Sekali Lagi tentang Desa Wisata (1) : Memoles “Permata” Desa
Foto : Goa Pindul, Gunungkidul Yogyakarta, by initempatwisata.com

Sekali Lagi tentang Desa Wisata (1) : Memoles “Permata” Desa

Kecenderungan manusia modern saat ini mulai menyukai sesuatu yang tradisional. Moderitas dengan segala kompleksitasnya rupanya bagi sebagian orang menyebabkan alienasi (keterasingan) bukan hanya pada kelompok/komunitasnya tetapi bahkan atas dirinya.  Penyakit modernitas ini mulai terjangkit kepada manusia-manusia modern yang biasanya identik dengan konsumerisme dan individualisme.  Saat keterasingan melanda, orang mulai mencari jati diri aslinya dan rindu akan hal-hal tradisonal dan lama.

Kecenderungan seperti itu juga melanda pada dunia pariwisata.  Kecenderungan pariwisata yang disukai saat ini adalah wisata desa, wisata budaya/tradisi dan green tourism.  Orang sudah mulai jenuh dengan pariwisata massal yang condong hanya menyajikan atraksi dan tontonan yang artifisial/buatan.  Jenis wisata massal seperti ini memang masih menjadi trend, tetapi lambat laun, ketika kejenuhan melanda, masyarakat akan kembali ke asalnya, mencari yang alami dan menenangkan hati dan pikiran.  Inilah yang terjadi dengan trend berkembangnya Desa wisata yang belakang bergerak cepat, bak kecambah di musim hujan.

Desa wisata menurut UU No.10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan adalah suatu daerah tujuan wisata, disebut pula sebagai destinasi pariwisata, yang mengintegrasikan daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku.  Kementerian Pariwisata membagi desa wisata menjadi tiga kategori, yaitu:

  1. Desa Wisata Embrio: desa yang mempunyai potensi wisata yang dapat dikembangkan menjadi desa wisata dan sudah mulai ada gerakan masyarakat/desa untuk mengelolanya menjadi desa wisata;
  2. Desa Wisata Berkembang: desa wisata embrio yang sudah dikelola oleh masyarakat dan pemerintah desa, sudah ada swadaya masyarakat/desa untuk pengelolaannya, sudah mulai melaksanakan promosi dan sudah ada wisatawan yang mulai tertarik untuk berkunjung; dan
  3. Desa Wisata Maju: desa wisata yang sudah berkembang dengan adanya kunjungan wisatawan secara kontinu dan dikelola secara profesional dengan terbentuknya forum pengelola, seperti Koperasi/ Badan Usaha Milik Desa (BUMdes), selanjutnya disebut BUMdes, serta sudah mampu melakukan promosi dan pemasaran dengan baik.

Untuk dapat dikategorikan sebagai desa wisata harus memenuhi beberapa syarat utama sebagai berikut :

  1. Memiliki persyaratan sebagai sebuah destinasi pariwisata sebagaimana diatur dalam UUNo. 10 tahun 2009;
  2. Kegiatan pariwisata berbasis pada sumber daya perdesaan;
  3. Kegiatan melibatkan partisipasi aktif wisatawan dalam kehidupan perdesaan;
  4. Lebih berorientasi pada kegiatan rekreasi luarruang (outdoor recreation);
  5. Sebesar-besarnya mendayagunakan sumber daya manusia lokal;
  6. Memberikan penghargaan besar pada budaya dan kearifan lokal;
  7. Menyediakan akses yang memadai baik akses menuju ke destinasi lain maupun internal di dalam desa wisata itu sendiri; dan
  8. Memiliki komunitas yang peduli pada pariwisata.

 

Komponen Desa Wisata

Sebuah desa dapat disebut sebagai desa wisata setidaknya memiliki beberapa komponen :

  • Atraksi wisata ; Atraksi disebut juga daya tarik wisata adalah keseluruhan kehidupan penduduk setempat beserta kondisi fisik dan geografis desa yang memungkinkan wisatawan berinteraksi secara langsung. Daya tarik wisata desa sebaiknya menampilkan keaslian dari kondisi desa yang memungkinkan wisatawan melakukan aktivitas-aktivitas bersama masyarakat.  Daya tarik wisata dapat berupa suasana pemandangan desa, kondisi sawah terasiring, maupun atraksi buatan seperti tari-tarian tradisional, kerajinan tangan, maupun aktivitas sosial ekonomi masyarakat lainnya.  Keunikan dan keaslian tradisi biasanya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
  • Akomodasi; akomodasi adalah fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh wisatawan untuk menginap. Akomodasi dapat berupa rumah-rumah penduduk yang dikemas sedemikian rupa menjadi sejenis home stay yang layak ditempati tamu. Konsep tempat tinggal tamu ini tentunya harus sejalan dengan kekhasan yang ada di daerah tersebut.
  • Fasilitas ; fasilitas adalah semua sumberdaya yang dimiliki desa dan menjadi kebutuhan wisatawan selama berada dan berkunjung di desa wisata. Fasilitas dapat memanfaatkan yang sudah ada maupun dibuat secara khusus sesuai kebutuhan. Fasilitas yang biasanya dibutuhkan seperti fasilitas makan dan minum, toilet, kamar mandi, areal parkir, musholla, gazebo untuk istirahat, tempat jajanan dan cinderamata, penyewaan alat yang dibutuhkan sesuai atraksi yang disediakan seperti peralatan camping, peralatan selam, kapal, maupun peralatan lainnya.  Fasilitas lain yang tidak kalah pentingnya adalah pusat informasi pengunjung yang berfungsi sebagai titik kumpul maupun penyediaan informasi terkait dengan desa wisata maupun informasi umum lainnya.

 

Bagi daerah-daerah perdesaan yang mempunyai keindahan alam, panorama pantai maupun sumberdaya yang unik lainnya, sebaiknya mulai memoles “permata” desanya menjadi destinasi wisata yang khas dan unik. Trend baru pariwisata ini semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat modern saat ini, apalagi dengan berkembangnya media sosial yang memungkinkan penyebaran informasi bisa bergerak dengan cepat. Budaya selfie tidak hanya mewabah di kelompok masyarakat awam bahkan pemimpin dunia dan negeri ini, gemar berselfie atau wefie. Kata Selfie ini menjadi trending topic dunia, seiring dengan perkembangan media sosial yang begitu massif. Medsos membuat seseorang maupun tempat dari tidak dikenal, menjadi terkenal.  Generasi muda saat ini, yang dikenal sebagai Millenial ini adalah para penggila travelling.  Dengan berbekal gawai yang smart (smartphone), mereka berburu lokasi-lokasi eksotik, unik dan indah untuk diunggah seraya menunjukkan eksistensinya.

Masalahnya adalah sejauhmana kesiapan masyarakat beserta pemerintah desa maupun pemerintah daerah memanfaatkan peluang ini.  Pemerintah terlihat serius dengan membangun sarana dan prasarana yang menghubungkan daerah wisata dengan dunia luar seperti bandara udara dan pelabuhan.  Kembali masalahnya adalah kesiapan masyarakat dan pemerintah daerah/desa, apakah memilih menjadi penonton atau tuan rumah ?.  Masyarakat harus mampu menjadikan desa wisata sebagai alternatif untuk menggerakkan perekonomian di desa dan pada gilirannya bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat perdesaan. Masyarakat desa harus menjadi subjek dan penikmat utama dari berkah sumber daya alam yang melimpah di perdesaan.  Kemakmuran dengan demikian dapat dimulai dari Desa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *