Budaya Pangan Lokal Muna

Budaya Pangan Lokal Muna

Secara kultural masyarakat Muna adalah masyarakat agraris-maritim. Orang Muna menggantungkan hidupnya pada pertanian dan perikanan. Sayangnya, pulau Muna bukan sebuah pulau yang subur yang mampu memproduksi tanaman pangan pokok seperti padi yang melimpah. Tapi pulau Muna hanya menghasilkan jenis pangan tertentu seperti jagung, singkong  dan padi endemik yang menghasilkan beras merah dengan rasa khas. Orang Muna menyebut jenis beras itu sebagai beras Muna. Namun, jenis umbi-umbian juga dihasilkan dari pulau ini seperti mafu, ghofa, ubi jalar dan berbagai jenis talas. Bahkan, pada masa sulit, orang Muna mengkonsumsi ubi gadung dengan proses pengolahan tertentu.  Beragamnya jenis pangan lokal khas Muna tersebut, melahirkan kuliner khas orang Muna yang bernilai kultural. Sayangnya, pangan lokal khas Muna dengan proses pengolahannya tersendiri belum mampu menghasilkan “trade mark” yang meluas dan menjadi keanekaragaman etno biologi dan etno geografis.

Pangan Lokal

Sebagaimana di Jawa Barat, kita mengenal talas Bogor, beras pandang wangi Cianjur, ubi Cilembu dari Sumedang.  Jenis pangan semacam ini memiliki cita rasa yang khas apabila tumbuh di daerah tersebut (etno geografis), seperti talas Bogor, beras pandang wangi dan ubi Cilembu (etno biologi). Apakah di Muna memiliki jenis pangan lokal semacam ini? Sebetulnya, jika pemerintah Muna mau mengkultivasi dan menangkarkan  jenis beras merah, maka Muna akan memiliki entitas pangan tersendiri. Sebab, beras merah Muna akan memiliki rasa yang enak dan aroma yang khas jika dibudidayakan di tanah Muna. Sayangnya, hingga kini pemerintah dan masyarakat tidak melakukan penangkaran bibit dan pemuliaan galur dari jenis padi ini. Penulis menduga padi ini nyaris punah karena jenis dan varietasnya semakin berkurang.  Padi jenis ini mestinya dilakukan riset yang serius sehingga dapat diperoleh galur murni yang benar-benar mengembalikan jenis beras merah endemik. Pembudidayaan beras ini dilakukan melalui model pertanian ladang sehingga tidak membutuhkan teknologi dan sarana pertanian yang banyak seperti jenis pupuk kimia. Sepengetahuan penulis, padi jenis ini bersifat organik karena tidak menggunakan pupuk kimia dalam proses budidayanya.

Pemerintah daerah mestinya harus turun tangan dan memberikan perhatian serius karena akan menjadi salah satu cara untuk mewujudkan kedaulatan pangan.  Perhatian yang mesti dilakukan pemerintah daerah adalah: pertama, mengidentifikasi masyarakat yang masih melakukan penangkaran dan penyimpanan bibit yang ditanam secara massal. Hal ini penting agar jenis padi ini tidak diambil atau dicuri oleh pihak asing karena itu merupakan  sumber keanekaragaman genetik dan spesies daerah Muna. Kedua, melakukan riset yang serius untuk pemuliaan galur beras merah Muna yang dapat dilakukan oleh Dinas Pertanian bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Pertanian (STIP) Wuna atau Universitas Haluleo Kendari.  Bahkan  jika ada putra Muna yang meriset jenis padi ini, pemerintah daerah dapat memberikan dukungan penuh. Ketiga, menetapkan beberapa kecamatan yang menjadi lokasi pembudidayaan dan penangkaran bibit beras merah Muna. Hal ini dilakukan dengan mencontoh Cianjur yang menetapkan beberapa daerah yang menjadi pusat pembudiayaan dan penangkaran padi pandang wangi.

Di sektor perikanan, ketersediaan pangan protein juga mengalami proses degradasi baik perikanan laut maupun perikanan darat. Perikanan laut di pulau Muna mulai mengalami degradasi seiring dengan hancurnya ekosistem pesisir sejak tahun 70-an sampai tahun 80-an, seperti  mangrove, lamun dan terumbu karang. Di samping itu, pengambilan pasir laut di pesisir pantau pulau Muna semenjak tahun 80-an untuk bahan bangunan dan jalan raya telah menghancurkan ekosistem pesisir dan pantai. Imbasnya, sumber daya ikan mengalami degradasi yang parah. Perikanan darat pun di pulau Muna mengalami degradasi akibat eksploitasi ekosistem hutan hujan tropis berupa hutan jati akibat tindakan ilegal logging yang berlangsung dalam tiga dekade terakhir. Artinya, keseimbangan bioekoregion pulau Muna sudah melampaui daya dukungnya akibat proses eksploitasi.  Padahal pulau Muna memiliki spesies ikan-ikan endemik yang berbeda dengan wilayah lain di Indonesia. Ingat, pulau Sulawesi dibatasi garis Wallace dan Weber. Garis Wallace sendiri merupakan garis khayal yang membatasi penyebaran fauna Oriental atau Asiatis. Secara geografis, garis Wallace terletak memanjang dari Selat Lombok hingga Selat Makassar, sehingga wilayah Indonesia yang merupakan tempat penyebaran fauna Asiatis adalah wilayah yang terletak di sebelah barat garis Wallace, yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali. Sedangkan, garis Weber adalah sebuah garis khayal pembatas antara dunia flora dan fauna di paparan sahul dan di bagian lebih barat Indonesia. Garis ini membujur dari utara ke selatan antara kepulauan Maluku dan Papua serta antara Nusa Tenggara Timur dengan Australia. Makanya wajar di pulau Muna ditemukan ikan endemik seperti ikan buta Diancistrus typhlops (Ophidiiformes, Bythitidae) (Ph. C. Rahmadi) yang ditemukan di gua-gua pulau Muna (Nielsen et al. 2009). Sayangnya, hingga saat ini perguruan tinggi di Muna dan Sultra masih jarang melakukan riset jenis-jenis ikan endemik di daratan dan perairan pulau Muna. Padahal, jika ditemukan satu jenis ikan khas bisa menjadi ikon daerah Muna yang bernilai ekonomis penting. Contohnya di Indonesia yang sudah terkenal adalah ikan Bilih Danau Singkarak di Sumatera Barat. Apakah di pulau Muna tidak memiliki jenis ikan-ikan sungai atau danau kecil (katibu bahasa Muna) yang khas dan memiliki cita rasa yang khas, apalagi jika dimasak dengan racikan kuliner khas Muna?

Pemerintah Muna harus mulai memilikirkan keunggulan-keunggulan pangan lokalitas ini agar memberikan manfaat secara ekonomi dan ekologi.  Karena, adanya penangkaran, pembudidayaan dan konservasi secara in situ maupun ex situ, akan meningkatkan kelimpahan keanekaragaman hayati genetik dan spesies ikan tersebut. Mengapa? Oleh karena ini juga memiliki keterkaitan dengan budaya kuliner.

Kuliner

Kekhasan sumber pangan lokal di Muna melahirkan variasi pengolahan pangan yang unik. Misalnya, beras merah Muna bisa dibuat makanan yang dikenal lapa-lapa yaitu beras yang dimasukan dalam daun kelapa yang masih muda dan dimasak dengan proses tertentu. Lalu beras merah ini dibuat juga teknik masak tertentu yang disebut kantoromafu. Jagung  dimasak dengan menggunakan kapur dan setelah itu diproses dengan cara tertentu dan kemudian dikonsumsi. Atau, jagung ditumbuk lalu dibungkus dengan daun jagung dicampur kacang merah yang disebut kambewe. Ubi kayu dikeringkan dalam jangka waktu lama sehingga dapat dimasak dan dinamakan kabuto atau ditumbuk lalu dikukus yang disebut hogo-hogo. Ragam makanan tersebut seharusnya dapat ditemukan pada sentra kuliner Muna di pinggir laut kota Raha yang saat ini sedang ditata oleh pemerintah daerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *