Muna dalam Setetes Tinta Couvreur (Bag. 3) “Berdirinya Kerajaan Muna dan Sistem Pemerintahannya”
Foto : wisata-muna.blogspot.com

Muna dalam Setetes Tinta Couvreur (Bag. 3) “Berdirinya Kerajaan Muna dan Sistem Pemerintahannya”

Catatan Couvreur tentang sejarah Kerajaan Muna dari era pembentukan sampai tata kelola pemerintahannya sangat unik dan menarik untuk diulas lebih mendalam oleh sejarawan kontemporer. Pada bab 2, Couvreur membahas secara lugas dan mendalam sejarah pembentukan masyarakat Muna, evolusi sistem pemerintahan, raja-raja yang memerintah di Muna, hingga konflik politik  yang berkembang seputar perkembangan sejarah Muna. Tulisan saya ini hanya mengulas pembentukan Kerajaan Muna dan perkembangan tata kelola pemerintahan. Adapun Catatan tentang para Penguasa Muna dan konflik-konflik politik yang juga dibahas dalam Bab 2 bukunya, akan diulas pada catatan lain.

Couvreur memulai catatanya di bab 2 dengan mengetengahkan dua perspektif cikal bakal pembentukan Kerajaan Muna. Pertama, ia mulai dengan pemukiman awal di kawasan Wamelai dan Tongkuno. Terjadi dua kali perluasan pemukiman, yakni terbentuknya pemukiman baru Barangka, Wapepi, dan Lindo. Pada era kepemimpinan Sugi La Ende didirikan empat pemukiman baru lagi yakni Kaura, Lembo, Kancitala dan Ondoke. Kepemimpinan Sugi La Ende dilanjutkan kembali oleh putranya Sugi Manuru yang dalam catatan Couvreu ini disebut memiliki tiga istri dan empat belas anak. Keturunan Sugi Manuru inilah yang mengalirkan sejarah Kerajaan Muna di masa depan.

Pada masa Sugi Manuru tidak ada perubahan radikal dalam kehidupan sosial-politik di Muna, kemudian pada era kepemimpinan anaknya La Kilaponto. La Kilaponto diangkat oleh Kamokulo Tongkuno sebagai omputo atau ‘Tuan Kita’ dalam hal ini dia menjadi Raja Muna. Pada masa menjadi omputo Muna, ia meningkatkan kemuliaan jabatannya melalui pemekaran wilayah dan kepemimpinan wilayah-wilayah pemerintahannya. La Kilaponto memanggil anggota dewan yang terdiri dari keempat kamokula dan keempat mino yang diadakan di Lambubalano. Dalam rapat ini ditunjuk 28 kino (dalam bahasa Buton lakina). Sejak saat itu, Muna terdiri atas 28 wilayah mino di luar wilayah kekuasaan keempat kamokula dan keempat mino. Jadi, semuanya ada 36 resor. Pada masa ini juga, ‘kota’ Muna dibentengi dengan pagar tembok sampai kemudian ia hijrah ke Buton dan kehilangan pengaruhnya di Kerajaan Muna.

Pada narasi lanjutannya, Couvreur menyebutkan bahwa La Kilaponto juga menjadi Raja di Wolio (Buton) dan Laiwui (Konawe) dengan argumentasi dan mitos-mitos ala masyarakat tradisional. Konon La Kilaponto berhasil menjadi pemenang sayembara Raja Buton untuk mengalahkan Bajak Laut Tobelo yang bernama La Bolontio dengan imbalan diangkat menjadi Lakina Wolio atau Raja Buton.

La Kilaponto di gantikan oleh Saudaranya La Pusaso yang melanjutkan pembangunan tembok kota sampai rampung. Di masa pemerintahannya juga terjadi pemusatan pemukiman di wilayah kota baru, dan hanya tiga kino di wilayah pantai yang tetap menghuni pemukiman lamanya dengan tugas menghalau serangan luar dari arah pantai yakni kino Lohia, Wasolangka, dan Lahontohe.

Pengganti La Pusaso, yakni saudaranya Rimpeisomba tidak banyak melakukan perubahan dalam sistem pemerintahan Kerajaan Muna. Putra Rimpeisomba yang bernama La Titakono yang melakukan perubahan drastis di jamannya. Pertama, dia mengangkat seorang menteri besar (dalam bahasa Muna bhonto bhalano). Bhonto bhalano yang pertama diangkat adalah sepupunya, yang bernama La Marati.

Kedua, melantik Sarano Wuna (Sara Muna) sejenis lembaga syura dalam sistem kerajaan dan  terbentuklah dewan anggota Sara Muna yang mulanya terdiri atas enam anggota, yaitu lakina Muna, bhonto bhalano dan keempat ghoerano. Lembaga ini kemudian diperluas di bawah pemerintahan pengganti Titakono, La Ode Saadudini, dengan penambahan tiga anggota, yaitu seorang mintarano bhitara (sejenis jabatan sekertaris) dan dua kapitalao (‘kapitan laut’). Hal ini tetap berlaku hingga pembubaran Sara Muna pada tahun 1910.

Ketiga, pemekaran wilayah dengan adanya penambahan tiga kampong baru. Daerah-daerah pemekaran baru ini umumnya diperintah oleh anak-anak dari para ghoerano. Keempat, konstruksi struktur social kedalam golongan-golongan masyarakat dengan hak-hak, kewajiban, cara berpakaian dan lain-lain ditentukan.

Selamat menikmati ulasan ini dalam kehangatan secangkir kopi dan meresapi pesan-pesan terpendam dibalik narasi sejarah yang dituturkan. Satu pelajaran penting yang dapat diambil, yakni demokrasi Muna telah jauh berkembang sebelum datangnya bangsa eropa di tanah air dengan adanya lembaga Sara Muna yang mengontrol sistem monarkhi seorang raja. Bisa jadi berkembangnya sistem monarki-parlementer di eropa yang menggantikan sistem monarki absolut terinspirasi oleh tata kelola pemerintahan di nusantara, seperti yang dipraktekan oleh Kerajaan Muna.

Ulasan berikutnya akan mengetengahkan riwayat para penguasa Muna dari masa ke masa.

Baca Juga :

Muna dalam Setetes Tinta Couvreur (Bag. 1)

Muna dalam Setetes Tinta Couvreur (Bag. 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *