Pulau Muna, Ribuan Lukisan Purba Penuhi Gua Karst vs. Wisata Berkelanjutan
Foto : Bupati Muna bersama pengunjung lain di depan Liangkobori, salah satu gua dengan ratusan lukisan purba, by Arman/MUNABANGKIT.COM

Pulau Muna, Ribuan Lukisan Purba Penuhi Gua Karst vs. Wisata Berkelanjutan

Keberadaan gua karst di Muna memiliki nilai ilmiah, sosial budaya, ekonomis, sejarah dan keindahannya. Gua merupakan sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui yang terbentuk puluhan ribu hingga jutaan tahun lamanya. Kerentanan ekosistem gua serta keindahan ribuan lukisan dan ekosistemnya sebagai atraksi utama wisata gua memberikan dilema dalam pengelolaannya. Mampukah wisata gua berjalan beriringan dengan konservasi gua?

Dari berbagai sumber yang dikumpulkan, sejumlah gua di Muna menyimpan ribuan lukisan yang sangat berharga dan bernilai tinggi yang menjelaskan kehidupan masa lalu. Seperti pada gua Metanduno terdapat 310 lukisan, Liang Kabori 130 lukisan, Lakolambu 60 lukisan, Toko 58 lukisan, Wabose 48 lukisan, La Tanggara tujuh lukisan, Pamisa 300 lukisan, Lasaba 35 lukisan, Pinda 50 lukisan dan liang Sugi Patani tujuh lukisan. Sementara gua tanpa lukisan, diantaranya liang Kantinale, Kawe, Kantaweri, Palola, Watotoru dan masih banyak lagi yang perlu diteliti.

Ribuan lukisan yang tersebar di sejumlah gua tersebut harus dilestarikan dan dijaga keasliannya. Kemampuan ornament gua merekam kondisi iklim masa lalu dan peristiwa geologis lainnya serta menjelaskan penyebaran fauna. Kestabilan suhu, kelembaban dan kegelapan di dalam gua menghasilkan suatu iklim mikro yang menciptakan ekosistem gua yang unik dari sisi morfologi dan fisiologi faunanya. Keindahan bentang alam karst yang banyak tersebar di Kabupaten Muna serta nilai penting gua-guanya, menjadikan wisata gua karst di Muna sangat prospektif.

Memanfaatkan sebuah gua untuk wisata dan pada saat yang bersamaan memastikan tidak terjadi deplesi sumberdaya gua ataupun perubahan iklim mikro yang merupakan penentu keunikan ekosistem gua, bukanlah tantangan yang mudah. Bagi seorang pengunjung, gua mungkin saja hanya sebuah lokasi untuk dinikmati keindahannya ataupun berpetualang, namun bagi seorang pengelola, gua harus dilihat sebagai suatu aset lingkungan yang punya nilai lebih.

Keberadaan pengunjung dalam gua dapat merubah aliran udara serta iklim mikro gua. Panas tubuh pengunjung dan pencahayaan dapat menyebabkan rusaknya speleotem dan meningkatkan korosifitas speleotem, batuan serta lukisan gua, meningkatkan pertumbuan lumut/alga, meningkatkan emisi CO2 dalam gua yang dampaknya dapat terakumulasi dan merusak sumberdaya gua secara permanen. Gua adalah sumberdaya yang tidak dapat pulih. Sekali rusak, tidak mungkin kembali.

Untuk menciptakan keseimbangan antara pengawetan sistem penyangga kehidupan dalam gua dan pemanfaatan sumberdaya gua karst yang berkelanjutan, membutuhkan arahan kebijakan terhadap pemanfaatan gua sesuai dengan kondisinya agar dicapai kelestarian pemanfaatan. Tulisan ini memberikan penjelasan dan pemahaman mengenai pentingnya menyeimbangkan kegiatan pemanfaatan gua menjadi objek wisata dan konservasi gua karst untuk pemanfaatan berkelanjutan.

Wisata vs Konservasi Gua

Menurut Gillieson dalam penelitiannya tahun 1996 menyimpulkan bahwa panas tubuh yang dikeluarkan oleh satu orang pengunjung dalam gua sekitar 82-116 watts, yang kurang lebih sama dengan panas yang dikeluarkan oleh satu lampu pijar. Oleh karena itu total energi yang dilepaskan oleh pengunjung dalam satu hari tidak dapat diabaikan dalam pengembangan wisata gua

Dampak yang dapat ditimbulkan adalah dapat menyebabkan kerusakan pada ornament gua, hal tersebut dijelaskan dalam artikel Rachmawati dan Sunkar di Jurnal Tourism and Karst Areas tahun 2013, yaitu (a) ukuran fauna gua yang cenderung kecil bahkan mikro sehingga mudah terinjak; (b) peningkatan jumlah air ke dalam gua dapat mengikis sedimen; (c) sebagian besar fauna gua sensitif terhadap cahaya dan kebisingan; (d) cahaya dari sorot lampu dan kamera merangsang pertumbuhan alga, lumut, pakis (lampenflora) dan dapat meningkatkn korosifitas speleotem dan lukisan gua; (f) tingkat endemisme fauna gua yang tinggi dan populasinya yang kecil sangat rentan terhadap kepunahan; (g) beberapa bentuk speleothem sangat rapuh, sehingga mudah patah, padahal pembentukannya bisa memakan waktu puluhan ribu bahkan ratusan tahun.

 Alternatif Solusi

Perubahan pada aliran udara dan kelembaban di dalam gua terutama akibat aktivitas manusia memiliki dampak penting terhadap pelestarian sumberdaya gua. Selain harus memperhatikan perlindungan sumberdayanya, pemanfaatan gua yang berkelanjutan juga harus memperhatikan keselamatan pengunjung.

Mengingat tingkat kerentanan gua yang berkorelasi positif dengan aktivitas manusia di dalamnya, maka pemanfaatan gua harus didasarkan atas pertimbangan tingkat kerentanan, kepentingan dan fungsinya dalam pengawetan sumberdaya gua, serta tujuan pengelolaan untuk dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Gua dengan sumberdaya yang menarik tentunya tetap dapat dikunjungi namun membutuhkan beberapa prinsip pengelolaan seperti perijinan, pembatasan jumlah dan lama kunjungan, penutupan akses untuk lorong-lorong tertentu serta kemungkinan penutupan pada waktu-waktu tertentu, terutama jika terdapat aliran sungai yang cukup deras dalam gua. Pertimbangan-petimbangan ini merupakan dasar dalam mengembangkan gua yang ada di Kabupaten Muna sebagai objek pariwisata yang berkelanjutan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *