“Kaghati Kolope”- Layang-Layang Tertua, Warisan Budaya Muna untuk Dunia
Foto : Kaghati Kolope, Layang-Layang Tertua di Dunia dari Muna/GOODNEWSFROMINDONESIA.COM

“Kaghati Kolope”- Layang-Layang Tertua, Warisan Budaya Muna untuk Dunia

Tak kalah dari pulau eksotik lainnya seperti Bali dan Lombok, pulau Muna pun dikembangkan menjadi tempat tujuan wisata utama di Indonesia. Gencarnya pengembangan pariwisata ini terutama ketika dibawah kepemimpinan Rusman Emba, bupati Muna saat ini. Salah satu warisan eksotik wisata Muna adalah Kaghati Kolope. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Wolfgang Beck, ilmuwan asal Jerman, yang mengunjungi gua Sugi Patani di desa Liang Kabori, kabupaten Muna, provinsi Sulawesi Tenggara, menemukan lukisan Kaghati Kolope, layang-layang tertua di dunia. Temuan ini sekaligus mematahkan dugaan bahwa layang-layang tertua di dunia berasal dari Tiongkok. Wolfgang Beck menemukan lukisan prasejarah yang berusia lebih dari 4000 tahun itu di dinding gua Sugi Patani. Di dinding gua itu tergambar adegan seorang manusia yang sedang bermain layang-layang.

Lukisan Kaghati Sugi Patani

Permainan layang-layang ini bagi masyarakat pulau Muna dahulu adalah tradisi yang dimainkan sambil menjaga kebun mereka. Selain itu, layang-layang juga merupakan simbol kepercayaan. Masyarakat pulau Muna dahulu percaya bahwa layang-layang berfungsi sebagai payung yang akan menjaga pemiliknya dari sengatan sinar matahari bila ia meninggal dunia. Sedangkan tali layang-layang adalah pegangan bagi arwah yang meninggal itu.

Ukuran Kaghati Kolope ini beragam mulai dari 40 x 60 cm sampai dengan 1,5 x 2 meter. Keunikan layang-layang ini adalah semua bahan bakunya yang terbuat dari tumbuhan, yaitu bambu dan daun ubi gadung (Discorea, Sp.) atau kolope (dalam bahasa Muna) yang dirangkai dalam bentuk belah ketupat, dan dilengkapi dengan kamumu (dalam bahasa Muna) sebagai komponen tambahan yang menghasilkan bunyi ketika layang-layang tersebut terbang di udara.

Kini hanya segelintir orang Muna yang bisa membuat layang-layang dari daun Kolope. Karena memang proses pembuatannya yang tidak mudah dan kurangnya minat generasi muda Muna merawat kekayaan warisan budaya ini. Oleh karena itu, pemerintah daerah kabupaten Muna sekarang akan giat melakukan pelatihan proses pembuatan Kaghati Kolope kepada khususnya generasi muda juga kemudian menginisiasi untuk dibangunnya Home Industry Kaghati Kolope.

Proses mengolah daun Kolope yang tidak mudah itu dimulai dari menunggu dipetiknya daun ketika menua. Sebelum menjadi kertas layang-layang, daun Kolope dipanaskan di atas bara api lalu dijemur selama dua hari. Hasilnya kemudian berupa bahan layang-layang yang elastis dan kedap air. Baru setelah itu daun-daun direkatkan satu sama lain pada sisi-sisinya sehingga menjadi satu lembaran yang utuh kemudian dikepik dengan kerangka kayu dan disimpan selama lima hari. Untuk satu layang-layang dibutuhkan sekitar 100 lembar daun Kolope. Kemudian satu lembaran utuh itu dirajut dengan tali dan jadilah satu lembaran kertas layang-layang.

Satu lembaran kertas layang-layang kemudian dirangkai dengan kerangka layang-layang yang terbuat dari bambu dan tali yang terbuat dari daun nenas hutan menjadi satu buah Kaghati Kolope. Sebagai sentuhan terakhir, dilengkapi dengan nada dering (kamumu), yaitu semacam pita suara yang dibuat dari daun nyiur yang apabila ditiup angin akan bergetar dan menghasilkan bunyi khas mendayu terutama saat layangan dibiarkan terbang ketika malam hari.

Festival Layang-LayangSaat ini pun masyarakat pulau Muna masih menerbangkan Kaghati Kolope bahkan menjadi daya tarik tersendiri sebagai atraksi bagi para wisatawan. Atraksi layang-layang tertua ini diselenggarakan terutama setelah masa panen. Sebagai perayaan setelah panen, atraksi Kaghati kolope bisa melayang di udara selama tujuh hari tujuh malam. Inilah keunikan lainnya—selain semua bahannya alami—juga tahan lama melayang di udara. Bahkan karena itu Kaghati Kolope pada tahun 2007 menjuarai festival layang-layang internasional di Jerman. Ada baiknya pula ke depan festival layang-layang internasional secara rutin digelar di pulau Muna seperti yang sudah pernah dilaksanakan selama ini, selain untuk menjadikan pulau Muna sebagai tempat tujuan wisata utama di Indonesia, juga untuk mengokohkan kembali Kaghati Kolope sebagai juara dunia!

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *