Blusukan Ala Rusman Emba

Blusukan Ala Rusman Emba

Istilah “Blusukan” dikenal luas di kalangan publik atas popularitas Jokowi dalam memimpin daerah, baik saat menjadi Walikota Solo maupun Gubernur DKI Jakarta. Gaya Blusukan ini pula yang memikat rakyat untuk memilih Jokowi menjadi Presiden ke-7 RI. Gaya Blusukan sebetulnya bukan hal baru, karena dengan pola yang sama, sejarah menceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khattab adalah pemimpin yang dikenal sering keluar masuk kampung, menyapa rakyatnya dengan gaya-gaya menyamar menjadi rakyat. Gaya ini yang menjadikan khalifah Umar bin Khattab, mengetahui kondisi rakyatnya, permasalahan dan kebutuhan rakyatnya. Sikap ini pula yang menjadikan seorang pemimpinan mengetahui secara langsung bagaimana sikap dan respon rakyat terhadap pemimpinnya. Gaya blusukan harusnya bukan sekedar pencitraan, tapi merupakan buah dari pemikiran panjang seorang pemimpin untuk berempati kepada kehidupan rakyatnya. Blusukan, mengidentikkan seorang pemimpin dikenal sebagai pribadi yang merakyat.

Dalam pola kepemimpinan di Indonesia, selain Jokowi, terdapat beberapa kepala daerah yang dikenal gemar blusukan. Sebut saja, Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), Yoyok (Bupati Batang) dan beberapa contoh kepala daerah lainnya. Blusukan akhirnya menjadi semacam gaya berpolitik dan gaya memerintah dalam peta perpolitikan nasional. Gaya ini pula, sekilas terlihat dipraktekkan oleh Rusman Emba, sebagai Bupati Muna yang baru terpilih untuk memimpin Kabupaten Muna sampai 2021.

Rusman Emba, mungkin dapat disebut sebagai Bupati yang kesekian mempraktekkan gaya blusukan dalam menyelami kondisi masyarakatnya. Bupati yang dikenal berpenampilan sederhana, seringkali muncul di tengah-tengah masyarakat tanpa pengawalan dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Karena sedikitnya akses informasi, kadangkala tidak semua masyarakat yang ditemuinya mampu mengenalinya dengan baik. Tapi bagi Rusman, pengenalan rakyat atas dirinya tidak terlalu penting, namun permasalahan dan apa yang dialami oleh rakyat, dapat dikenali dan direspon langsung oleh Rusman. Apa yang dilakukan Rusman, terlihat genuine dan asli sikap seorang pemimpin, tidak sekedar pencitraan. Buktinya, tidak banyak publikasi yang menunjukkan perilaku Bupati Muna yang sedang blusukan ini. Seperti yang pernah terlihat pada kunjungan di masjid Al Munajat yang sedang direnovasi, tiba-tiba Rusman muncul dengan pakaian t-shirt dan jelana jeans –seperti halnya anak muda- di tengah-tengah masyarakat yang sedang bekerja. Masyarakat yang tadinya tidak mengenalnya, bersikap biasa-biasa saja, namun, setelah ada yang membisikkan bahwa yang ditemuinya adalah Bupati Muna yang baru, spontan masyarakat sangat antusias dan berkomunikasi langsung dengan gaya informal. Gaya informal seperti ini membangun suasana seakan tanpa sekat dan batas. Masyarakat menyampaikan uneg-uneg dan harapannya terhadap pemimpin baru Muna ini. Tentu harapan masyarakat sangat besar akan adanya perbaikan kehidupan khususnya tingkat kesejahteraan masyarakat Muna yang akan datang.

Dalam kesempatan yang lain, Rusman seringkali mengajak timnya untuk menelusuri tempat-tempat wisata yang ada di Muna untuk mengenal kondisi saat ini. Seperti yang dilakukannya saat mengunjungi lokasi wisata Liangkobori, Rusman mengenal langsung kondisi tempat wisata tersebut, keterbatasan-keterbatasannya serta masukan bagi upaya pengembangannya.

Dengan pola dan gaya-gaya informal tersebut, Rusman dapat mengenal daerahnya dengan lebih baik karena melihatnya secara langsung, tidak sekedar berdasarkan laporan-laporan yang terkadang selalu bernilai positif. Dari interaksi langsung tersebut, Rusman mengetahui apa yang harus dilakukan dan direkomendasikan kepada SKPD atau birokrasi Pemda Muna untuk mengembangkan dan memperbaiki kawasan tersebut. Upaya kerja keras dengan berinteraksi langsung, mengeleminir dispute dan mis-informasi atas sebuah kondisi kawasan sehingga mengakibatkan intervensi kebijakan yang tidak tepat sasaran. Cara Blusukan, jika dilakukan tanpa semata membangun citra merakyat, akan menjadi bukti nyata cinta dan pedulinya seorang pemimpin kepada rakyat dan wilayahnya. Melihat pola dan gaya blusukan Rusman Emba, meskipun baru menjabat kurang dari 100 hari ini, membangun sebuah optimisme dan harapan baru akan kebangkitan Kabupaten Muna ke arah yang lebih baik. Geliat aktif dari kebijakan dan program yang ada, akan menumbuhkan kepercayaan publik atas Rusman dan birokrasinya, sehingga diharapkan dapat memicu partisipasi publik untuk ikut serta mensukseskan program-program yang sudah dicanangkan Pemda Muna. Kepercayaan publik adalah jenis modal sosial yang paling penting dalam membangun sebuah komunitas. Pada era modern dan kapitalistik seperti sekarang, modal sosial ini terus mengalami penggerusan dan erosi. Padahal pemerintahan yang mampu memanfaatkan modal sosial yang tumbuh dan melekat pada masyarakatnya, akan lebih mudah membangun dan mendapatkan simpati rakyat. Putnam (1993) meyakini bahwa penampilan organisasi seperti kepercayaan, jaringan dan norma-norma dapat memperbaiki efisiensi masyarakat dengan menfasilitasi adanya koordinasi dan kerjasama bagi keuntungan bersama. Demikian halnya Fukuyama (1995) yang menyatakan bahwa modal sosial adalah kemampuan yang timbul dari adanya kepercayaan (trust) dalam sebuah komunitas.

Apabila pertumbuhan modal sosial mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah maka akan sangat banyak sekali manfaat yang akan diperoleh. Misalkan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses-proses demokrasi dan pembangunan, menguatnya perasaan bangga, rasa memiliki sebagai sebuah masyarakat, menurunnya tingkat kejahatan, terjadinya tukar menukar gagasan dan nilai di dalam keragaman masyarakat yang plural, menguatnya akses masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang ada disekitarnya, dan banyak hal positif lain. Dengan kata lain modal sosial merupakan salah satu unsur penting dalam pembangunan suatu negara. Maka sudah saatnya pemerintah melalui setiap aparatur maupun kebijakannya senantiasa berusaha untuk menciptakan kondisi yang dapat mendukung tumbuh kembangnya modal sosial dalam masyarakat.

Tentunya, Rusman Emba dan Malik Ditu tidak bisa bekerja sendirian, mereka membutuhkan dukungan penuh dari rakyat dan birokrasinya serta stakeholder Muna lainnya untuk bersama-sama membangun Muna yang kuat, mandiri dan bermartabat. Mengingat jangka waktu memimpinnya masih seumur jagung, tentu belum terlihat secara nyata dampak dari gaya memimpinnya ini. Setidaknya, apa yang sudah dilakukannya sejak dilantik menjadi Bupati Muna sampai saat ini, memberi harapan bagus bagi pembangunan Muna ke depan yang lebih baik. Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *