kasoro yang menjadi penentu apakah sarung yang dihasilkan akan memiliki bunga/corak atau hanya sarung polos. Proses menenun ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang telah mahir dan menekuni pembuatan sarung tenun ini. Dalam proses menenun ini ada beberapa peralatan yang biasa dipakai seperti Katai, Kafetadaha, Lobu, Katokano Bunga, Kadanda, Bhalida, Kabuntuluha, Tetere dan Talikundo.

Kain Tenun Muna dalam pemakaiannya juga menunjukkan stratifikasi sosial masyarakatnya. Pada masyarakat Muna, terdapat stratifikasi sosial yang terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, golongan Kaomu, merupakan kelompok bangsawan yang berhak menjadi raja.  Golongan ini ditandai dengan kata “La Ode” bagi laki-laki dan “Wa Ode” bagi perempuan pada awal namanya. Kedua, Golongan Sara, yaitu orang-orang yang duduk dalam pemerintahan kerajaan seperti lembaga yang berhak menetapkan hukum, mengangkat dan memberhentikan Raja.  Golongan ini tidak mempunyai ciri tertentu pada namanya, namun dibedakan dengan struktur jabatan yang dipegangnya. Ketiga, Golongan Walaka, golongan yang berhak menjabat pada jabatan legislatif, yudikatif dan pemerintaha di bawah Raja pada sistem pemerintaha Muna. Golongan Kaomu biasa menggunakan motif Bhotu dan Samasili. Golongan Sara biasa menggunakan motif Bharalu dan Manggo-manggopa.  Sedangkan golongan Walaka biasa menggunakan motif kaso-kasopa, Lejha, Bhia-bhia dan Finding konini.

Saat ini, ketika struktur kerajaan berubah menjadi Republik, maka stratifikasi sosial tersebut dengan sendirinya berubah dan punah, tergantikan oleh sistem negara bangsa (nation-state) yang ada saat ini.  Sehingga dengan sendirinya pemakaian kain tenun Muna akhirnya tidak lagi mengikuti strata sosial yang ada.  Namun, sebagai sebuah produk kebudayaan, maka nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalam tenun Muna, sebaiknya perlu dihidupkan kembali dengan adaptasi-adaptasi terhadap perkembangan sosial yang ada.  Selain itu, kain tenun Muna sebagai kekayaan lokal Muna, perlu dibangkitkan kembali menjadi kekuatan ekonomi lokal yang nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Muna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *