Menggalakkan Agroekologi di Muna untuk Kedaulatan Pangan

Menggalakkan Agroekologi di Muna untuk Kedaulatan Pangan

Model pertanian agroekologi, sebetulnya bukanlah hal baru dalam bidang pertanian. Mungkin orang akan terperangah mengapa rakyat Kuba bisa hidup aman dan tidak mengalami kelaparan akibat embargo PBB selama lebih 40-an tahun semenjak tahun 1960-an. Mengapa mereka bisa menyediakan pangan sehat dan tidak mengalami kelaparan itu? Jawabnya adalah mereka menerapkan sistem pertanian agroekologi. Imbasnya angka harapan hidup rakyat Kuba sangat tinggi dan jarang terkena penyakit karena pertanian yang mereka terapkan tidak menggunakan pupuk kimia, sapi tidak menggunakan pakan konsetrat dan organisasi petani berbasis koperasi dijalankan secara konsisten.Bahkan, di dunia ini infrastruktur kesehatannya terbaik di dunia. Dokter-dokter terbaik di dunia sangat terkenal berasal dari Kuba.

Menariknya lagi, Kuba ini adalah sebuah pulau dan pemerintahannya beridiologi komunis. Tentu kita tidak perlu mencontoh ideologi yang dianutnya. Tetapi, cara mereka mengelola pertaniannya dengan sistem agroekologi patut ditiru dan kalau perlu pergi belajar di sana. Mengapa? Karena, mereka memiliki pengetahuan tentang cara membuat pupuk organik baik yang bersifat padat maupun cair, mengetahui jenis-jenis bio-pestisida yang digunakan untuk memberantas hama dan jenis rumput-rumput yang jadi bahan pakan ternak.  Serta, yang tak kalah penting adalah bagaimana rakyat bisa mengembangkan benih unggul lokal yang dilakukan persilangan secara alamiah dan bukan benih hasil rekayasa genetik yang bisa menimbulkan dampak bagi kesehatan manusia. Jadi, rakyat kuba bisa membangun bank benih sendiri. Dalam model agroekologi ini juga memiliki keunikan dalam mengolah lahan sehingga produktivitasnnya tinggi.

Apa itu sebetulnya agroekologi? Apa keunggulannya? Dan apakah sudah pernah ada buktinya di Indonesia? Menurut Prof. Dr. Dwi Andreas Santosa, Guru Besar IPB Bogor (2017), Agroekologi adalah model pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan, berpusat di komunitas dan keluarga (“Inverse size yield relationship”, Ünal, 2006, Univ of Massachusetts, Amherst) yang mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Model pertanian agroekologi ini sudah dijalankan oleh Prof. Andreas bersama petani-petani kecil di 13 Kabupaten di pulau Jawa melalui Koperasi Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (Koperasi-AB2TI). Di sini saya menyajikan beberapa data perbedan hasil antara pertanian agroekologi dengan (pupuk organik) dengan petani sekitar yang tidak menerapkan pertaian konvensional. Kelihatan hasil produksinya.

Bagaimana hasilnya? Amat mencengangkan. Prof. Andreas menyajikan data berikut.

No Produktivitas

IF8 (GKP)

Petani Sekitar

(GKP)

Beda

(%)

Tanggal

Panen

Lokasi
1. 10,2 ton/ha 7,9 ton/ha 29,1 23/03/2015 Kec. Ngoronggot,  Ngajuk Jatim
2. 10,3 ton/ha 6,5 ton/ha 58,5 15/05/2015 Madedadi, Lamongan Jatim
3. 9,8 ton/ha 7,2 ton/ha 36,1 02/2015 Kedunggaring Lamongan
4. 8,7 ton.ha 7,5 ton/ha 16,0 24/04/2015 Bululawang, Malang
5. 9,7 ton/ha 6,8 ton/ha 42,6 09/04/2015 Blitar
6. 12,5 ton/ha 9 ton/ha 38,9 20/04/2015 Durenan, Trenggalek
7. 9,2 ton/ha 7,4 ton/ha 24,3 Feb/2016 Pogalan, Trenggalek
8. 6,4 ton/ha 5 ton/ha 28 12/05/2015 Purwosari, Pasuruan
9. 10,9 ton/ha 7,8 ton/ha 39,7 25/09/2015 Purwosari, Pasuruan
10. 8,4 ton/ha 5 ton/ha 68 25/09/2015 Purwosari, Pasuruan

Sumber: Santosa (2017)

Apakah model pertanian agroekologi ini bisa diterapkan di Muna? Sangat bisa, karena meskipun di Muna bukan daerah pertanian padi, tetapi jenis tanaman pangan umbi-umbian, kacang-kacangan, dan sayuran serta hortukultura bisa diterapkan dengan model Agroekologi. Bahkan bisa sekalian menjadi suatu kawasan wisata agroekologi/agroekosistem yang di dalamnya terintegrasi dengan sistem peternakan, perikanan, dan pertanian tanaman pangan (pertanian polikultur/permakultur), sehingga sumber daya lahan makin subur dan ekologi terjamin.

Secara historis, sesungguhnya rakyat Muna sudah menerapkan model pertanian Agroekologi ini di masa silam, karena rakyat Muna dahulu tidak menggunakan pupuk kimia. Namun, yang sekarang mesti dilakukan memberikan pengetahuan kepada petani tentangan cara pengolahan lahan, cara memproduksi pupuk organik secara mandiri (padat maupun cair), penngaturan pola tanam, pengetahuan bio-pertisida, penanganan pasca panen, pemasaran produk organik dan jaringan pasarnya serta cara berorganisasi melalui koperasi.

Inilah hal yang mesti dilakukan jika Muna mau mengembangkan model pertanian agroekologi dan jadi branding di dunia internasional. Dan, jika berhasil maka, bisa saja Bupati Muna berpidato di Forum FAO, PBB tentang Muna sebagai Kabupaten Berbasis Agroekologi. Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *