Industrialisasi Perdesaan Berbasis “Enau” : Model Ekonomi Kreatif Muna

Industrialisasi Perdesaan Berbasis “Enau” : Model Ekonomi Kreatif Muna

Pohon “enau” bagi orang Muna sangat penting. Pasalnya dari air enau terkenal minuman khas lokal masyarakat Muna yaitu “kameko” (bahasa Muna). Kameko adalah air enau yang disadap yang jika dicampur dengan kulit pohon bakau (mangrove) akan mengandung alkohol. Begitu pula difermentasi dan destilasi akan berubah jadi alkohol dengan kandungan yang tinggi (sejenis bio ethanol). Sayangnya, pohon enau di pulau Muna hanya dibuat jenis minuman beralkohol sehingga tidak memberikan manfaat nilai tambah ekonomi. Memang penjualan minuman kameko juga memberikan pendapatan bagi masyarakat desa. Tetapi, hingga kini belum ada nilai tambah ekonomi yang memuaskan.

Pohon enau (Arenga pinnata), adalah sejenis palma yang banyak manfaatnya selain kelapa. Pohon enau atau aren memiliki manfaat:

  1. Bahan pembuat gula aren. Gula aren bermanfaat untuk campuran dalam membuat masakan atau minuman khas dari suatu daerah.
  2. Minuman fermentasi. Air sadapan enau (nira) dapat menjadi salah satu jenis minuman fermentasi dengan rasa yang manis dan menyegarkan. Air nira ini akan bernilai tambah ekonomi jika dibuat bentuk minuman kaleng dengan pengolahan tertentu, seperti air kelapa.
  3. Bahan minuman beralkohol. Di tanah Batak (tuak), Ambon (ciu) dan Muna (Kameko).Bahkan kameko ini juga sering diminum dalam acara-acara adat sehingga bernilai sosial. Tetapi, pola ini tidak memabukan karena pemanfaatannya terbatas.
  4. Bahan cuka aren. Cuka aren ini kurang populer ketimbang cuka dapur yang dibuat oleh pabrikan. Akan tetapi, jika diolah melalu UMKM di perdesaan dengan sentuhan teknologi, maka cuka aren bisa menjadi sumber perekonomian baru bagi masyarakat desa
  5. Bahan campuran pengembang roti. Air nira juga bermanfaat sebagai salah satu bahan pengembang untuk membuat roti.
  6. Kolang kaling. Kolang kaling merupakan bahan makanan campuran untuk membuat es campur atau kolak pisang. Kolang kaling berasal dari biji buah aren, yang telah diolah sedemikian rupa.
  7. Bahan atap rumah. Daun pohon aren digunakan warga desa untuk atap rumah.
  8. Pembuatan sapu ijuk. Bagian daun pohon aren juga mengandung ijuk yang dapat dimanfaatkan membuat sapu ijuk, tali ijuk dan atap gazebo-gazebo di kawasan wisata.
  9. Pembuatan sapu lidi. Daun pohon aren juga dapat dimanfaatkan untuk diambil lidinya.
  10. Pembuatan senar pancing dari pelepah. Bagian pelepahnya pohon enau juga dapat diolah menjadi senar pada alat pancingan.
  11. Sebagai pembuatan papan. Batang pohon aren juga dapat dimanfaatkan kayunya untuk dijadikan papan yang banyak kegunaannya. Dapat dibuat lemari, tongkat untuk alat bantu jalan dan kursi.
  12. Bahan baku anyaman. Akar pohon enau dapat digunakan sebagai bahan baku anyaman. Hasil anyaman ini berupa kerajinan tangan, seperti tas ataupun gelang sehingga dapat memberikan nilai jual yang tinggi.
  13. Bahan energi alternatif. Air enau dapat diolah menjadi bahan baku pembuatan bio-etanol yang dapat digunakan sebagai sumber energi terbarukan, seperti bahan bakar kendaraan bermotor, memasak dan bahan untuk industri kimia.
  14. Akar enau bahkan dapat diolah sebagai bahan obat herbal (bio-farmakologi) yang dapat mengobati penyakit antara lain: (i) melancarkan saluran kemih; (ii) menghindar Infeksi Saluran Kencing (Kemih); (iii) menghancurkan batu ginjal (kencing batu); (iv) menangani lemah syahwat sehingga meningkatkan stamina pria secara alami; (v) menangani ruam pada kulit atau memar (pembengkakan) dan (vi), memperlancar haid pada wanita yang haidnya tidak teratur.

 

Begitu banyaknya manfaat pohon enau, maka wajar penulis usulkan jika industrialisasi perdesaan di Muna berbasiskan “pohon enau” (kowala, bahasa Muna). Pasalnya nyaris semua desa-desa dan kampung-kampung di pulau Muna ditumbuhi pohon enau. Dari sekian banyak manfaat pohon enau dapat dipetakan pohon industri yang dapat dikembangkan berbasis pedesaan. Mengapa enau jadi pilihan? Karena, di pulau Muna tanaman ini tumbuh subur tanpa perlu perawatan dari masyarakat. Sayangnya masyarakat Muna belum tahu nilai tambah ekonominya.

Strategi Industrialisasi

Untuk mengembangkan hal ini, maka perlu dilakukan beberapa hal antara lain:

Pertama, menyelaraskan konsep pembangunan desa di Muna dengan kebijakan industrialiasi kerakyatan perdesaan berbasis pohon enau. Pemerintah mesti mengembangkan industrialisasi desa berbasis pohon enau ini, tidak perlu dengan model industri skala besar (komersial) terkecuali ada investor swasta. Cukup dengan skala usaha kecil dan menengah sehingga ekonomi rakyat berkembang pesat

Kedua, melakukan pelatihan intensif tentang jenis teknologi untuk pengembangan industri perdesaan berbasis pohon enau. Bahkan universitas di Muna harus mulai gencar membangun kerjasama dengan universitas di pulau Jawa (seperti IPB dan ITB) untuk pengolahan pangan dan energi berbasis pohon enau.  Bahkan jika memungkinkan bekerjasama dengan lembaga-lembaga internasional atau universitas di luar negeri, misalnya di Eropa Barat seperti Denmark, Swedia, dan Finlandia yang gencar mengembangkan bio-energi.

Ketiga, jika produk-produknya sudah berkembang massal, maka diversifikasi dan inovasinya tetap dikembangkan, sehingga menambah manfaat nilai tambah ekonominya. Keempat, aspek pemasaran tentu sangat penting. Penulis menyarankan agar memanfaatkan teknologi on-line (e-commerce) karena dengan strategi ini, semua produk jenis apapun dapat dipasarkan di seluruh Indonesia maupun dunia. Pemerintah daerah Muna tentu sudah saatnya mengakrabi kemajuan teknologi informasi yang menguasai dinamika bisnis saat ini.

Dengan demikian, desa-desa di pulau Muna dapat menjadi basis “ekonomi kreatif”, sehingga nantinya akan lahir-lahir wirausahawan-wirausahanan perdesaan berbasiskan teknologi informasi (rural technoperenurship). Mungkinkah hal ini dapat direalisasikan? Amat mungkin karena jika ada komitmen dan kemauan peluang tercapainya besar. Tinggalkan mabok-mabok dengan kameko, mari kita memanen duit “manfaat ekonomi” pohon enau!!!!.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *