Bangkit dengan Desa Wisata (3) “Isu Krusial Pengelolaan Desa Wisata”
Foto : Desa Wisata Buluh Cina, Pekanbaru, Riau

Bangkit dengan Desa Wisata (3) “Isu Krusial Pengelolaan Desa Wisata”

Pengelolaan kawasan desa wisata menentukan masa depan desa dan masyarakatnya.  Beberapa hal berikut menjadi isu krusial yang seringkali terjadi dalam pengembangan kawasan desa wisata;  Pertama, Berhati-hati dengan masuknya penetrasi luar ke desa wisata atas nama investasi atau lainnya.  Penetrasi modal dari luar lambat laun akan merubah pengembangan desa wisata yang tadinya dari skala kecil menjadi bermodal besar.

Kedua, Jangan terjebak dengan stagnasi.  Pengelola desa wisata harus kreatif dalam menyajikan atraksi wisata. Inovasi bukan hanya pada lokasi wisata yang ditawarkan tetapi paket atraksinya jangan sampai monoton.  Ketiga, Jangan terjebak pada memperbanyak kawasan desa wisata tetapi lupa dalam meningkatkan daya saing. Tipologi masyarakat, ketika pemerintah menggerakkan program desa wisata, maka semua desa berbondong-bondong membuat desanya menjadi destinasi wisata. Sehingga bukan kemitraan antar desa wisata yang terjadi, tetapi justru persaingan yang kadang berjalan tidak sehat.

 Keempat, Desa wisata perlu dikelola dengan serius dan melibatkan masyarakat yang mempunyai kapasitas yang mumpuni.  Untuk bernilai profesional seperti layaknya pengelola wisata massal mungkin tidak, tetapi setidaknya SDM pengelola memiliki karakter enterpreneurshi, jujur, cerdas dan mudah membangun kemitraan dengan pihak lain (komunikatif).  Ollenberg (2006) dalam Pitanatri dan Krisnawati (Analisis Kritis Pengembangan Pariwisata Alternatif Desa Wisata Waerebo NTT) menemukan di pedesaan Australia, kisah keberhasilan desa wisata berbasis pertanian sangat terkait dengan spirit wirausaha yang kuat di kalangan pariwisata.

Kelima, distribusi dan redistribusi sumber daya di kawasan wisata harus seimbang dan merata antar masyarakat. Jika terdapat ketimpangan peran dan alokasi aset sumberdaya alam yang dikelola antar warga berbeda, maka dapat menjadi faktor yang akan merenggangkan relasi sosial antar warga dan pada gilirannya bisa berujung pada konflik sosial.

Keenam, Dampak lingkungan dan sosial akibat dari kegiatan pariwisata di desa wisata itu sendiri.  Setiap aktivitas wisata pasti akan melahirkan dampak lingkungan dan sosial.  Ketika desa wisata berkembang, home stay dan hunian akan berkembang, warung-warung akan terbangun, moda transportasi akan bertambah dan aktivitas sosial ekonomi masyarakat akan hidup di Desa wisata tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *